I am trying to share my experiences to you. all are derived from my imagination; the wildest one... Please enjoy your reading and for further contact please send me to: lounge_3773@yahoo.com or send me sms to (62) 081 7957 6901. BestRegards, CJ Areef

Thursday, September 16, 2010

(KIAI) KOLODETE

Sebuah Culture Identity yang Harus Mengalami Anakronisme di Dalam Mitos dan Kepercayaan Komunitas Dieng, Wonosobo, Banjarnegara, dan Temanggung.

Oleh: Arief Dermawan, S.S.


Kolodete sebagai Identity Culture
Identity Culture (meminjam istilah yang dikemukakan oleh Prof. Tjetjep Rehendi Rohidi) pasti diperlukan oleh setiap komunitas karena komunitas tersebut dituntut harus memiliki satu sosok yang “dimitoskan” atau bahkan yang dianggap sebagai karakter super sakral. Kebutuhan yang sangat mendesak tersebut seringkali mengambil karakter dalam sejarah nyata umat manusia yang sayangnya justru lebih banyak mencerabut nilai-nilai asli dari karakter yang dikultuskan; alih-alih sebagai proses sastrawi yang memang dengan penuh kesadaran memoles alur sedemikian rupa, ia justru cenderung merupakan penulisan kasar sebuah cerita berdasarkan folklore yang berkembang di masyarakat tanpa dilandasi keilmuan yang memadai sehingga sebagai akibatnya, terjadi anakronisme dan pencitraan ngawur yang kemudian disepakati oleh masyarakat secara luas lalu disahkan oleh otoritas yang berkuasa, klop sudah penderitaan sejarah nyata umat manusia.

Pemelencengan pencitraan seperti ini tidak lah semata dialami oleh tokoh riil semisal Bung Karno, Nagabonar, maupun tokoh sejarah kerajaan semisal Mas Karebet, tetapi juga menerpa mitos dan legenda simbolis semisal Kolodete dan Prabu Anglingdarmo. Sebagai sebuah culture identity Kolodete oleh masyarakat pendukung kebudayaannya (Dieng - saya pisahkan Dieng sebagai entitas budaya tersendiri dari kabupatennya, Wonosobo, Banjarnegara, dan bahkan Temanggung – “daerah yang terlupakan”) dicitrakan sebagai sosok pelindung (dalam arti harfiah) anak-anak berambut gembel serta wilayah Dieng, Wonosobo, dan Banjarnegara pada umumnya. Sosok tersebut dicitrakan pula sebagai guru dua orang sesepuh lain yaitu Kiai Karim yang berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik yang menguasai sekitar kota Wonosobo sekarang ini. Bahkan seperti halnya mitos-mitos penguasa daerah yang ada di tanah Jawa ini, ia juga digambarkan sebagai mempelai dari Ratu Kidul yang setiap tahunnya akan ikut menari di pertunjukan Lengger (atau istilah aslinya adalah Legger) di atas panggung yang mengambang di tengah-tengah Telogo Balekambang.

Anakronisme Perwaktuan dan Karakterisasi Kiai Kolodete, Kiai Karim, dan Kiai Walik
Mitos Kiai Kolodete diceritakan dimulai pada awal abad ke-17 (dalam Sukanto CR, Otto, 2004). Pada saat itu tiga pengelana, Kiai Kolodete, Kiai Karim, dan Kiai Walik melakukan babad alas di daerah Wonosobo dan sekitarnya. Proses tersebut sedemikian heroiknya sehingga disebut-sebut daerah yang tadinya dianggap sebagai wilayah yang jalmo moro jalmo mati kembali terbuka untuk peradaban umat manusia. Kisah kemudian berkembang, Kiai Kolodete lalu dianggap sebagai sesepuh dan juga guru dari dua kiai lainnya. Bahkan, Kiai Kolodete mendapatkan porsi pencitraan yang paling bombastis dan digambarkan sebagai danyang pengayom Wonosobo dan Banjarnegara yang keberadaannya selalu menitis pada anak-anak berambut gembel yang terlahir di dataran tinggi Dieng. Tentu saja kisah Kiai Kolodete semakin banyak mendapat polesan seiring dengan semakin takzimnya para pendukung kebudayaan tersebut. Lalu bagaimana sejarah Kiai “Simbolis” Kolodete yang sebenarnya?

Ke arah Timur, tidak jauh dari Wonosobo, di daerah yang memiliki ciri geografis yang mirip dengan Dieng, yaitu di daerah Rowo Pening, telah jamak ditengarai sebuah cerita legenda tentang seekor naga teraniaya bernama Baruklinting yang kemudian berubah menjadi anak kecil yang melakukan pembalasan atas kekejaman penduduk desa atas dirinya. Sebenarnya siapakah bocah itu? Apakah naga itu? Dan apa yang terjadi di daerah itu? Sehingga si bocah harus meluluh-lantakkannya. Sebelum menjawab pertanyaan itu saya akan menyajikan terlebih dahulu pembahasan penting yang menjadi sentral asal-muasal semua kisah heroik tersebut muncul.

Kerajaan Wangsa Sanjaya (Mataram Kuno) yang berkuasa pada sekitar abad VII M yang secara umum dipercayai memiliki daerah kekuasaan di sekitar Magelang dan Yogyakarta sebenarnya berkedudukan di satu daerah yang disebuat sebagai Taman Agung atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Temanggung (Mulyono, Prof. DR. Slamet dalam Sriwijaya). Para Rakai (bangsawan) tentu saja menetap di sana dan karena selama ini yang sering ditampilkan dan diekspos adalah kehidupan para rakai tersebut maka keberadaan kaum sudra hanya mendapat satu porsi kecil belaka. Para Rakai Wangsa Sanjaya menganut kepercayaan Hindu dan masyarakatnya kebanyakan masih menganut kepercayaan animisme. Seiring perkembangan jaman, kemudian masuk kepercayaan baru yang dibawa melalui pesisir utara Jawa. Kepercayaan itu tak lain adalah agama Buddha.

Masuknya agama Buddha ke dalam jantung pemerintahan wangsa Sanjaya membuat kerajaan tersebut terpecah dua, wangsa Sanjaya penganut Hindu terdesak ke daerah Wonosobo dan mendirikan kerajaannya di sana (kerajaan Kalingga) dan kemudian membangun tempat peribadatan di puncak Dieng. Wangsa Sanjaya yang memluk kepercayaan Buddha membangun percandian di daerah Magelang. Kedua daerah percandian tersebut, Dieng dan Magelang, memiliki kesamaan unsur religi yang kuat. Telah diketahui secara umum, konsep tempat persemayaman para dewa bagi kaum Hindu dan Buddha adalah sumber mata air dan pegunungan. Itulah mengapa mereka memilih dua lokasi yang berbeda tersebut sebagai kompleks percandiannya.

Pada pemerintahan wangsa Sanjaya sebelum masuknya agama Buddha, di daerah Rowo Pening dikenal seorang tokoh sudra (baca: preman) yang sering membuat onar. Dia dikenal sebagai Sapulete, seorang tokoh penganut animisme. Sepak terjangnya sangat menyengsarakan warga daerah tersebut. Pada saat Temanggung telah dikuasai oleh pemerintahan pemeluk Buddha, Sapulete disingkirkan dan rupanya sebelum kepergiannya dari wilayah yang selama ini menjadi daerah kekuasannya, ia terlebih dahulu menghancurkan daerah tersebut. Untuk itulah di kemudian hari ia digambarkan sebagai seekor naga yang kemudian dibunuh warga desa dan menjelma menjadi seorang bocah untuk melaksanakan pembalasan dendamnya. Sapulete kemudian menyingkir mengikuti wangsa Syailendara pemeluk Hindu ke daerah Wonosobo. Dan karena reputasi dan kesetiannya terhadap pemerintahan Hindu, ia diberi wewenang untuk menjaga wilayah peribadatan di pegunungan Dieng, yang nota bene cukup jauh dari pusat kerajaan yang letaknya di daerah pasar Wonosobo saat ini. Karena kesetiaannya terhadap pemerintahan Hindu itu pula maka nama baiknya dipulihkan dan hak-haknya sebagai kaum grass-root diakui sehingga di kemudian hari ia mendapatkan predikat Kiai . Oleh pemerintahan Sanna (raja pertama Kalingga) namanya diubah menjadi Kiai Kolodete, kolo berarti waktu (yang oleh musuhnya diartikan sebagai Butho/ raksasa jahat) dan Dete berarti luang (yang berasal dari kata Deitya yang berarti Selasa (Seloso= selo – iso)). Secara harfiah kata Kolodete berarti sang Penjaga.

Dalam hal ini posisi perubahan Sapulete ke Kolodete merupakan simbolisasi perubahan status yang disebabkan bukan oleh perubahan moralitas namun lebih pada upah dari kesetiaan sehingga status rehabilitasi nama kemudian diberikan. Secara turun-temurun, keberadaan Kolodete mendapatkan penghormatan yang layak sebagai sesepuh pembabat hutan Dieng. Bahkan hingga kini keberadaannya yang telah dijadikan sebagai culture identity menjadi tersamarkan oleh predikat kesuperannya. Hubungannya dengan bocah rambut gembel? Sederhana sekali, karakter fisik orang-orang jawa kuno 10 abad silam terutama yang berasal dari kaum sudra adalah kecil, keling (hitam) dan gembel! Ritual ruwatan tersebut sebenarnya adalah upaya untuk menghormati leluhur mereka yang juga berambut gembel, dan mitos yang menyatakan bahwa Kiai Kolodete hingga kini menitis ke anak-anak gembel tersebut karena ia mewariskan tugas yang belum tuntas sebenarnya benar adanya karena sebagai seorang Penjaga, tugas tersebut tidak akan pernah lekang dimakan usia dan harus selalu diteruskan kepada anak cucu penerusnya dan sebagai symbol, tentu saja para bocal berambut gembel tersebut.

Lalu bagaimana pula dengan Kiai Karim dan Kiai Walik? Meskipun mereka memiliki persamaan gelar Kiai namun esensinya jelas jauh berbeda. Kiai dalam konteks ini merupakan predikat seorang ulama Islam. Dari sini lah dapat diketahui sebenarnya terjadi anakronisme (penggambungan dua atau lebih tokoh atau cerita yang berlatar waktu yang berbeda ke dalam satu bingkai cerita yang dibuat memiliki satu masa) dan anakronisme telah umum dikenal pada kisah-kisah legenda di dunia ini. Dalam hal ini, persamaan visi dan misi Kiai Kolodete dalam menjaga kelestarian alam Wonosobo dan Dieng lah yang dapat dihidupkan ke dalam satu balutan cerita. Karena kekuasaan kerajaan Hindu bergeser ke budaya Islam maka posisi Kiai Kolodete yang seorang penganut animisme “di-Islamkan” dan ditarik ke abad 17 M, hal ini penting sekali karena pemerintahan Islam saat itu sedang giat-giatnya melakukan syiar ke seantero tanah Jawa ini. Itulah kenapa pula berbagai situs peninggalan hegemoni Hindu dan ritus-ritus animisme di dataran tinggi Dieng permaknaannya dimodifikasi ke dalam permaknaan tauhid keislaman seperti misal, Tuk Bimo lukar melambangkan umat manusia yang harus melukar nafsunya dan Goa Semar yang secara semiologis dimaknakan sebagai “Ngguguo marang Gusti, aja Samar” (Turuti perintah Allah SWT jangan ragu-ragu) (Sukatno CR, Otto. 2004).

Demikian pembahasan sekilas dari fenomena kebudayaan yang ada di tanah Jawa ini, semoga menjadi satu khasanah pemikiran bagi kita semua. Sekian.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home