I am trying to share my experiences to you. all are derived from my imagination; the wildest one... Please enjoy your reading and for further contact please send me to: lounge_3773@yahoo.com or send me sms to (62) 081 7957 6901. BestRegards, CJ Areef

Thursday, September 16, 2010

(KIAI) KOLODETE

Sebuah Culture Identity yang Harus Mengalami Anakronisme di Dalam Mitos dan Kepercayaan Komunitas Dieng, Wonosobo, Banjarnegara, dan Temanggung.

Oleh: Arief Dermawan, S.S.


Kolodete sebagai Identity Culture
Identity Culture (meminjam istilah yang dikemukakan oleh Prof. Tjetjep Rehendi Rohidi) pasti diperlukan oleh setiap komunitas karena komunitas tersebut dituntut harus memiliki satu sosok yang “dimitoskan” atau bahkan yang dianggap sebagai karakter super sakral. Kebutuhan yang sangat mendesak tersebut seringkali mengambil karakter dalam sejarah nyata umat manusia yang sayangnya justru lebih banyak mencerabut nilai-nilai asli dari karakter yang dikultuskan; alih-alih sebagai proses sastrawi yang memang dengan penuh kesadaran memoles alur sedemikian rupa, ia justru cenderung merupakan penulisan kasar sebuah cerita berdasarkan folklore yang berkembang di masyarakat tanpa dilandasi keilmuan yang memadai sehingga sebagai akibatnya, terjadi anakronisme dan pencitraan ngawur yang kemudian disepakati oleh masyarakat secara luas lalu disahkan oleh otoritas yang berkuasa, klop sudah penderitaan sejarah nyata umat manusia.

Pemelencengan pencitraan seperti ini tidak lah semata dialami oleh tokoh riil semisal Bung Karno, Nagabonar, maupun tokoh sejarah kerajaan semisal Mas Karebet, tetapi juga menerpa mitos dan legenda simbolis semisal Kolodete dan Prabu Anglingdarmo. Sebagai sebuah culture identity Kolodete oleh masyarakat pendukung kebudayaannya (Dieng - saya pisahkan Dieng sebagai entitas budaya tersendiri dari kabupatennya, Wonosobo, Banjarnegara, dan bahkan Temanggung – “daerah yang terlupakan”) dicitrakan sebagai sosok pelindung (dalam arti harfiah) anak-anak berambut gembel serta wilayah Dieng, Wonosobo, dan Banjarnegara pada umumnya. Sosok tersebut dicitrakan pula sebagai guru dua orang sesepuh lain yaitu Kiai Karim yang berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik yang menguasai sekitar kota Wonosobo sekarang ini. Bahkan seperti halnya mitos-mitos penguasa daerah yang ada di tanah Jawa ini, ia juga digambarkan sebagai mempelai dari Ratu Kidul yang setiap tahunnya akan ikut menari di pertunjukan Lengger (atau istilah aslinya adalah Legger) di atas panggung yang mengambang di tengah-tengah Telogo Balekambang.

Anakronisme Perwaktuan dan Karakterisasi Kiai Kolodete, Kiai Karim, dan Kiai Walik
Mitos Kiai Kolodete diceritakan dimulai pada awal abad ke-17 (dalam Sukanto CR, Otto, 2004). Pada saat itu tiga pengelana, Kiai Kolodete, Kiai Karim, dan Kiai Walik melakukan babad alas di daerah Wonosobo dan sekitarnya. Proses tersebut sedemikian heroiknya sehingga disebut-sebut daerah yang tadinya dianggap sebagai wilayah yang jalmo moro jalmo mati kembali terbuka untuk peradaban umat manusia. Kisah kemudian berkembang, Kiai Kolodete lalu dianggap sebagai sesepuh dan juga guru dari dua kiai lainnya. Bahkan, Kiai Kolodete mendapatkan porsi pencitraan yang paling bombastis dan digambarkan sebagai danyang pengayom Wonosobo dan Banjarnegara yang keberadaannya selalu menitis pada anak-anak berambut gembel yang terlahir di dataran tinggi Dieng. Tentu saja kisah Kiai Kolodete semakin banyak mendapat polesan seiring dengan semakin takzimnya para pendukung kebudayaan tersebut. Lalu bagaimana sejarah Kiai “Simbolis” Kolodete yang sebenarnya?

Ke arah Timur, tidak jauh dari Wonosobo, di daerah yang memiliki ciri geografis yang mirip dengan Dieng, yaitu di daerah Rowo Pening, telah jamak ditengarai sebuah cerita legenda tentang seekor naga teraniaya bernama Baruklinting yang kemudian berubah menjadi anak kecil yang melakukan pembalasan atas kekejaman penduduk desa atas dirinya. Sebenarnya siapakah bocah itu? Apakah naga itu? Dan apa yang terjadi di daerah itu? Sehingga si bocah harus meluluh-lantakkannya. Sebelum menjawab pertanyaan itu saya akan menyajikan terlebih dahulu pembahasan penting yang menjadi sentral asal-muasal semua kisah heroik tersebut muncul.

Kerajaan Wangsa Sanjaya (Mataram Kuno) yang berkuasa pada sekitar abad VII M yang secara umum dipercayai memiliki daerah kekuasaan di sekitar Magelang dan Yogyakarta sebenarnya berkedudukan di satu daerah yang disebuat sebagai Taman Agung atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Temanggung (Mulyono, Prof. DR. Slamet dalam Sriwijaya). Para Rakai (bangsawan) tentu saja menetap di sana dan karena selama ini yang sering ditampilkan dan diekspos adalah kehidupan para rakai tersebut maka keberadaan kaum sudra hanya mendapat satu porsi kecil belaka. Para Rakai Wangsa Sanjaya menganut kepercayaan Hindu dan masyarakatnya kebanyakan masih menganut kepercayaan animisme. Seiring perkembangan jaman, kemudian masuk kepercayaan baru yang dibawa melalui pesisir utara Jawa. Kepercayaan itu tak lain adalah agama Buddha.

Masuknya agama Buddha ke dalam jantung pemerintahan wangsa Sanjaya membuat kerajaan tersebut terpecah dua, wangsa Sanjaya penganut Hindu terdesak ke daerah Wonosobo dan mendirikan kerajaannya di sana (kerajaan Kalingga) dan kemudian membangun tempat peribadatan di puncak Dieng. Wangsa Sanjaya yang memluk kepercayaan Buddha membangun percandian di daerah Magelang. Kedua daerah percandian tersebut, Dieng dan Magelang, memiliki kesamaan unsur religi yang kuat. Telah diketahui secara umum, konsep tempat persemayaman para dewa bagi kaum Hindu dan Buddha adalah sumber mata air dan pegunungan. Itulah mengapa mereka memilih dua lokasi yang berbeda tersebut sebagai kompleks percandiannya.

Pada pemerintahan wangsa Sanjaya sebelum masuknya agama Buddha, di daerah Rowo Pening dikenal seorang tokoh sudra (baca: preman) yang sering membuat onar. Dia dikenal sebagai Sapulete, seorang tokoh penganut animisme. Sepak terjangnya sangat menyengsarakan warga daerah tersebut. Pada saat Temanggung telah dikuasai oleh pemerintahan pemeluk Buddha, Sapulete disingkirkan dan rupanya sebelum kepergiannya dari wilayah yang selama ini menjadi daerah kekuasannya, ia terlebih dahulu menghancurkan daerah tersebut. Untuk itulah di kemudian hari ia digambarkan sebagai seekor naga yang kemudian dibunuh warga desa dan menjelma menjadi seorang bocah untuk melaksanakan pembalasan dendamnya. Sapulete kemudian menyingkir mengikuti wangsa Syailendara pemeluk Hindu ke daerah Wonosobo. Dan karena reputasi dan kesetiannya terhadap pemerintahan Hindu, ia diberi wewenang untuk menjaga wilayah peribadatan di pegunungan Dieng, yang nota bene cukup jauh dari pusat kerajaan yang letaknya di daerah pasar Wonosobo saat ini. Karena kesetiaannya terhadap pemerintahan Hindu itu pula maka nama baiknya dipulihkan dan hak-haknya sebagai kaum grass-root diakui sehingga di kemudian hari ia mendapatkan predikat Kiai . Oleh pemerintahan Sanna (raja pertama Kalingga) namanya diubah menjadi Kiai Kolodete, kolo berarti waktu (yang oleh musuhnya diartikan sebagai Butho/ raksasa jahat) dan Dete berarti luang (yang berasal dari kata Deitya yang berarti Selasa (Seloso= selo – iso)). Secara harfiah kata Kolodete berarti sang Penjaga.

Dalam hal ini posisi perubahan Sapulete ke Kolodete merupakan simbolisasi perubahan status yang disebabkan bukan oleh perubahan moralitas namun lebih pada upah dari kesetiaan sehingga status rehabilitasi nama kemudian diberikan. Secara turun-temurun, keberadaan Kolodete mendapatkan penghormatan yang layak sebagai sesepuh pembabat hutan Dieng. Bahkan hingga kini keberadaannya yang telah dijadikan sebagai culture identity menjadi tersamarkan oleh predikat kesuperannya. Hubungannya dengan bocah rambut gembel? Sederhana sekali, karakter fisik orang-orang jawa kuno 10 abad silam terutama yang berasal dari kaum sudra adalah kecil, keling (hitam) dan gembel! Ritual ruwatan tersebut sebenarnya adalah upaya untuk menghormati leluhur mereka yang juga berambut gembel, dan mitos yang menyatakan bahwa Kiai Kolodete hingga kini menitis ke anak-anak gembel tersebut karena ia mewariskan tugas yang belum tuntas sebenarnya benar adanya karena sebagai seorang Penjaga, tugas tersebut tidak akan pernah lekang dimakan usia dan harus selalu diteruskan kepada anak cucu penerusnya dan sebagai symbol, tentu saja para bocal berambut gembel tersebut.

Lalu bagaimana pula dengan Kiai Karim dan Kiai Walik? Meskipun mereka memiliki persamaan gelar Kiai namun esensinya jelas jauh berbeda. Kiai dalam konteks ini merupakan predikat seorang ulama Islam. Dari sini lah dapat diketahui sebenarnya terjadi anakronisme (penggambungan dua atau lebih tokoh atau cerita yang berlatar waktu yang berbeda ke dalam satu bingkai cerita yang dibuat memiliki satu masa) dan anakronisme telah umum dikenal pada kisah-kisah legenda di dunia ini. Dalam hal ini, persamaan visi dan misi Kiai Kolodete dalam menjaga kelestarian alam Wonosobo dan Dieng lah yang dapat dihidupkan ke dalam satu balutan cerita. Karena kekuasaan kerajaan Hindu bergeser ke budaya Islam maka posisi Kiai Kolodete yang seorang penganut animisme “di-Islamkan” dan ditarik ke abad 17 M, hal ini penting sekali karena pemerintahan Islam saat itu sedang giat-giatnya melakukan syiar ke seantero tanah Jawa ini. Itulah kenapa pula berbagai situs peninggalan hegemoni Hindu dan ritus-ritus animisme di dataran tinggi Dieng permaknaannya dimodifikasi ke dalam permaknaan tauhid keislaman seperti misal, Tuk Bimo lukar melambangkan umat manusia yang harus melukar nafsunya dan Goa Semar yang secara semiologis dimaknakan sebagai “Ngguguo marang Gusti, aja Samar” (Turuti perintah Allah SWT jangan ragu-ragu) (Sukatno CR, Otto. 2004).

Demikian pembahasan sekilas dari fenomena kebudayaan yang ada di tanah Jawa ini, semoga menjadi satu khasanah pemikiran bagi kita semua. Sekian.

PERCANDIAN DI JAWA TENGAH DAN BERBAGAI KISAHNYA

Oleh: Arief Dermawan
(Ditulis berdasar berbagai sumber pustaka budaya)

Latar Belakang Sejarah Mataram Kuno
Prasasti Canggal yang berhuruf Palawa dan berbahasa Sansekerta (732) mengisahkan sebuah nukilan perjalanan pencarian jati diri umat manusia pada awal abad ke-7 silam. Di bawah kepemimpinan Raja Sanna, Mataram menjadi sebuah kerajaan adiluhung yang gemah ripah loh jinawi. Hasil bumi dan emas yang didulang dari tanah Mataram sangat dikenal di seantero Jawa Dwipa. Waktu terus bergulir hingga Raja Sanjaya menggantikan tahta kerajaan; ia adalah putra dari Sanaha, adik perempuan Raja Sanna. Raja Sanjaya meneruskan kearifan yang telah dicitrakan oleh pamannya sehingga Mataram semakin berkumandang dan semua kerajaan di sekitarnya takluk kepada Mataram, ia bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ibu kota kerajaan adalah Medang Kamolan yang memiliki sebuah legenda pertumpahan darah dua umat manusia di tanah Jawa yang dihiasi dengan pengabdian seekor anak manusia berwadag naga yang ditolak kehadirannya oleh sang bapa.

Prasasti Kalasan, lembaran lontar berbahasa Sansekerta dan bertatahkan huruf-huruf Pra-na-gari, menorehkan kisah baru Kerajaan Mataram mulai dari akhir abad ke-7 (778 M). Rakai Panangkaran yang beragama Hindu menggantikan tahta Raja Sanjaya. Pada waktu itu agama Budha mulai berkembang di Mataram. Perselisihan mulai muncul di setiap sudut kerajaan hingga akhirnya setelah pemerintahan raja yang bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran ini, keluarga Syailendra pecah menjadi dua. Sebagian memeluk agama Hindu dan sebagian lagi memeluk agama Budha. Kerajaan pun pecah menjadi dua, bagian Selatan dan bagian Utara. Keluarga Syailendra yang beragama Budha berkuasa di Jawa Tengah bagian Selatan, sedangkan yang beragama Hindu berkuasa di sekitar pegunungan Dieng dan Jawa Tengah bagian Utara. Raja-raja yang beragama Budha membangun candi-candi: Kalasan, Sewu, Sari, Pawon, Mendut dan Borobudur (Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, menyimbolkan sebuah kebersamaan hidup dan kerukunan antar umat beragama). Raja-raja yang beragama Hindu membangun candi-candi di pegunungan Dieng (Bima, Arjuna, dsb.). Sedangkan candi yang dibangun atas kerjasama pemeluk Hindu dan Budha adalah candi Ngawen di sebelah barat Muntilan. Candi tersebut bercirikan candi Budha.

Pecahnya Mataram tidak berlangsung lama. Pada jaman Rakai Pikatan, Mataram dipersatukan kembali. Hal itu disebabkan karena pada sekitar tahun 832 M Rakai Pikatan yang berasal dari Mataram Hindu menikah dengan Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga yang beragama Budha. Raja Samaratungga memiliki dua orang anak, yaitu Pramodawardhani dan Balaputradewa. Setelah Raja Samaratungga wafat terjadi perebutan kekuasaan antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa. Peperangan tersebut dimenangkan oleh Rakai Pikatan dan memaksa Balaputradewa menyingkir ke Swarnadwipa (Sumatra) dan akhirnya mendirikan kerajaan Sriwijaya.

Salah satu candi yang dibangun pada jaman perpecahan Mataram ini adalah candi Sambisari yang terletak di desa Sambisari, kelurahan Purwomartani, lebih kurang berjarak 12 km dari pusat kota Yogyakarta. Dari prasasti lempengan emas yang ditemukan dalam penggalian situs Candisari dapat diperkirakan bahwa candi tersebut dibangun pada tahun 812-838 M. Karena candi ini bercirikan candi Hindu Syiwais dan terletak di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan yang menjadi kekuasaan kerajaan Mataram Budha, kemungkinan besar candi tersebut dibangun setelah penyatuan kembali Mataram Hindu dan Budha (setelah tahun 832). Dalam sebuah sumber sejarah lain, disebutkan bahwa candi tersebut dibangun pada pemerintahan Mataram Hindu yang diperintah oleh Raja Rakai Garung dari dinasti Syailendra padahal sekitar tahun 812-838 M pemerintahan Syailendra yang berkuasa di Jawa Tengah bagian Selatan kemungkinan telah memeluk agama Budha (pasca Samaratungga) dan Raja yang memerintah saat itu adalah Raja Samaratungga, bukan Rakai Garung yang kemudian dilanjutkan oleh Rakai Pikatan, jadi keterangan tersebut perlu dipertanyakan.

Selain itu, candi Sambisari sendiri memiliki ciri bentuk bangunan khas candi Budha yang cenderung melebar dan terdiri dari beberapa tingkatan (meskipun tinggi sebenarnya diperkirakan hanya 7,5 m) namun demikian, relief dan simbolisme patung yang terdapat di dalamnya mencerminkan kisah yang tertera pada lontar-lontar Hindu Syiwais. Kemungkinannya, candi tersebut dibangun atas dasar toleransi umat beragama yang akhirnya terwujud setelah terjadi pernikahan antara penerus Mataram Hindu dan Budha pada tahun 832 M. Bentuk candi yang kecil juga menunjukkan bahwa bangunan tersebut bukan bangunan (kuil pemujaan) utama; mungkin sebagai hadiah persembahan saja.

Kemungkinan lain, candi Sambisari memang dibangun oleh Rakai Panangkaran (dan bukan oleh Rakai Garung; atau mungkin nama tersebut merupakan nama lain Rakai Panangkaran) sebelum kerajaan terpecah. Dugaan itu muncul karena tahun perkiraan pembangunan candi Sambisari adalah pada kurun 812-838 M (dan dalam literatur yang sama juga disebutkan perkiraan yang lebih baru, yaitu sekitar abad IX-X). Hal ini bisa saja terjadi karena pada awal abad kesembilan pemerintahan kemungkinan masih dipegang oleh Rakai Panangkaran yang beragama Hindu, namun ada satu hal yang telah jamak dipercayai oleh para ahli arkeologi yaitu bahwa candi Hindu tertua yang pertama kali dibangun di tanah Jawa adalah kelompok candi Dieng (abad VII-VIII) dan itu berarti bahwa generasi Mataram Hindu mulai membangun candi setelah mereka terpecah dari Mataram Budha dan pembangunan itu dimulai dari daerah utara Jawa Tengah. Jadi, kemungkinan besar, candi Sambisari memang dibangun setelah Mataram dipersatukan kembali oleh Rakai Pikatan pasca 832M yang juga berarti bahwa candi tersebut memang merupakan candi lambang penyatuan dan toleransi antar umat Budha dan Hindu.
Di bawah pemerintahan Rakai Pikatan Mataram diperluas dan dibangun. Wilayahnya meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia membangun candi-candi Budha dan Hindu di antaranya candi Plaosan. Raja Mataram Hindu yang terkenal adalah Balitung yang bergelar Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910 M). pada jamannya dibangun lah candi Prambanan yang selesai pada pemerintahan Raja Daksa, penggantinya. Setelah Raja Daksa terdapat beberapa raja pengganti yaitu Tulodong, Wawa, dan Mpu Sendok yang akhirnya memindahkan ibu kota Mataram ke Jawa Timur untuk mengantisipasi serangan kerajaan Sriwijaya (929). Mpu Sendok kemudian membangun wangsa baru yang disebut sebagai wangsa Isnaya.


Seri Candi Budha(1)
CANDI BOROBUDUR
Bagian Satu

Agama Budha masuk ke pulau Jawa kurang lebih pada abad keempat Masehi. Penyebarannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan panjang menuju kesempurnaan tersebut mulai membuahkan hasil pada sekitar abad kedelapan dengan dibangunnya candi Pawon dan Mendut yang hingga kini tetap menjadi bagian dari satu rangkaian prosesi besar hari raya Waisak yang puncaknya diadakan di candi Borobudur yang berada di kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Borobudur adalah puncak pencapaian kebudayaan wangsa Syailendra dan candi ini tidak hanya menjadi tempat untuk melakukan ritual peribadatan, tetapi sekaligus sebagai tempat untuk belajar dan mengikuti dharma Budha tahap demi tahap untuk mencapai penerangan sempurna.

Bentuknya yang detil menyiratkan ketakterbatasan ajaran Adi-Budha. Rancangan teras-terasnya, jumlah stupa dan pahatan relief menimbulkan fenomena yang hingga kini diupayakan untuk mengungkapkannya. Yang pasti, di balik kemegahan Borobudur tersembunyi fenomena yang luar biasa. Apa sajakah itu? Ikuti kisah menakjubkan yang belum pernah diungkapkan sebelumnya.

Tidak terdapat satu keterangan tertulis pun yang menyatakan dengan jelas kapan dan oleh siapa candi ini dibangun. Satu-satunya petunjuk yang diacu oleh para ahli purbakala adalah sebuah pesan singkat yang terukir di bagian dasar candi yang kini sebagian besar telah ditutup oleh lantai tambahan. Bhumisambharabhudira atau yang lebih dikenal sebagai Borobudur diperkirakan dibangun sekitar abad kedelapan pada masa pemerintahan Samaratungga, seorang raja wangsa Syailendra yang menganut aliran Budha Mahayana. Candi termegah di dunia ini diyakini sebagai persemayaman arwah wangsa Syailendra. Sebagai bukti kejayaan sebuah kerajaan yang mampu memberikan kemakmuran dan kedamaian terhadap rakyatnya, Borobudur dibangun dengan ketelitian luar biasa dan perenungan mendalam terhadap ajaran-ajaran Hinayana, Mahayana, dan Vajrayana. Pembangunannya diperkirakan memakan waktu lebih dari lima puluh tahun lamanya.

Borobudur dibangun berdasarkan gabungan dua konsep peletak dasar yang disebut mandala, yaitu garbhadhatu dan vajradhatu mandala. Garbhadhatu mandala adalah peletak dasar bangunan candi yang berbentuk teras-teras melingkar pada tingkat Arupadhatu yang melambangkan prinsip ajaran sang Budha. Sedangkan Vajradhatu mandala adalah peletak dasar bangunan candi yang berbentuk teras persegi pada tingkat Rupadhatu dan Kamadhatu yang melambangkan pengetahuan. Di bagian ini lah sejumlah 1460 panel relief tentang pengetahuan kebudhaan terpahat begitu indah.

Pada awal abad kedelapan, Amoghavajra, seorang guru aliran Mantrayana yang merancang kemegahan Borobudur kembali tiba di pulau Jawa setelah sekian lama mengembara di negeri China dan India demi tugas mulia untuk mengumpulkan dan menterjemahkan kitab-kitab suci agama Budha. Setelah melakukan perenungan mendalam terhadap ajaran yang termaktub dalam kitab Mahavairocana Sutra, Amoghavajra akhirnya berhasil menafsirkan konsep realitas yang disebut dharmadhatu yang terdiri atas dua mandala peletak dasar candi; Garbhadhatu mandala mewakili aspek relativitas dan Vajradhatu mandala mewakili aspek kepastian.

Garbhadhatu mandala terbentuk dari sebuah kotak persegi empat yang dibagi menjadi sembilan bujur sangkar. Setiap bujur sangkar kemudian dibagi lagi menjadi sembilan bujur sangkar yang lebih kecil. Dari lapis pertama hingga lapis ketiga dari luar, jumlah kotak yang terbentuk sama dengan jumlah stupa yang berada pada teras melingkar candi. Lapis keempat dan kelima melambangkan kerajaan sentral kebudhaan yang diwujudkan dengan stupa utama candi yang menjulang megah di pusat lingkaran. Vajradhatu mandala terbentuk dari bujur sangkar dan sebuah lingkaran besar yang disebut vajra. Di dalam lingkaran vajra terdapat lima buah lingkaran kecil yang masing-masing berdiameter sepertiga dari diameter lingkaran vajra. Bentuk bujur sangkar dipakai untuk menandakan batas-batas mandala sedangkan bentuk melingkar menandakan lingkaran vajra dan lima lingkaran Budha. Konsep bujur sangkar dan lingkaran ini lah yang kemudian melandasi bentuk teras persegi pada candi Borobudur.
Tidak diketahui secara pasti hingga kapan candi Borobudur menjalankan fungsinya sebagai simbol kemegahan wangsa Syailendra dan sebagai tempat suci agama Budha. Enam abad setelah pembangunannya baru terbersit sebuah kabar yang tercantum dalam kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca yang berangka tahun 1365 Masehi, itu pun hanya menyebut nama ‘Budur’ sebagai sebuah candi umat Budha. Bahkan, pada abad kedelapan belas, candi ini dikenal sebagai tempat keramat sumber malapetaka!

Menurut kitab Babad Tanah Jawi, pada tahun 1709 Masehi seorang tokoh bernama Ki Mas Dana memberontak kepada raja Amangkurat III yang bertahta di Kartasura. Namun pemberontakan itu gagal! Panglima kerajaan, Pangeran Pringgolaya, mengadakan pengejaran. Ki Mas Dana akhirnya tertangkap di candi Borobudur dan dibawa ke Kartasura untuk menerima hukuman mati!

Kitab Babad Mataram juga menceritakan sebuah kisah tentang kutukan yang ada pada candi Borobudur. Pada tahun 1757 Masehi putra mahkota kesultanan Yogyakarta yang bernama Pangeran Mancanegara bersikukuh melanggar pantangan untuk mengunjungi Borobudur dan melihat “seribu arca” yang ada di candi itu. Menurut kepercayaan, salah satu dari arca-arca tersebut melambangkan seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar, yaitu sang Kunto Bimo, namun sang pangeran justru ingin bertemu dengan sosok ksatria tersebut. Beberapa waktu setelah kunjungannya ke candi Borobudur sang Pangeran akhirnya jatuh sakit dan muntah darah sehingga menemui ajalnya.

Candi yang berada di ketinggian 265 meter di atas permukaan laut ini diapit oleh empat buah gunung berapi; Merapi dan Merbabu di sebelah Utara dan Timur-laut, Sindoro dan Sumbing di sebelah Barat-laut. Posisi tersebut membuat Borobudur sangat rawan terhadap bencana alam. Selain karena deraan panas surya dan hempasan hujan badai, letusan dahsyat gunung Merapi akhirnya memporak-porandakan Borobudur yang oleh para Syailendra dianggap memiliki kesucian setingkat dengan kuil Kunjarakunjadesa di India.

Selama hampir seribu tahun Borobudur terpendam dalam kegelapan hingga akhirnya kembali mendapatkan perhatian pada tahun 1814. Upaya restorasi beberapa kali dilakukan untuk memulihkan keagungan Sambharabudhira, namun pada tahun 1896 pemerintah yang berkuasa justru menghadiahkan batu-batu candi Borobudur kepada Raja Siam. Hadiah tersebut sebanyak delapan gerobag yang berisi sekitar tiga puluh buah batu relief, lima buah patung Budha, dua patung singa, satu pancuran makara, sejumlah kepala kala dari pangkal tangga dan gapura dan sebuah patung raksasa penjaga yang sangat istimewa dari bukit Dagi di sebelah barat-laut candi.

Pemugaran tahap pertama yang dilakukan oleh Van Erp, seorang insinyur kerajaan Belanda pada kurun 1907 hingga 1911 berhasil mewujudkan bentuk asli candi secara keseluruhan. Bahkan, ujung stupa utama candi berhasil direkonstruksi, namun karena Van Erp tidak yakin dengan bentuk asli dan jumlah payung yang melingkupi ujung stupa utama, bentuk rekonstruktif tersebut akhirnya dibongkar kembali, setelah dilakukan pemotretan. Setelah itu, beberapa upaya restorasi dilakukan pemerintah. Semua data penting tentang pelaksanaan proyek raksasa tersebut kini tersimpan rapi di gedung dinas arkeologi Borobudur ini.

Banyak yang dapat digali dari penggalan sejarah penting yang ada di candi ini. Arca-arca yang rusak atau bagian lain candi yang tidak utuh lagi sebagian disimpan di dalam gedung. Upaya pendokumentasian proses pemugaran tersebut tidak terbatas pada dokumentasi fotografi namun juga dalam bentuk film dokumenter.

Selama lebih dari dua belas abad, Borobudur tetap kokoh berdiri di bumi pertiwi. Kharismanya yang luar biasa seolah tidak terpengaruh oleh perjalanan panjang melawan ganasnya alam dan pekatnya waktu yang telah berhasil ditempuhnya. Selama itu pula, beribu kisah muncul dari bangunan kebanggaan umat Budha ini.

Matahari terbit dan kemudian tenggelam kembali. Hari berganti hari, tahun berganti tahun bahkan tak terasa dua belas abad telah terlampaui namun Borobudur tetap berdiri kokoh. Hanya upaya luar biasa lah yang mampu membuat bangunan bersejarah ini tetap dapat dinikmati kebesarannya hingga saat ini. Masih banyak fenomena yang harus diungkap kebenarannya.Lalu, kenapa Borobudur dibangun dalam bentuk seperti ini? Pelajaran apa yang terbersit dari relief yang terukir indah pada tembok candi? Dan Ritual apa sajakah yang diadakan di candi ini?

Jawabannya dapat Anda saksikan dalam episode candi Borobudur bagian kedua.



Seri Candi Budha
(2) CANDI BOROBUDUR
Bagian Dua

Pada episode kedua ini Anda akan kami bawa mengarungi candi Borobudur melalui sisi dunia penuh makna yang belum pernah diungkapkan sebelumnya. Kemegahan Borobudur telah dikenal luas di seluruh dunia, bahkan keberadaannya menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang diakui sebagai harta peninggalan sejarah umat manusia yang tak ternilai harganya. Selain ukurannya yang luar biasa, konsep penciptaan dan ajaran filosofis yang ada padanya membuat Borobudur dianggap sebagai sebuah monumen puncak pemikiran dan seni bangun pada masa wangsa Syailendra. Kisah apa sajakah yang terabadikan pada candi ini? Marilah kita telusuri jejaknya.

Secara keseluruhan, candi Borobudur adalah sebuah stupa yang dalam bahasa Sansekerta berarti gundukan tanah. Menurut legenda, sebelum meninggal dunia, sang Budha meminta kepada muridnya untuk membakar tubuhnya dan kemudian abunya agar ditutup dengan stupa. Untuk menunjukkan cara membangun stupa, sang Budha melipat jubahnya kemudian di atas jubah tersebut diletakkan mangkuk secara terbalik. Di atasnya kemudian diletakkan sebuah tongkat secara tegak. Dengan demikian, unsur-unsur dasar stupa meliputi dasar atau prasadha, belahan bola atau dagoba, dan puncak atau yati.
Secara garis besar, candi Borobudur dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu: kaki candi yang disebut Kamadhatu, badan candi yang disebut Rupadhatu, dan atap candi yang disebut Arupadhatu. Masing-masing dirancang dan dibangun dengan ketelitian luar biasa. Setiap sap melambangkan tingkatan dharma Budha yang disarikan dari berbagai kitab suci aliran Hinayana, Mahayana, dan Mantrayana. Masing-masing menyimpan kisah luar biasa yang hanya terpahatkan pada sosok megah ini.

Kamadhatu adalah lapisan paling bawah dari candi Borobudur. Bagian ini berukuran 123 x 123 meter dengan tebal 7 hingga 8 meter dan tinggi 4 meter. Susunan batu penyangga yang memiliki volume sekitar 11.600 m2 ini sebenarnya adalah kaki tambahan yang menutupi kaki aslinya. Kamadhatu merupakan perlambang nafsu dan keinginan makluk hidup. Pada bagian kaki candi yang sebenarnya, ajaran tersebut digambarkan dengan relief-relief Karmavibhanga yang berkisah tentang dunia samsara yang dijelaskan dengan hukum sebab-akibat; ketidakbajikan atau akusala akan menjadi sebab penderitaan yang disebut karma, kebajikan atau kusala adalah dasar untuk memahami ajaran yang lebih tinggi. Relief tersebut secara tidak sengaja diketemukan oleh Yzerman, seorang ahli dari Belanda pada tahun 1885. Menurut ajaran Budha, segala tindakan dan perwujudan saat ini merupakan buah perbuatan manusia itu sendiri dan lingkungan hidup sebelumnya. Semua makluk hidup akan mengalami reinkarnasi.

Secara keseluruhan, jumlah relief yang terpahat pada kaki candi berjumlah 160 buah. Jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan batin bernoda yang harus diatasi umat Budha guna meraih pencerahan. Namun, yang masih dapat disaksikan hingga saat ini hanya relief yang berada di kaki candi sudut tenggara yang sengaja dibiarkan terbuka sebagai bukti nyata keberadaan ajaran Karmavibhanga. Sebagian ahli memperkirakan penutupan kaki asli dengan lantai tambahan menunjukkan bahwa sebelum candi selesai dibangun pondasinya mengalami kerusakan sehingga harus ditopang dengan lantai tambahan. Sebagian lagi menganggap bahwa penutupan relief kisah Karmavibhanga tersebut sengaja dilakukan agar para peziarah pada jaman itu tidak melihat pahatan kisah samsara yang memang seharusnya tidak layak untuk diperlihatkan. Hingga kini bagian tersebut memang hanya disaksikan secara langsung oleh beberapa orang saja.

Rupadhatu merupakan tingkat kedua candi yang terdiri dari empat buah lorong yang dipenuhi relief indah. Pada tingkatan ini tersimpan berbagai ajaran mulia sang Budha yang memberikan tuntunan untuk memperoleh pembebasan sempurna dari segala penderitaan samsara. Tanpa berusaha membebaskan diri dari samsara, manusia tidak akan mungkin menghentikan berbagai penderitaan yang menerpanya. Pada dinding utama lorong pertama deret atas terdapat relief Lalitavistara yang berjumlah 120 panel. Relief tersebut menceritakan kisah hidup Budha di dunia.

Budha menitis ke dunia dalam diri Pangeran Siddharta yang terlahir di hutan Lumbini, Nepal. Tidak lama kemudian, ibunya yang bernama Maya meninggal. Sang ayah, Raja Suddhona, yang mengetahui kelak putranya akan menjadi seorang penguasa alam semesta atau Budha berusaha mencegah anaknya berhubungan dengan dunia luar yang penuh penderitaan. Meskipun begitu, Siddharta sempat tiga kali bertemu dengan kesengsaraan dunia dalam bentuk rasa sakit, usia lanjut, dan kematian. Untuk itulah kemudian Siddharta menyimpulkan bahwa bertapa bukanlah jalan menuju kesempurnaan, ia memutuskan untuk melakukan tafakur mistis.

Ketika Pangeran Siddharta sedang bersemadi di bawah pohon Bodhi, Mara beserta putri-putrinya datang mengganggu dan merayu sang pangeran agar gagal mencapai pencerahan sempurna. Namun sang Pangeran tidak menghiraukannya. Dalam tafakurnya Siddharta melihat seluruh alam semesta sebagai suatu sistem hukum yang terdiri dari berbagai bentuk kehidupan dan peran-perannya. Akhirnya Siddharta mencapai kearifan tertinggi yang disebut Bodhi atau pencerahan. Ia telah menjadi Budha dan mulai lah ia bersama kelima muridnya menyampaikan khotbah yang pertama di Taman Kijang Sarnath dekat Benares, India.

Relief di bagian bawah dinding utama berjumlah 120 panel, di bagian atas pagar langkan teras pertama berjumlah 372 panel dan di bagian bawahnya berjumlah 128 panel. Kesemuanya menggambarkan cerita kehidupan masa lampau Budha yang disebut Jataka dan cerita tentang kepahlawanan orang-orang suci yang disebut sebagai Awadana. Kedua kisah tersebut kemudian dilanjutkan pada lorong kedua sejumlah 100 panel relief.

Pada deret atas pagar langkan lorong pertama, terpahat indah sebuah kisah Jataka. Pada suatu hari, ketika berjalan bersama salah seorang muridnya di sebuah belantara, Bodhisattva melihat seekor macan betina muda yang baru saja melahirkan anak di dalam sebuah goa batu. Macan betina itu sangat letih dan lapar dan satu-satunya makanan yang tersedia adalah anaknya. Bodhisattva kemudian meminta muridnya untuk mencarikan makanan bagi sang macan, namun ketika si murid kembali dengan sekerat daging, ia mendapati gurunya telah mengorbankan diri menjadi santapan macan betina tersebut.
Pada dinding lorong utama deretan bawah terbersit kisah-kisah Awadana yang luar biasa. Panel satu sampai 20 menceritakan perjalanan asmara Pangeran Sudhana dan Peri Manohara. Konon, kerajaan Pancala Utara diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana sehingga wilayahnya disukai oleh Naga Janmacitraka yang memilih tinggal di sebuah telaga dekat ibu kota. Naga tersebut mampu memberikan hujan secara teratur sehingga penduduk kerajaan menjadi makmur oleh hasil pertaniannya. Kerajaan Pancala Selatan diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka sehingga para dewa tidak berkenan memberikan hujan. Penduduk yang menderita kemudian melarikan diri ke kerajaan Pancala Utara.

Raja kerajaan Pancala Selatan akhirnya menyadari kekeliruannya dan berjanji akan membawa Naga Janmacitraka ke wilayah Selatan dengan bantuan seorang ahli sihir. Sang naga yang mengetahui rencana ini meminta bantuan Halaka, seorang pemburu, untuk menggagalkan mantra si ahli sihir. Upaya tersebut berhasil dan atas saran seorang resi sang pemburu meminta imbalan tali laso yang biasa digunakan oleh kaum naga.
Suatu ketika Halaka mendapati seorang putri raja kerajaan peri Kinnara yang bernama Manohara sedang mandi di telaga bersama para dayangnya. Ia kemudian menangkap putri tersebut dan menyerahkannya kepada Pangeran Sudhana yang kebetulan sedang berburu di daerah itu. Pangeran Sudhana kemudian menikahi peri Manohara.

Ketika pangeran Sudhana berada di medan perang, pada suatu malam sang raja bermimpi buruk tentang putranya. Menurut penafsiran, Raja harus mengorbankan seorang peri untuk menyelamatkan sang Pangeran. Putri Manohara yang mendengar tentang hal ini kemudian melarikan diri terbang ke negeri asalnya. Ketika kembali sang pangeran didera kepedihan, ia akhirnya menyusul sang istri ke kerajaannya. Mereka akhirnya bertemu namun sang pangeran tidak betah berlama-lama di tempat istrinya sehingga pada suatu saat ia kembali ke Pancala dan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja.

Kisah Pangeran Sudhana dalam mencari jati diri dan kebenaran hakiki juga diceritakan pada dinding utama lorong kedua hingga keempat. Kisah tersebut terangkai dalam relief Gandawyuha dan Bhadracari yang cerita aslinya berasal dari India Selatan.
Pada lorong kedua di sisi atas pagar langkan terdapat sebuah kisah tentang penundukan raksasi Hariti oleh Siddharta. Raksasi yang dulu gemar memangsa anak manusia tersebut akhirnya bertobat dan kemudian mempunyai banyak anak. Oleh sebagian penduduk yang belum dikaruniai keturunan, tempat ini sering didatangi untuk meminta berkah dari Hariti, sang dewi Kesuburan.

Borobudur mengalami beberapa perubahan sewaktu relief-relief dipahatkan. Pada awalnya, para pencipta Borobudur hanya merancang 960 panel relief, yang terdiri dari 160 panel yang terukir di lapisan dasar dan 800 panel di lapisan-lapisan atas. 160 panel melambangkan jumlah batin bernoda dan 800 panel melambangkan jumlah suku kata suci yang dilafalkan saat menjalani delapan posisi semadi yang disebut mudra. Tetapi kemudian, karena adanya penutupan tingkat dasar dan penambahan pagar langkan pertama, relief kemudian ditambah sehingga secara keseluruhan berjumlah 1460 panel. Karena sejumlah 160 panel tertutup oleh lantai tambahan, relief yang dapat disaksikan hanya tinggal 1300 panel saja.

Selain relief, candi Borobudur juga dihiasi dengan 504 buah arca Budha. Hal ini sesuai dengan konsep aliran Mahayana yang mempercayai konsep banyak Budha dan Bodisattva. Arca-arca tersebut diletakkan dalam relung-relung di atas pagar langkan, di dalam stupa-stupa berlubang dan di dalam stupa induk candi.
Pada relung pagar langkan diletakkan 432 buah arca Budha yang secara simbolik mewakili kalpa atau ukuran waktu yang tidak terhitung yang harus dilalui para bodisattva untuk meraih kesempurnaan. Satu kalpa dapat disamakan dengan 432 juta tahun saat ini.

Arca Budha Akhsobya yang menghadap ke timur terletak di pagar langkan sebelah barat dari tingkat satu hingga empat. Sikap tangannya disebut bhumisparcamudra, dengan posisi tangan seolah menyentuh bumi dan merupakan gambaran episode ketika Budha meminta dewi bumi menjadi saksi atas kemenangannya terhadap Mara, yang berusaha menggagalkan usahanya menempuh jalan kebenaran.

Pada sisi selatan pagar langkan tingkat satu sampai empat ditempatkan arca Ratnasambhawa. Sikap tangannya varamudra yang mengisyaratkan kedermawanan dan pengabulan suatu permohonan.
Pada sisi Timur, menghadap ke barat, dari tingkat satu hingga empat ditempatkan arca Amittabha. Sikap tangannya dhyanamudra, mengisyaratkan ketika sang Budha bermeditasi di bawah pohon bodhi.
Pada sisi Utara menghadap ke selatan, dari tingkat satu hingga empat, ditempatkan arca Amoghasidhi dengan sikap tangan abhayumudra yang meminta seseorang agar jangan takut.

Sistem Dyani Budha di candi Borobudur terdiri dari lima Budha. Empat Dyani Budha menduduki empat penjuru mata angin, sedang Dyani Budha kelima menempati Zenith.
Pagar langkan kelima yang melambangkan zenith dihiasi dengan Dyani Budha Wairocana dengan sikap tangan vitarkamudra yang mengisyaratkan sikap berbincang-bincang atau memberi pengajaran.

Arupadhatu merupakan penggambaran tingkat pemahaman ajaran yang paling tinggi. Bentuk melingkar merupakan suatu gambaran kebenaran yang tiada berujung dan tiada pula berpangkal. Tingkatan ini menggambarkan keagungan para Dhyani-Budha atau yang juga disebut sebagai Budha meditatif. Mereka direpresentasikan sebagai 72 arca Budha yang bersemadi di dalam stupa dalam sikap tangan dharmacakramudra yang menggambarkan sang Budha waktu pertama kali memberikan khotbahnya. Di dalam stupa utama yang berdiameter 9,90 meter dan tinggi 7 meter bersemayamlah Budha pertama dan tertinggi yang disebut sebagai Adi-Budha. Budha tersebut memiliki sikap tangan bhumisparcamudra.

Konon, di bagian tengah stupa utama ini dulu terdapat lubang sedalam kurang lebih seratus meter yang fungsinya masih belum diketahui secara jelas. Sebagian ahli berpendapat bahwa lubang tersebut merupakan salah satu bagian dari sistem drainase candi, sebagian lainnya menganggapnya sebagai sebuah ruang ritual.
Salah satu arca Budha yang berada dalam stupa di sisi timur sebelah kanan tangga naik dipercayai dapat mengabulkan segala keinginan seseorang jika orang tersebut mampu menyentuhnya. Arca ini lebih dikenal sebagai Kunto Bimo, salah satu dari Pandawa Lima, tokoh satria dalam kisah Ramayana.

Perbukitan Menoreh yang membujur dari timur ke barat yang dapat dilihat di sebelah selatan candi jika diperhatikan dengan seksama akan nampak seperti seorang manusia raksasa yang sedang rebah dengan posisi mata memandang ke candi. Menurut kepercayaan warga Borobudur, bukit tersebut merupakan penjelmaan sosok Gunadharma, seorang ahli bangunan dari India yang dipercayai warga sebagai arsitek candi terbesar di dunia ini. Konon, setelah menyelesaikan pembangunan Borobudur, Gunadharma pergi dan berbaring di atas perbukitan Menoreh sambil menikmati keindahan bangunan hasil karyanya. Selain dari puncak candi, sosok tersebut juga dapat disaksikan dari simpang tiga bulatan Salaman bila cuaca sedang cerah.

Borobudur tidak sekedar indah dipandang mata tetapi juga mengandung ajaran-ajaran kemanusiaan yang dikemas apik dalam bingkai relief, stupa, dan perlambang lain yang belum terbaca. Kesakralannya semakin lengkap saat candi ini akhirnya diperbolehkan untuk dipergunakan sebagai tempat peringatan Waisak, sebuah prosesi besar agama Budha yang diadakan setahun sekali.
Borobudur telah beratus kali diabadikan dalam bentuk tulisan. Semua penelitian yang telah dilakukan hingga sekarang belum mampu mengungkapkan jati diri sebenarnya dari sosok megah ini. Sebagai bangsa yang memiliki warisan adiluhung kita harus selalu mengupayakan pelestariannya.


Seri Candi Budha
(3) Candi Mendut

Adalah salah satu candi peninggalan hegemoni kerajaan Mataram Budha (tepatnya kerajaan Bagelen) di kawasan Jawa Tengah bagian selatan. Meskipun bentuk bangunan candi cenderung bergaya Siwais namun candi Mendut sarat dengan nuansa religius Budha Gautama dalam meniupkan pencerahan bathin kepada para pengikutnya. Bahkan menurut Dr. de Casparis (dalam Meulen, 1988: 87), candi Mendut merupakan “Preparathory Bhumi” atau sebagai pusat awal mula berkembangnya agama Budha di tanah Jawa. Gentha, lonceng, dan payung suci menjadi lambang kebijakan sang Budha. Keheningan bathin dan kebajikan sang Gauthama (yang tertitis pada Sutasoma) mampu meruntuhkan angkara murka para raksasa-raksasi pemakan manusia. Tidak lah mudah menuju keteduhan pohon kalpataru; beribu rintangan nafsu angkara harus terlebih dahulu ditundukkan dan episode ini berusaha mengisahkan liku nestapa namun penuh cinta dari perjalanan panjang menuju nirwana tersebut.

Gendhing-gendhing Jawa memang terkenal kemistisannya. Kehalusan maknanya seolah mampu menembus relung hati kita yang paling dalam. Agar sempurna, para pande gamelan (undagi) pun harus mampu menyelaraskan harmoni tetabuhan tersebut. Selain sebagai penggetar jiwa, sebagian gamelan juga menjadi lambang suci bagi umat Budha pada jaman dahulu kala. Candi Mendut, yang berukirkan banyak genta, menjadi saksi bisu perjalanan titisan sang Budha Gautama dalam melakukan pencerahan umat manusia.
Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain tempat candi berada, desa Mendut telah cukup ramai oleh kemajuan jaman. Apalagi letaknya hanya sekitar sepuluh menit dari candi terbesar di Indonesia, Borobudur.

Candi Mendut dibangun pada abad VIII oleh wangsa Syailendra. Keberadannya menjadi salah satu simbol hegemoni kekuasaan Mataram Budha yang saat itu menguasai wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Setelah wangsa Sanjaya menyingkir ke Utara, para raja wangsa Syailendra yang beragama Budha mulai membangun candi. Candi Mendut merupakan titik tolak perjalanan pencerahan titisan sang Gauthama di Jawa Dwipa.
Seperti hal nya peninggalan-peninggalan kuno lain, candi Mendut juga terletak di bantaran subur pada jamannya. Bahkan candi ini diapit oleh dua buah sungai besar; sungai Elo dan sungai Progo. Tapi kenapa harus di sekitar sungai Progo? “Progo” berasal dari nama kota Prayaga atau Allahabad, yang terletak di tempat bertemunya “Tirtha” Sungai Gangga dan Yamuna. Kesucian Tirtha Prayaga ini disamakan dengan “600 juta ditambah 10.000 tirtha biasa,” sehingga dalam ketiga dunia tidak ada hal yang mampu melebihi kesuciannya, ia mengatasi segala tirtha lain. Sangat wajar bila akhirnya sang Sotasoma memilih tempat tersebut sebagai percandiannya.
Candi setinggi duapuluh enam meter ini secara keseluruhan terbuat dari batu Andesit. Sebagian candi Mendut pernah dipugar pada tahun 1905. Seperti halnya konsep percandian Budha, candi Mendut terdiri dari tiga bagian; bagian kaki, tubuh, dan atap candi. Hampir semua relief terlihat jelas, kecuali yang terdapat di bagian atas candi. Di berbagai penjuru terdapat banyak ukiran genta. Genta dan lonceng merupakan benda-benda suci sebagaimana halnya payung pada stupa Budha. Hal ini pula lah yang mengukuhkan candi Mendut sebagai peninggalan kerajaan Budha.
Lalu, bagaimanakah pangeran Sotasoma, titisan Sang Budha Gauthama menebarkan syair-syair pencerahannya?

Nguuni Dvaapaara ring Treta-Krtayuga
sirang sar(vva) dharmmaanggaraksa
Tan len Hyang Brahma-Visnv-Icvara
sira matemah bhuupatiing marttyaloka
Mangken praaptaang Kali Cri-Jinapati
manurun maatyana ng Kaala muurkka

(Dahulu pada masa permulaan jaman,
Menjelma lah sang pelindung Ketertiban Dunia,
Ia yang tak lain adalah dewa Brahma-Visnu-Icvara,
Menjelma kedalam wujud para raja di tanah Jawa.
Kini, setelah jaman menjadi rusak
Turun lah Ia untuk membunuh Kaala)

Pangeran Sotasoma mengemban tugas mulia di tanah Jawa. Liku perjalanannya diiringi upaya memasung angkara murka yang selalu merajalela. Perjalanan yang dipenuhi onak dan duri itu tidak lah mudah. Hal ini terbersit dalam sebuah kisah perjalanan tiga makluk dunia fana yang terukir indah pada percandian ini.Tersebutlah seekor kura-kura yang diterbangkan oleh dua ekor angsa menuju nirwana. Perjalanan tersebut sangat lah berat, sang kura-kura harus menggigit sebuah tongkat yang kedua ujungnya dicengkeram angsa. Saat kura-kura dan kedua ekor angsa tersebut melintasi segerombolan orang yang sedang berjalan, sebagian di antaranya menegur dan mengolok-olok mereka. Kura-kura marah dan menjawab olokan tersebut, akibatnya gigitannya pada tongkat terlepas sehingga ia terjatuh dan celaka karena ketidaksabarannya. Kisah tersebut menggambarkan bahwa selain ketekunan dan kekuatan, agar dapat mencapai nirwana, para penganut Budha harus mampu mengekang Kaala yang bersemayam di dalam dada mereka.

Ajaran Budha hanya lah membantu mencerahkan hati penganutnya yang sedang dilanda kegetiran hidup. Hanya pengorbanan dan kepasrahan lah yang dapat mengantarkan ruh menuju pencapaian akhir sang Budha Gauthama. Adapun pangeran Sotasoma, tidak hanya mengemban amanat untuk dirinya sendiri. Ia adalah titisan sang Gauthama, yang harus mampu menundukkan Kaala yang bersemayam di dada semua umat manusia. Dengan kelembutan hatinya, Ia menundukkan raksasi Hariti, sang pemakan anak manusia, sehingga patuh kepada dharma Budha.


Ngkaa tekang japa yoga siddhi regepen pangalaha
ri kacaktin ing Musuh; Tatva Cri vara-Bajrapaani
sira baayu pegengen I kadhiiran ing manah
mvang Lokecvara-cabda Caakyamuni-citta
gavayaken I tungtung ing hidep; byaktaavaas matemah
Bhataara paramaartha Jina kita divaangca bhasvara

(Berpeganglah pada mantra dan pada Yoga yang memberikan kesaktian agar dapat mengalahkan kejahatan. Tahan lah nafas, hakekat sang Bodhisattva Vajrapaani, dengan segenap keteguhan bathinmu; dan biarlah sabda suci sang Brahma menjadi pusat pengheninganmu. Pastilah pada suatu saat nanti Engkau akan menjadi Budha yang sesungguhnya, wujud penjelmaan yang lebih gilang-gemilang daripada cahaya)

Alunan mantra kebajikan yang ia lantunkan bahkan mampu meluluhkan hati sang Yaksa Atavaka, sosok raksasa pemakan manusia yang kini terkenal dengan sebutan Kuvera atau Jambhala, sang dewa kekayaan. Setelah pencerahan merasuki sukma dan mantra-mantra Budha menghapus dosa, maka terukir lah hiasan kahyangan yang menandakan penghargaan bagi siapa saja yang bertobat dan mampu mengekang hawa Kaala dalam dirinya. Perjalanan pun akan tiba di gerbang Kalpataru, pohon hayat sebagai lambang kesuburan dan keabadian.

Begitulah, sebuah perjalanan relijius pasti akan menemui rintangan. Namun jika kita membulatkan tekad dan memasrahkan segala upaya kepada Yang Maha Kuasa, segalanya akan terasa lebih ringan. Begitulah setidaknya yang diajarkan Sotasoma, titisan Sang Budha Gautama yang terpahat pada candi ini.


Seri Candi Budha
(4) Candi Pawon

Dilihat dari ciri-ciri ritus yang terukir padanya, candi Pawon adalah candi Hindu namun saat ini sebagian orang menganggapnya sebagai candi Budha dengan asumsi bahwa yang membangun adalah raja wangsa Syailendra dan merupakan satu kesatuan dengan candi Mendut dan Borobudur yang jelas merupakan percandian Budha. Candi Pawon memang merupakan salah satu candi yang tidak banyak diekspos dan diketahui datanya. Bangunan fisiknya pun tidak sebesar candi-candi lain di sekitarnya. Meskipun begitu terdapat sebuah fenomena luar biasa yang jika kita kaji mendalam dan penuh ketelitian akan menunjukkan sebuah pertanda besar tentang awal mula didirikan percandian di telatah tersebut. Jika candi Mendut merupakan candi penanda permulaan penyebaran agama Budha di tanah Jawa, candi Pawon justru kemungkinan usianya lebih tua dari itu; tepatnya ketika penguasa kerajaan yang membangunnya masih memegang teguh kepercayaan Civa. Candi Pawon secara umum diperkirakan dibangun pada sekitar akhir abad VIII sehingga ditengarai sebagai candi Budha, namun data lain menyebutkan candi tersebut dibangun pada akhir abad ke VII yang cenderung dikuasai oleh para pemeluk Hindu. Raja yang membangun candi tersebut masih dalam pertanyaan besar hingga saat ini. Di sekitar daerah tersebut memang ditemukan dua buah pusat kerajaan yang diduga salah satunya telah membangun candi Pawon.

Candi Pawon juga disebut sebagai candi Brajanalon (Bharajas – anala) yang memiliki kemiripan dengan nama raja kerajaan Mananggul (hegemoni Mataram kuno) yang bernama Mpu Anala yang juga ditengarai sebagai nenek moyang wangsa Syailendra. Selain itu, bahasa Sansekerta dari candi Pawon adalah candi Banon dan nama ini sesuai dengan nama seorang raja lain yang kerajaannya juga berada di sekitar candi Pawon dan kisahnya diceritakan dalam prasasti Plumpungan (752), yaitu raja Bhanu yang berarti matahari. Raja Bhanu merupakan keturunan Mpu Anala yang pertama kali memakai gelar Syailendra. Meskipun telah bergelar Syailendra namun raja Bhanu belum lah sepenuhnya beragama Budha sehingga percandiannya (Pawon) masih bercirikan Hindu. Sebuah kemungkinan lain adalah bahwa nama Banon itu merujuk pada bahan yang dipergunakan untuk membangun candi Pawon, yaitu batu bata.

Candi yang direstorasi pada tahun 1903 ini ditujukan untuk memuja dewa api/ matahari dan sebagian ahli berpendapat bahwa candi tersebut juga ditujukan untuk memuja dewa kuvera (dewa kekayaan menurut adat Hindu; dalam Budha disebut sebagai dewa Jambhala). Pada candi memang terdapat relief dewa kuvera/ kubera dan juga relief yang menceritakan tentang pemujaan terhadap api. Yang paling istimewa di sini adalah bahwa terdapat relief arca “Kereta Matahari” yang berukuran khusus dan diberi bentuk yang jarang didapati.

Meskipun terdapat banyak pendapat dan data yang tidak singkron, candi Pawon pada jamannya merupakan sebuah bangunan non Budha atau setidaknya merupakan bangunan transisi dari Hindu menuju Budha yang paling gemilang. Posisinya yang segaris lurus dengan candi Mendut dan Borobudur yang memposisikan Pawon sebagai sumbu utama tentu bukan lah sebuah ketidaksengajaan pembangunan umat manusia, hingga kini candi Pawon tetap terlingkupi fenomena yang sangat misterius.

Bagi sebagian orang api merupakan lambang keangkaramurkaan, namun bagi sebagian lainnya api adalah dewa yang menyelamatkan mereka dari nafsu-nafsu angkara dan memberi beribu manfaat dalam menjalani kehidupan fana.
Kali ini kita akan menelisik sebuah candi yang hingga kini latar belakang sejarahnya masih menjadi perdebatan para ahli purbakala; sebuah candi yang relief-reliefnya menceritakan tentang pemujaan terhadap sang api, sang surya, dan Kubera, dewa kekayaan. Candi tersebut terkenal dengan nama candi Pawon. Pawon, merupakan perlambang abu dan api yang menyala membakar nafsu angkara di relung hati umat manusia. Begitulah setidaknya yang terbersit dari salah satu arti percandian ini. Candi Pawon yang terletak di desa Brajanalon, kecamatan Mungkid memiliki satu keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan candi-candi lain di sekitarnya.
Candi Pawon adalah sebuah fenomena sejarah umat manusia yang meskipun kecil sangat lah sukar untuk diukur kedalaman maknanya. Candi Pawon juga memiliki nama lain yang sesuai dengan nama desa tempat bangunan tersebut didirikan; Brajanalon, dari kata Bharajas – anala yang artinya Kilau Sang Api.

Terdapat perbedaan pendapat tentang jenis percandian yang pernah dipugar pada tahun 1903 ini. Sebagian ahli menganggapnya sebagai candi peninggalan kerajaan Mataram Budha. Hal ini didasarkan pada dugaan bahwa candi tersebut dibangun oleh raja Bhanu, yang menurut Prasasti Plumpungan adalah seorang raja dari wangsa Syailendra yang namanya juga menjadi nama lain dari percandian ini, yaitu candi Bhanon. Selain itu, letak candi Pawon yang sangat sinergis dengan dua buah candi Budha lainnya, yaitu Borobudur dan Mendhut, membuat keyakinan tersebut seolah menemukan pembenarannya. Relief yang terukir pada dindingnya juga menceritakan sebuah kisah tentang pemujaan umat manusia kepada Kubera, sang dewa kekayaan. Dalam kepercayaan Budha dewa ini disebut sebagai Jambhala, sesosok dewa yang dipuja karena dipercaya membawa berkah kekayaan nirwana. Sebelum bertobat Jambhala adalah sesosok raksasa yang gemar memakan manusia, namun atas kebesaran hati pangeran Sotasoma, yang juga merupakan titisan sang Budha Gauthama, raksasa tersebut akhirnya diampuni dan mendapatkan penghormatan atas pertobatannya.

Pangeran Sotasoma sejak muda telah membaktikan dirinya kepada kebajikan, ilmu pengetahuan, dan kesenian. Beliau mencintai seloka-seloka kesusilaan dan seringkali memberikan hadiah-hadiah mewah kepada penyair-penyair sajak yang demikian. Suatu ketika, saat sang pangeran sedang bersenang-senang dengan pengiringnya dalam sebuah taman dekat kota, datang lah seorang penyair Brahmana. Ia adalah pencipta seloka-seloka yang masyur. Pangeran menerimanya dengan ramah-tamah dan dengan penghormatan layaknya seorang brahmana. Beliau bersedia mendengarkan lantunan seloka yang dibawa sang penyair kebajikan.

Namun sebelum sang Brahmana mulai bertutur laksana, tiba-tiba datanglah Kalmaasapaada, putra Saudaasa, si pemakan manusia. Konon, raksasa tersebut adalah anak Saudasa dari persenggamaannya dengan seekor singa betina saat ia berburu di sebuah belantara. Ketika ia menjadi raja, rakyatnya memberontak dan raksasa pemakan manusia itu pun meminta bantuan kepada para hantu neraka dan berjanji bahwa ia akan mempersembahkan seratus orang pangeran kepada mereka. Segera si anak singa mengangkat sang Sotasoma di atas bahunya yang kekar dan berlari kembali ke bentengnya. Lolongan serigala yang kelaparan, derak gagak yang menyeruak tidak menggetarkan hati titisan sang Gauthama.

Tibalah mereka di tempat sang Kalmaasapaada namun karena sang pangeran teringat penebar seloka yang belum sempat diberinya emas permata, tersedu-sedan lah ia. Putra Saudasa mengira hati besar sang pangeran telah jirih melihat pancang-pancang pemanggang yang seolah menjemput kematiannya namun sang pangeran mengingkarinya, ia kemudian meminta ijin kepada putra singa untuk sekedar kembali sejenak memberikan hadiah kepada brahmana yang kecewa.

Putra Saudasa pun menyetujuinya. Setelah memberikan emas permata sekedarnya kepada sang brahmana, sang Sotasoma kembali kepada si pemakan manusia. Heran lah Kalmaasapaada, ia akhirnya memohon kepada pangeran Sotasoma agar melantunkan seloka-selokanya yang mulia.

Ngkaa tekang japa yoga siddhi regepen pangalaha
ri kacaktin ing Musuh; Tatva Cri vara-Bajrapaani
sira baayu pegengen I kadhiiran ing manah
mvang Lokecvara-cabda Caakyamuni-citta
gavayaken I tungtung ing hidep; byaktaavaas matemah
Bhataara paramaartha Jina kita divaangca bhasvara

(Berpeganglah pada mantra dan pada Yoga yang memberikan kesaktian agar dapat mengalahkan kejahatan. Tahan lah nafas, hakekat sang Bodhisattva Vajrapaani, dengan segenap keteguhan bathinmu; dan biarlah sabda suci sang Brahma menjadi pusat pengheninganmu. Pastilah pada suatu saat nanti Engkau akan menjadi Budha yang sesungguhnya, wujud penjelmaan yang lebih gilang-gemilang daripada cahaya)

Setelah merasakan indahnya syair pencerahan, tertunduk lah nafsu angkara yang selama ini membara di dalam dada si anak singa. Ia pun bertobat dan akhirnya mendapatkan ketinggian akhlaknya sebagai sang Kubera/ Jambhala.

Meskipun raja Bhanu merupakan raja pertama yang menggunakan nama Syailendra, namun sebagian ahli purbakala berpendapat bahwa raja tersebut bukan lah seorang penganut Budha sepenuhnya. Untuk itu lah oleh pemujanya, percandian yang dibangunkan untuknya tetap menggunakan simbol-simbol agama Hindu. Disamping itu, pada masa tersebut, Hindu dan Budha mulai tersimbolkan sebagai sebuah makna; sebuah sikap toleransi antar pemeluk agama yang luar biasa.

Sebagian ahli lain menduga bahwa candi Pawon tidak dibangun oleh Raja Bhanu. Di sepanjang bantaran subur sungai Progo ini dahulu terdapat beberapa kerajaan yang menjadi nafas Mataram kuno. Bharajas – anala diduga kuat merupakan nama penghormatan yang dipersembahkan kepada Mpu Anala, sang raja Mananggul. Mpu Anala juga diduga sebagai cikal-bakal para raja wangsa Syailendra. Kata Bhanon sendiri juga berarti Batu Bata. Apakah arti nama candi ini hanya merujuk pada bahan bangunan candi Pawon yang memang terbuat dari batu bata? Tentu saja tidak; keberadaan dua nama raja yang dahulu pernah mendirikan pemerintahannya di sekitar candi Pawon tidak lah bisa dipandang dengan sebelah mata.

Kata Bhanon lebih condong diartikan sebagai Matahari, sebuah sosok lain api yang kesakralannya sangat dipuja di candi ini. Matahari adalah lambang dari sang Civa yang menerangi kegelapan hati pemujanya. Untuk itu lah, pada dinding candi ini dipahatkan sebuah arca “Kereta Matahari” yang istimewa besarnya dan diberi bentuk yang jarang didapati. Ini lah penghormatan tertinggi kepada Syiwa yang melebihi dewa Trimurti lainnya.

Bhinneka Tunggal Ika,
Tan Hana Dharmma Mangrwa
(Berbeda namun satu jua, tak ada ajaran kebenaran yang berbeda)

Keberadaan candi Pawon menjadi salah satu lambang awal mula pembauran pemeluk Hindu dan Budha. Meskipun diawali pertentangan, kebenaran tetap menemukan penyatuannya.

Meskipun tidak seberapa megah, namun candi Pawon ternyata memiliki kisah yang justru belum diketahui kejelasannya. Candi Pawon merupakan bagian dari sejarah peralihan kekuasaan Hindu ke Budha dan menjadi sumbu bagi keberadaan dua candi Budha di sekitarnya.


Seri Candi Budha
(5) Candi Sewu

Bagi para ahli purbakala candi Sewu merupakan kelompok percandian Budha yang keindahannya mampu menyaingi kemegahan candi Hindu Roro Jonggrang. Kali ini kita akan menelusuri jejak kemegahan candi Sewu yang menyimpan begitu banyak fenomena yang masih terselubungi oleh pekatnya jaman.

Candi Sewu letaknya kurang lebih satu kilometer dari candi Roro Jonggrang. Kedua gugusan candi yang berdekatan tersebut seolah melambangkan dua kekuatan besar yang masing-masing berusaha merebut lebih banyak perhatian. Namun sayang, kelompok candi Sewu belum sepenuhnya direkonstruksi ulang. Kelompok candi Sewu terdiri dari beberapa gugusan candi yang mengelilingi kelompok bangunan utamanya. Candi-candi tersebut adalah candi Lumbung, Bubrah, Kulon, Lor, dan Asu. Semuanya dalam keadaan yang menyedihkan.

Candi Lumbung
Dinamai Lumbung karena candi utamanya mirip dengan bentuk bangunan lumbung padi pada umumnya. Candi Lumbung terdiri atas sebuah candi induk yang dikelilingi enam belas candi perwara atau candi pendamping yang membentuk bujur sangkar. Dahulu, di sekeliling kelompok candi Lumbung terdapat sebuah tembok memanjang yang membatasi kompleks bangunan suci umat Budha ini. Namun karena pusat pemerintahan kerajaan Mataram kuno pada saat itu diperkirakan telah dipindahkan ke daerah Jawa Timur, candi ini kemudian terabaikan sehingga lapuk ditelan jaman. Selain dilingkupi oleh tembok keliling, kelompok candi ini dulunya juga dijaga oleh dua buah arca raksasa besar yang kini tidak lagi ditemukan di bagian ini.

Dinding luar candi utama dihiasi dengan arca-arca relief yang tidak lagi terlihat dengan jelas. Di bagian dalam candi utama terlihat bilik utama yang telah kosong. Di dalamnya dahulu diperkirakan terdapat arca Budha yang diapit oleh para Boddhisatva yang ditempatkan di dalam tiga buah relung di dinding belakang arca utama. Semua sisi tembok memiliki jumlah relung yang sama. Relung tersebut dulunya ditempati oleh Budha dan kedelapan Boddhisatvanya. Relung di bagian kiri dan kanan pintu masuk kemungkinan merupakan tempat Kuvera dan Hariti sang dewa kekayaan dan dewi kesuburan. Keenam belas candi perwara menghadap ke arah candi induk sebagai pusatnya. Di dalam setiap candi perwara dulu juga dipastikan terdapat arca-arca. Jumlah arca berbeda-beda pada setiap candi; kadang satu dan terkadang tiga. Seperti halnya pada candi induk, arca-arca tersebut sekarang telah pula lenyap karena kerakusan umat manusia.

Di dekat candi induk terdapat sebuah lempengan batu besar yang berpahatkan sebuah arca relief, tidak diketahui secara jelas tempat batu ini berasal namun yang jelas, lempengan ini dulunya pasti berada di dalam salah satu candi ini.

Candi Bubrah
Gugusan lain dari kelompok candi Sewu adalah candi Bubrah. Letaknya hanya beberapa meter di sebelah utara candi Lumbung. Seperti namanya yang berarti “terbongkar”, kelompok candi ini benar-benar rusak tak terawat. Kompleks ini terdiri atas sebuah reruntuk bangunan candi yang berdiri di atas landasan yang luas. Pada masa keemasannya candi Bubrah pastilah sangat megah. Hal ini dapat terlihat dari pahatan relief bermutu tinggi yang masih dapat dijumpai di bagian dinding candi yang masih utuh. Selain itu, hasil seni pahatnya yang saat ini kebanyakan berada di museum juga tidak dapat dipandang dengan sebelah mata. Seni arca tersebut berupa sejumlah makara istimewa yang belalainya adalah kepala ular atau kepala singa berparuh burung, serta arca-arca Dyani Budha yang duduk di atas singgasana berukirkan bunga seroja. Selain candi Lumbung dan candi Bubrah, masih terdapat beberapa gugusan candi lain yang mengelilingi kelompok utama candi Sewu.

Gugusan candi lain
Di sebelah barat kelompok utama candi Sewu terdapat sekelompok bangunan yang dinamai candi Kulon yang berarti Barat. Keadaannya tidak terpaut jauh dari gugusan candi Bubrah. Yang tersisa hanyalah reruntuk kemegahan sebuah tempat suci umat Budha.
Di sebelah utara terdapat gugusan candi Lor yang pula tidak jauh berbeda dengan candi lain di sekitarnya. Nama Lor berarti Utara, tepat seperti posisi candi dalam kelompok candi Sewu seutuhnya.

Di sebelah timur adalah kelompok candi Asu yang memiliki peninggalan paling utuh di antara kelompok percandian lainnya. Candi ini juga menjadi gerbang menuju kelompok utama candi Sewu. Di dalam candi Asu masih dapat ditemui sejumlah besar arca Kuvera yang terbuat dari perunggu dan beberapa arca lainnya. Penempatan arca Kuvera pada bagian gerbang utama sebuah candi telah lazim didapati di percandian Budha.
Meskipun kelompok candi yang melingkupi kompleks utama candi Sewu terkesan tidak beraturan namun sebenarnya candi-candi tersebut mengawali jalan masuk ke gugusan utama candi Sewu. Pintu masuknya berada di sebelah Timur. Melalui gerbang ini perjalanan ritual umat Budha akan memasuki halaman persegi empat yang berukuran 185 x 165 m yang di tengahnya berdiri kokoh gugusan utama candi yang terdiri atas sebuah candi induk yang dikelilingi oleh empat baris candi perwara.

Setiap baris candi perwara ini terdiri dari 88, 80, 44, dan 28 buah bangunan. Pintu masuknya kesemuanya menghadap ke arah luar kecuali yang ada pada baris kedua yang menghadap ke arah candi induk. Setiap candi perwara pada sisi tembok luarnya terpahatkan sejumlah 13 buah arca relief. Tidak semua candi perwara dalam kondisi utuh, hanya pada deretan tengah saja yang terlihat paling teratur.
Bagian dalam setiap candi perwara juga berbeda-beda. Perbedaan tersebut terletak pada jumlah alas dan relung yang menjadi tempat arca-arca; ada yang hanya memiliki satu alas dan ada pula yang lebih. Hingga kini hanya tersisa sejumlah 31 buah arca Budha dan sebuah arca Boddhisatva.

Di antara baris kedua dan ketiga terdapat sebuah halaman yang sangat lebar dan di sini ditemui sisa-sisa setidaknya lima buah candi apit. Candi yang terdapat pada kompleks candi Sewu berjumlah 249 buah. Meskipun jauh dari angka seribu namun jumlah yang sedemikian kiranya dapat terwakili oleh kata sewu yang berarti seribu.
Kelompok candi Sewu sisi-sisinya menghadap ke arah mata angin utama. Empat pasang arca penjaga yang memiliki tinggi 2,5 meter berdiri kokoh di pusat-pusat halaman di tempat gapura asli berada. Meskipun mereka membawa senjata gadha, golok dan ular, arca-arca tersebut tetap memiliki ciri khas arca Budha yang ada di tanah Jawa. Wajah mereka begitu bersahabat.

Di sudut Timur Laut terdapat salah satu candi apit yang telah direkonstruksi. Puncak stupanya melambangkan sifat azali sang Adi-Budha. Susunan stupa yang melingkupi atap candi begitu luar biasa. Terdapat hiasan relief yang penuh makna terukir indah di atas pintu-pintu masuk candi apit. Salah satunya adalah sekelompok penari wanita yang diarahkan dan diberi irama oleh pendeta-pendeta berjanggut. Relief ini secara tersirat menceritakan penyelarasan nafsu dunia dengan ajaran Budha. Para pendeta bertugas memberikan arahan dan pencerahan kepada manusia yang dipenuhi keinginan duniawi.

Bagian dalam candi utama memiliki sebuah bilik tengah dan empat buah bilik samping. Dari keempat bilik samping tersebut keindahan detil bangunan candi utama dapat tertangkap imajinasi dengan indahnya.
Selain sebagai jendela yang menghantarkan seribu doa ke nirwana, bentuk relung pada bilik-bilik samping candi utama juga memiliki keunikan daya cipta umat manusia yang luar biasa; desain yang dipahatkan sungguh serupa dengan karya arsitektur peradaban Islam yang lebih menonjolkan lengkungan khas pada ujung-ujung relungnya. Selain itu, ketelitian cita rasa peradaban Budha juga terlihat di pahatan jambangan bunga yang dahulu dipakai sebagai tempat arca utama.

Pada pintu sisi timur, terukir indah makara-makara yang luar biasa. Pada beberapa bilik samping masih dapat dilihat dengan jelas relief singa-singa beserta para pengendaranya.

Bilik tengah seharusnya ditempati oleh arca Budha Tertinggi dan keempat bilik sampingnya mungkin ditempati oleh keempat Dyani Budha beserta para istrinya dan empat Wajraboddhisatva yang mewakili aliran Vajradhatu.
Berdasarkan bentuk huruf yang ditemukan dalam prasasti batu tertulis yang ditemukan di sekitar candi perwara, dapat diduga bahwa kelompok candi Sewu ini dibangun pada sekitar pertengahan abad kesembilan, waktu yang cukup lama untuk sebuah bangunan peninggalan nenek moyang.

Meskipun sebagian besar kelompok candi Sewu masih belum direkonstruksi ulang, tetap saja keindahannya dapat dirasakan oleh siapa pun yang pernah mengunjunginya. Tatanan letak candi perwara dan utamanya sangat melambangkan konfigurasi konsep ajaran Budha. Seribu candi mengantarkan seribu doa umat ke nirwana.




Seri Candi Budha
(6) Candi Sambisari


Salah satu candi yang menjadi saksi bisu sebuah penyatuan Hindu-Budha setelah terjadinya perang saudara yang membuat Mataram kuno terpecah menjadi dua adalah candi Sambisari. Candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan dan ratu Pramodawardhani. Ini adalah sebuah lambang persaudaraan dan penyatuan.

Pada pemerintahan Raja Sanna bumi Mataram bak lautan emas yang mampu menyilaukan mata para dewa yang menyaksikan pendarnya dari nirwana. Kemegahan ini pun berlanjut ketika tahta kerajaan dikendalikan oleh Raja Sanjaya, yang juga keponakan dari Raja Sanna. Rakyat Mataram hidup makmur, aman, dan tenteram.

Seluruh kerajaan di sekitarnya takluk atas kearifan sang Raja. Ketika Rakai Panangkaran naik tahta, agama Budha mulai berkembang di Jawa Dwipa. Benih-benih perseteruan pun menjadi bara dalam sekam. Setelah pemerintahan Rakai Panangkaran, keluarga Syailendra pecah menjadi dua. Sebagian memeluk Hindu dan sebagian menganut Budha. Kerajaan pun pecah! Keluarga Syailendra yang beragama Budha berkuasa di wilayah Jawa Dwipa bagian Selatan; Sedangkan yang beragama Hindu menguasai bagian Utara.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Rakai Pikatan dari Utara telah meluluhkan bara dendam dua saudara. Sang raja mempersunting Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga. Kemudian, dibangun lah banyak candi Hindu dan Budha. Agung, sakral dan penuh makna. Sebagai salah satu persembahan cinta.

Sesuai dengan namanya, candi penyatuan ini terletak di desa Sambisari, kelurahan Purwomartani, lebih kurang 12 km ke arah timur dari kota Yogyakarta. Perjalanan dari kota Yogyakarta dapat ditempuh dengan bus jurusan Yogya-Solo dan berhenti di kilometer 10, tepat pada sebuah papan petunjuk menuju candi. Dari sini, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan alat transportasi lokal semisal ojek dan dokar. Jarak dua kilo seolah menjadi sebuah perjalanan panjang yang ditempuh para ksatria Mataram saat berpacu melawan dendam.

Candi Sambisari diketemukan sekitar tahun 1966 oleh Karyoinangun, seorang petani yang secara tidak sengaja membenturkan mata cangkulnya pada pucuk candi yang terbenam di tanah peladangannya. Berdasarkan penelitian geologis terhadap batuan candi dan tanah yang telah menimbunnya selama ini, candi setinggi tujuh setengah meter tersebut telah terbenam oleh material gunung merapi dalam letusan hebat yang terjadi pada tahun 1006 M.

Kompleks candi Sambisari memiliki empat buah bangunan candi yang dikelilingi oleh sebuah tembok penyatu dengan total luas 50x48 m. Bangunan utama memiliki ketinggian tujuh setengah meter dan berbentuk bujur sangkar yang berukuran 13,65 x 13,65 m pada bagian bawah dan 5 x 5 m pada badan candinya. Candi yang diperkirakan dibangun pada sekitar abad kesembilan dan kesepuluh ini merupakan lambang penyatuan antara kerajaan Mataram Hindu dan Mataram Budha. Pada candi utama, pintu masuk menghadap ke barat dan terdapat tangga dengan bentuk sayap pada sisi kanan-kirinya.Tepat di ujungnya, terdapat Makara yang disangga oleh dua buah tangan makluk kate.
Pada relungnya, terdapat patung Syiwa Mahaguru dan Lingga-Yoni yang menyimpan fenomena umat manusia dan jagad raya. Di bagian luar, Durga menjaga sisi utara; Agastya di sisi selatan; dan Ganesya di sisi timur. Diperkirakan terdapat dua patung penjaga pintu, Mahakala dan Nadisywara yang saat ini telah lenyap ditelan keserakahan umat manusia.

Tiga buah candi kecil lain di depan candi induk mengisyaratkan sebuah perlambang sejati yang belum terungkap secara keseluruhan. Mungkin merupakan jalan yang harus ditempuh umat manusia saat berbulat hati menyibak perjalanan sakral menuju nirwana. Namun sebagian besar kisah candi ini masih menjadi sekelumit bagian dari fenomena candi yang ada di tanah air kita. Candi ternyata tidak hanya bangunan semata. Perjalanan menuju nirwana seringkali justru menjadi filosofi utama yang harus kita pahami pemaknaannya.


Seri Candi Budha
(7) SITUS RATU BOKO

Dataran tinggi Ratu Boko merupakan sebuah peninggalan purba yang dipercaya merupakan petilasan keraton prabu Boko, seorang raja beragama Budha yang memiliki seorang putri yang kemasyurannya hingga saat ini masih terdengar, yaitu Roro Jonggrang. Kisah putri itu sendiri lebih melegenda pada latar belakang kisah yang ada di candi Prambanan atau candi Ciwa. Sebagian ahli menganggap prabu Boko sebenarnya adalah nama lain dari raja Samaratungga dan Roro Jonggrang adalah putri Pramodhawardhani.
Para seniman jaman Hindu memiliki gaya penceritaan yang luar biasa sehingga kisah yang mereka susun melegenda hingga sekarang. Jika ditilik dari jenis candi Prambanan yang tergolong candi Hindu, dugaan tersebut mungkin sekali benar. Para seniman menggambarkan kisah pernikahan Pramodawardhani yang beragama Budha dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu sebagai kisah Raden Bandung dan Roro Jonggrang. Secara implisit digambarkan bahwa sebenarnya Pramodawardhani yang beragama Budha tidak berkenan menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu namun karena sesuatu hal sang putri akhirnya menyetujui pernikahan tersebut. Setelah Samaratungga wafat, Rakai Pikatan kemudian menyingkirkan Balaputradewa, saudara lelaki Pramodhawardhani, dan kemudian membangun candi Hindu-Budha Plaosan yang ia persembahkan kepada permaisurinya yang beragama Budha. Sang putri pun dalam hati kecilnya menolak dan kemudian penolakan itu oleh para seniman Hindu yang memihak Balaputradewa digambarkan, dalam kisah yang ada pada candi Prambanan, menyebabkan kemurkaan Raden Bandung (Rakai Pikatan) yang kemudian mengutuk Roro Jonggrang (Pramodhawardhani) menjadi patung. Dalam kenyataannya, Pramodhawardhani memang harus hidup bagaikan patung, tidak berdaya melawan kekuasaan Rakai Pikatan. Sungguh sebuah seni ironi yang luar biasa!

Prambanan merupakan daerah yang menyimpan banyak sekali peninggalan purbakala. Beberapa bangunan luar biasa berada di tempat ini dan salah satunya adalah sisa kerajaan Ratu Boko, seorang raja Mataram Budha yang kisahnya memunculkan banyak legenda pada candi-candi yang berada di sekitarnya. Kisah apa yang berada di balik keindahan dan kemegahan reruntuk keraton tersebut? Mari kita telusuri bersama.
Untuk mengunjungi kawasan keraton Ratu Boko, dari pasar Prambanan kita harus mengambil jalan yang menuju ke arah Selatan. Jalan tersebut mengarah ke kaki sebuah bukit dan setelah menyusur ke arah Barat kita akan menemui jalan yang membelah bukit menuju puncak dataran tinggi Ratu Boko.

Dinamai Situs Ratu Boko karena diyakini keraton ini dulu diperintah oleh seorang raja Mataram Budha yang bernama Ratu Boko. Beliau adalah ayahanda Roro Jonggrang yang kisahnya melegenda pada candi Prambanan. Lalu, apa hubungan antara keraton Ratu Boko dan candi Prambanan dan siapakah sebenarnya Ratu Boko dan Roro Jonggrang itu sendiri? Mari kita ikuti fenomena Keraton Ratu Boko berikut ini.
Napak tilas penelusuran fenomena keraton Ratu Boko dimulai dari jalan landai yang membelah sebuah halaman mengarah ke tiga buah tangga yang menuju ke gapura berganda tiga. Di belakangnya terdapat gapura lain yang berganda lima dengan lima buah tangga dan sebuah beranda di depannya. Atap pada pintu tengah dari gapura berganda lima yang lebarnya lebih dari tiga meter ini belum diketemukan. Kelompok gapura yang serba besar ini memiliki susunan desain yang kecermatannya tidak tertandingi oleh gapura keraton lain atau candi manapun juga pada masa Jawa kuno.

Di antara kedua gapura ini terlihat tanda adanya sebuah halaman berukuran 170 x 20m yang dulunya dibatasi oleh gapura-gapura kecil pada setiap dinding sisinya. Lantainya terdiri atas lima jalur yang difungsikan untuk tujuan tertentu. Di ujung halaman sisi utara terdapat sebuah bangunan menjulang yang terbuat dari batu yang dulunya diperkirakan dipergunakan sebagai tempat pembakaran jenazah. Pada waktu itu pastilah terdapat sebuah tangga kayu yang digunakan untuk mencapai bagian atas bangunan ini.

Di balik gapura berganda lima, terdapat sebuah halaman lebar yang berukuran sekitar 160 x 160 meter. Di bagian ini dapat dijumpai berbagai macam sisa peninggalan kemegahan sebuah kerajaan.
Alun-alun ini dikelilingi oleh parit selebar 1,5 meter dan di atasnya terbentang kokoh tembok batu yang ditujukan untuk melindungi wilayah keraton. Pada sisi utara dan timur lahan dibatasi oleh tebing padas yang menjulang.

Di pojok timur laut alun-alun terdapat sebuah bangunan yang mirip dengan yang ada pada halaman sebelumnya. Namun, pada bangunan ini masih terdapat sebuah tangga yang memungkinkan kita melihat bagian atas bangunan. Sisa-sisa pembakaran yang ada di dalam perigi menggiring ke dugaan bahwa tempat ini dulunya memang digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah; namun pendapat ini belum sepenuhnya terbukti.
Diperkirakan tepat di sebelah bangunan tinggi tersebut dulunya terdapat sebuah kolam penampungan air. Di bagian tengah halaman ditemukan beberapa umpak dan pondamen yang diperkirakan dulunya berfungsi sebagai landasan penyangga sebuah bangunan besar yang terbuat dari kayu, yaitu istana utama Ratu Boko.

Konon, keraton Ratu Boko adalah sebuah keraton yang terkenal memiliki keindahan bak taman kahyangan. Para putri kedhaton nan jelita senantiasa menikmati taburan seribu bunga di pertamanan kaki nirwana tersebut. Keindahan keraton ini begitu termasyur pada jamannya. Banyak raja dan pejabat tinggi kerajaan lain menyempatkan diri menyambangi keraton ratu Boko untuk menikmati panorama keduniawian yang tersemat kepadanya. Pada suatu hari, salah seorang pangeran yang bernama Raden Bandung bersua dengan seorang putri nan jelita di sebuah taman saat ia berkunjung menikmati keindahan panorama keraton kahyangan tersebut. Sang pangeran pun terpana dalam keindahan cinta. Putri tersebut tak lain adalah Roro Jonggrang, salah seorang calon pewaris tahta keraton Ratu Boko.

Konon, Raden Bandung yang telah jatuh hati kepada Roro Jonggrang kemudian meminang putri Kahyangan tersebut. Dengan penuh keyakinan ia menemui sang Prabu Boko, ayahanda Roro Jonggrang. Karena tekanan dari Raden Bandung yang memiliki kekuatan pasukan perang yang besar, Ratu Boko akhirnya tidak berdaya menolak pinangan Raden Bandung. Sang putri yang mengetahui nasibnya telah ditentukan berusaha menemukan cara agar pernikahan tersebut tidak terjadi. Roro Jonggrang berusaha menggagalkan pernikahannya dengan Raden Bandung namun upayanya justru membuatnya menanggung kutukan yang legendanya sangat terkenal di candi Prambanan.
Sementara itu, sang Prabu Boko yang merasakan kepedihan atas takdir yang menimpanya bersikukuh untuk mengasingkan diri dari keramaian dunia fana ini. Beliau kemudian mengasingkan diri kedalam bilik persemadian yang sengaja ia pahatkan pada dinding padas di bagian belakang keratonnya yang megah.

Sebagian ahli menganggap ratu Boko sebenarnya adalah raja Samaratungga, Roro Jonggrang adalah Pramodhawardhani, dan Raden Bandung adalah Rakai Pikatan. Kisah tragis mereka digambarkan secara indah oleh para seniman Mataram Hindu yang memang terkenal pandai dalam membuat perumpamaan dan kiasan.
Jika ditilik dari jenis candi Prambanan yang tergolong candi Hindu, dugaan tersebut mungkin sekali benar. Para seniman menggambarkan kisah pernikahan Pramodawardhani yang beragama Budha dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu sebagai kisah Raden Bandung dan Roro Jonggrang. Secara samar digambarkan bahwa sebenarnya Pramodawardhani yang beragama Budha tidak berkenan menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu namun karena sesuatu hal sang putri akhirnya menyetujui pernikahan tersebut. Setelah Samaratungga wafat, Rakai Pikatan kemudian menyingkirkan Balaputradewa, saudara lelaki Pramodhawardhani, dan kemudian membangun beberapa candi Hindu-Budha semisal Plaosan dan Ngawen.

Setelah waktu berlalu, pengganti Rakai Pikatan kemudian membangun candi Prambanan dan oleh para seniman yang bersimpati kepada Pramodhawardhani dan Balaputradewa percandian tersebut digunakan sebagai media kisah ironi mereka.
Untuk melihat kelompok situs lainnya kita harus menyusuri tembok gapura berganda lima menuju selatan lalu membelok ke timur. Kita kemudian akan tiba di desa Dawung.
Dari sisi selatan desa, terlihat dengan jelas sosok Landasan Pendopo yang besar. Landasan yang dulu di atasnya berdiri sebuah pendopo megah ini berukuran kurang lebih dua puluh meter per segi. Di sekitar tempat ini terlihat batu-batu pondamen berserakan, bahkan sebagian telah tertutup ilalang dan tertimbun tanah pertanian.
Di sebelah Timur Laut tampak sebuah dinding batu yang dipahat berlobang-lobang. Fenomena apakah yang tersembunyi di balik relung tersebut? Di sisi timur landasan pendopo, terdapat sebuah gugusan peninggalan lain yang berupa reruntuk gapura, tembok, dan kolam.

Lebih jauh ke sisi timur, semakin banyak ditemukan peninggalan purbakala yang luar biasa indah. Para penduduk sekitar menyebut tempat ini sebagai keputren, tempat para putri kedhaton memanjakan diri.
Di tempat ini ditemukan pahatan batu yang berbentuk seperti genderang yang berjumlah enam belas buah. Genderang tersebut dihiasi dengan ukiran binatang yang berjajar. Setiap batu memiliki ukiran yang berbeda. Apakah ukiran tersebut menafsirkan perlambang kehidupan dan ilmu pengetahuan? Hingga kini para ahli purbakala belum mampu menjawab pertanyaan ini.

Pada dinding batu karang yang menjulang terdapat relung-relung bilik. Relung tersebut sengaja dipahatkan untuk tujuan tertentu. Ruangan-ruangan tersebut menurut cerita merupakan tempat sang raja mengundurkan diri saat mengheningkan cipta memohon petunjuk kepada para dewata.
Dari tebing yang dipenuhi relung persemadian tersebut, perjalanan masih dapat diteruskan menuju puncak dataran tinggi yang juga merupakan kaki nirwana kahyangan. Dari sini kita dapat menikmati pemandangan indah sekitar Prambanan yang menghampar luas di bawah dengan gugusan megah candi Roro Jonggrang sebagai sumbunya.
Kepedihan tidak hanya milik rakyat jelata. Para raja dan keluarganya juga seringkali harus menahan rasa perih yang mendera. Terlepas dari itu semua, keraton Ratu Boko merupakan sebuah peninggalan kemegahan pada jamannya. Letaknya yang berada di puncak bukit seolah melambangkan jembatan menuju nirwana.

Wednesday, October 18, 2006

ILMU-LEGENDA-PROTEKSI KOMUNAL

Sederhana sekali..., beberapa kali melakukan riset untuk naskah film ato dokumenter selalu ada satu persamaan kendala. Bukan pada bahan atau kesulitan teknis, lebih dari itu... adalah upaya untuk meluruskan sejarah ilmiah dan legenda yang berkembang di masyarakat!

Seringkali protes saya tuai dari sana-sini saat mereka yang kurang puas terhadap tulisan saya menuding semua yang tertulis hanyalah rekayasa ngawur... justru sebaliknya, I did researches n that's what I got from the fields.

masalah klasik memang... tetapi satu hal yang tetap saya pegang... legenda tetap legenda dan memiliki tempat tersendiri di dalam pencitraan dan pelarian bathin pemercayanya sedangkan ilmu harus tetap diperjuangkan ada dan jangan sampai tersamar oleh segala sesuatu yang bukan ilmu....

Friday, September 15, 2006

TOMY'S WORK



Salah satu konsep animasi Tomy. He's such a talented man in this world!
Smoga kita cepet bisa kerja sama Man!!!

Tuesday, July 04, 2006

THE DA VINCI CODE DAN KARYA ‘BERBAHAYA’ LAIN:

Antara Fiksi, Fakta, dan Kredo
Arief Dermawan

Tidak sedikit karya Hollywood yang mengundang banyak kontroversi di negara tertentu, taruhlah True Lies yang dituduh melecehkan masyarakat muslim, atau Memoir of A Geiza yang dituding oleh pemerintah Jepang menguak sensualitas yang tidak sepatutnya dipertontonkan, dan yang terhangat saat ini adalah The Da Vinci Code, sebuah karya sinematografi yang disutradarai oleh Ron Howard dan merupakan deformasi utuh dari novel dengan judul yang sama.

Di Amerika Serikat sendiri (dan di sebagian besar Negara Barat dan Eropa), karya-karya yang berbau sensitif (baca: SARA) tidak terlalu mendapatkan tekanan dari publik pencermat. Isu panas semisal kebebasan penafsiran beragama, homoseksual, kebobrokan sistem pemerintahan, rasialisme, dan kekerasan dalam bidang industri telah jamak diangkat sebagai topik utama dalam karya massal dan tidak terlalu menghadapi resiko pembredelan dari pemerintah. Bahkan The Da Vinci Code yang menghebohkan tersebut tidak mendapatkan tanggapan istimewa di kancah Canes Film Festival. Perbedaan kualitas pemahaman sebuah karya disebabkan salah satunya oleh tingkat kedewasaan publik yang lebih mampu menyikapi sebuah karya sebagai khasanah pemikiran dan budaya.dan bukan sebagai alat propaganda belaka.
Di Indonesia sendiri, karya-karya “panas” semacam itu hanya mendapat peraduan hangat di kalangan terbatas semisal kritikus, apresiator, dan kelompok pemikir lainnya. Sisanya seringkali hanya melihat karya sebagai sebuah deklarasi tentang sesuatu hal yang bagi mereka sangat membahayakan dan tidak sejalur dengan kredo yang mereka yakini sehingga harus dihentikan penyebarannya tanpa melakukan kajian yang matang terlebih dahulu. Di Indonesia sebuah karya seringkali dipandang sebagai cerminan fakta yang harus disikapi secara ekstra hati-hati karena dikhawatirkan dampak yang mengikutinya akan melemahkan keimanan dan tatanan lain yang telah mapan di masyarakat.

Kita sebenarnya harus mampu membedakan apakah sebuah karya tersebut merupakan karya ilmiah atau kah karya fiksi semata yang kebetulan diproduksi berdasarkan riset ilmiah yang jauh lebih lama dan lebih valid ketimbang yang dilakukan oleh kebanyakan cendekiawan kita dalam meraih gelar akademisi keilmuannya. Dalam hal ini kita harus mempertimbangkan proses produksi-konsumsi sebuah karya yang pada dasarnya dilakukan untuk memompa hasil penjualan tiket. Karya sukses semisal Harry Potter, The Lord of The Ring, Planet of Ape, King Kong dan bahkan animasi Finding Nemo pada proses pra-produksinya juga mengutamakan riset mendalam yang sangat serius yang kemudian secara keseluruhan diimplementasikan ke dalam sebuah “realita” layar lebar. Kemampuan seluruh elemen pendukung industri perfilman sangat menentukan kesusksesan sebuah film. Sebagaimana The Da Vinci Code dianggap sebagai sebuah karya yang menampilkan sisi lain dari sebuah kredo, hal yang hampir sama terjadi pada karya novel fiktif lokal S.H. Mintarja yang mampu menanamkan kepercayaan di benak pembacanya tentang keberadaan keris Nogo Sosro dan Sabuk Inten di dunia nyata ini. Tapi yang jelas, aku sang kreator, mereka tidak bermaksud merombak kredo yang selama ini telah mapan tetapi lebih pada upaya untuk meningkatkan sisi artistik dan kreatif dari karya mereka. Ini berarti bahwa karya tersebut memang murni sebagai karya fiksi dan dampak yang dihasilkan semata-mata hanyalah hasil dari kerja keras dan kecerdasan mereka dalam berkreasi dan menghidupkan atmosfir yang telah direncanakan secara apik dalam skenario.
Jika kita mencermati secara lebih seksama pada karya sinematografi (baik dalam bentuk film layar lebar maupun sinetron) yang ditayangkan di pertelevisian nasional dewasa ini, sebenarnya banyak sekali hal yang pada dasarnya sama dengan yang diangkat dalam The Da Vinci Code namun tidak mendapatkan respon atau reaksi keras dari pemirsa. Banyak film Hollywood yang menampilkan sosok kriminal atau karakter antagonis lainnya yang diekspos mengenakan kalung salib saat mereka melakukan tindak kejahatan atau asusila. Lihat pula berbagai adegan sinetron bergaya Islami yang sama sekali bertentangan dengan ajaran hakiki agama Islam terutama yang berkenaan dengan masalah gaib. Kenapa tidak terjadi protes dari masyarakat?
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan karya-karya tersebut tidak mendulang reaksi keras di Indonesia. Pertama, efek publikasi dan apresiasi yang tidak begitu heboh; kedua, ketidakpedulian masyarakat terhadap kejanggalan yang ditampilkan dalam karya tersebut; dan ketiga, ketidakmampuan sineas kita dalam menghasilkan karya fiksi yang benar-benar hidup sehingga publik pemirsa masih berada di alam sadar saat menonton acara yang mereka anggap sebagai media hiburan belaka. Berbeda dari kasus The Da Vinci Code dan True Lies misalnya, kedua karya tersebut diapresiasi sebagai sebuah karya ilmiah dan seolah merupakan presentasi dari nilai-nilai yang dipercayai ingin disebarluaskan oleh sang kreator.

Saya pernah mengalami masalah yang sama saat melakukan riset awal untuk naskah serial Fenomena Candi yang ditayangkan oleh TVRI nasional. Saat mengadakan diskusi kecil dengan beberapa saudara pemeluk Budha tentang latar belakang budaya candi Pawon, mereka memprotes pernyataan saya tentang kemungkinan candi Pawon tidak dibangun oleh masyarakat Budha. Klaim bahwa candi Pawon dibangun oleh masyarakat Budha menurut saya tidak terlepas dari kepercayaan kuat tentang posisi tatanan kosmos yang meliputi kesatuan candi Mendhut (yang oleh dr. De Casparis disebut sebagai preparathory bhumi) – Pawon – Borobudhur. Tatanan tersebut hingga kini menjadi satu kesatuan prosesi suci yang mereka jalani.

Keraguan saya terhadap latar belakang budaya yang ada pada candi Pawon sebenarnya berdasarkan pada berbagai data arkeologis yang terlihat tidak sinkron. Meskipun terdapat data yang menyatakan bahwa candi Pawon dibangun pada akhir abad kedelapan yang berarti pada jaman keemasan wangsa Syailendra yang beragama Budha, namun sebagian besar data justru mengarah pada simpulan bahwa candi Pawon merupakan warisan kebudayaan masyarakat Hindu. Dari bentuk fisik bangunan candi yang bergaya Syiwais dan relief yang cenderung menggambarkan perlambang Hindu, data lain tahun pembangunan yang menyebutkan candi ini dibangun pada Abad Ketujuh yang masih dikuasai oleh para penganut Syiwa (Prasasti Plumpungan), hingga kajian terhadap morfologi nama candi itu sendiri yang kebanyakan berasal dari nama-nama Hindu atau perlambangnya; candi Pawon kemungkinan berasal dari kata: 1) Banon, yang mirip dengan nama Raja Bhanu yang meskipun merupakan keturunan wangsa Syailendra tetapi dipercayai masih belum sepenuhnya memeluk agama Budha, apalagi arti Bhanu itu sendiri adalah Matahari, perlambang Syiwa yang disembah oleh kaum Hindu, 2) Bharajas Anala, yang berarti ‘kilau sang api’, dan 3) Bhanon, yang berarti batu bata, bahan bangunan candi Pawon.

Setidaknya, candi Pawon merupakan bangunan yang menunjukkan arsitektur campuran dari dua kebudayaan besar Hindu – Budha, sebagaimana halnya rancang bangun masjid Agung Demak yang juga tidak dapat dilepaskan dari pengaruh arsitektur budaya Hindu. Di Indonesia, campuran budaya seperti ini telah umum dipraktekkan dengan berbagai tujuan dan alasan yang pada dasarnya mengacu pada penyebaran suatu keyakinan secara damai dan tersamar seperti yang dapat kita lihat pada campuran adat Jawa – Islam, Batak – Nasrani, dsb. Bahkan sistem adaptasi ini berlaku sepanjang jaman, tidak hanya pada masyarakat tradisional dan tidak melulu berskala besar saja (cermati karya Chairil Anwar Antara Kerawang dan Bekasi yang memiliki nuansa kesusastraan yang sama dengan The Young Dead Soldiers atau berbagai acara televisi kita saat ini yang penuh dengan karya adaptasi).

Berkenaan dengan pola interpretasi terhadap suatu karya, selintas saya teringat pada peristiwa kecil yang terjadi sewaktu saya masih menimba ilmu secara formal di fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Salah seorang pengajar pernah mengajukan pertanyaan, “Kenapa orang Timur cenderung memvisualisasikan wujud naga sebagai seekor ular besar panjang berkaki empat dan memiliki tanduk dan taring yang menyeringai (naga dalam mitologi China, pewayangan Jawa, dan folklore masyarakat Jawa) serta kenapa seorang raksasa harus dalam perwujudan fisik yang menyeramkan (tokoh Butho dalam pewayangan, Genderuwo dalam mitologi Jawa)? Coba bandingkan dengan visualisasi Barat terhadap naga yang wujudnya cenderung menyerupai dinosaurus (meskipun juga memiliki semburan api yang imajinatif) dan raksasa yang cenderung memperbesar skala ukuran manusia tanpa harus memiliki wajah yang menyeramkan (karakterisasi tokoh raksasa dalam Gulliver’s Travels, Jack and the Bean Stalk, bahkan Shrek sekalipun)?”
Hal ini bagi saya dan mungkin sebagian besar pembaca dapat menjadi titik tolak menuju pemahaman adanya satu interpretasi personal yang kemudian berkembang menjadi interpretasi kultural dan pada akhirnya akan mendarah-daging menjadi satu mitos dalam kebudayaan (kebudayaan itu sendiri).

Taruhlah beberapa contoh sejenis lainnya, misal, keberadaan makluk halus dewasa ini menjadi begitu populer untuk dibahas. Dimulai dari desas-desus kelompok kecil masyarakat, diangkat ke dalam cerita cetak, didramatisir dalam siaran radio dan diurat-nadikan oleh siaran pertelevisian kita. Pernahkah kita berfikir dalam pola kebudayaan untuk menyikapi hal tersebut? Jikalau kita perhatikan dengan seksama (bahkan selintas pikir juga bisa) dari hal yang paling sederhana sekalipun, semisal perwujudan makluk halus tersebut, dapat kita kenali perbedaannya dengan perwujudan yang terdapat di negara-negara lain. Di Jawa dikenal adanya Genderuwo, hantu pocong, kuntilanak, dsb. Tapi di negara lain yang dikenal adalah semacam Drakula (Barat), Mayat hidup (China), Mumi (Mesir), dsb. Masing-masing negara yang memiliki perbedaan kultur pasti memiliki ragam visualisasi makluk halus yang berbeda pula.
Untuk lingkup regional pun terjadi banyak contoh serupa, misalnya, anomatop suara binatang. Suara anjing bagi orang Jawa Tengah dan Jawa Timur terdengar (Guk-guk) sedangkan untuk orang Sunda cenderung (Gogh-gogh), Suara ayam jantan bagi orang Sunda terdengar (Kongkorongok) dan bagi kita pada umumnya tentu saja (Kuukuruyuuuk). Masing-masing pendukung kebudayaan akan cenderung mengklaim bahwa versi mereka lah yang paling benar. Mungkin jika diadakan tes mendengarkan suara anjing orang Jawa maupun orang Sunda tetap pada pendirian masing-masing.

Gejala serupa terjadi juga dalam kehidupan religi. Tanpa memandang universalitas dan kausalitas nilai religi yang ada saat ini, masing-masing menganggap keyakinannya paling benar, bahkan dalam satu agama sering terjadi selisih pendapat yang ujung-ujungnya saling bunuh. Dalam konteks ini interpretasi personal menjadi tercemar. Pada awalnya, interpretasi satu tokoh masyarakat berkembang menjadi opini yang kemudian dijadikan pegangan komunal. Karena para penganut agama memiliki sensitivitas yang tinggi namun di lain pihak juga mempunyai keterbukaan interpretasi terhadap kepercayaannya (interpretasi tekstual dan verbal) maka sering kali yang dituai adalah distorsi interpretasi yang dipaksakan untuk menjadi kebenaran; universalisme dipaksa menjadi satu hal yang parsial. Bukankah hal ini justru berarti bahwa nilai agama
dibatasi interpretasi pemeluknya, padahal agama adalah satu tuntunan yang berlaku sepanjang jaman? Bagaimana jika saya mengatakan bahwa seluruh personel wali songo generasi pertama sebenarnya merupakan keturunan tiong-hoa? bahkan bila kita kaji dari segi morfologi sekalipun kita dapat menyimpulkan bahwa Faletehan berasal dari klan Han yang berasal dari daratan China.

Tidak kalah menariknya, saya pernah pula terlibat diskusi kecil dengan beberapa dosen saya. Mereka mencemaskan satu sikap yang tampaknya akan segera berkembang menjadi kultur komunal dalam kehidupan keilmuan di Semarang pada khususnya. Pertama-tama, topik yang diangkat adalah permasalahan pemahaman terhadap kebudayaan. Mereka merasa aneh atas satu interpretasi yang bersifat individual namun berdampak komunal yang menyatakan bahwa kebudayan itu seolah-olah hanyalah artefak! Semata-mata sebagai sesuatu yang bisa diraba semisal patung kuno, dan yang bisa dilihat visualisasinya dalam atribut kekunoan semisal tari-tarian jawa. Dalam hal ini nilai-nilai universalitas kebudayan sangat diabaikan sehingga pengertian kebudayaan menurut versi ini tidak memasukkan tata sosial masyarakat kedalam bagiannya. Sungguh sebuah pemahaman yang teramat picik dan sempit! Padahal kebudayaan bukanlah sekedar artefak (terutama dalam arti benda riil yang bisa diidentifikasi) namun juga seharusnya mencakup proses perbentukannya dan budaya itu sendiri yang kemudian mendarah-daging dalam satu komunitas tertentu.

Bahasan yang kedua menyangkut perputaran tren keilmuan. Kali ini yang disorot adalah adanya booming analisis framing theory yang menyatakan bahwa setiap cara pandang seseorang pasti dibatasi dan ditentukan oleh frame tertentu. Teori ini dinyatakan baru dan up-to-date padahal sebenarnya beberapa puluh tahun silam teori ini telah mulai dikemukakan namun pada waktu itu pola pikir kalayak keilmuan belum bisa menerimanya dan kebetulan pemahaman terhadap teori ini mencapai puncaknya (di Semarang) pada saat kami melakukan diskusi tersebut!
Lebih jauh lagi, seringkali interpretasi personal akan dipaksakan menjadi sebuah interpretasi komunal, terutama jika si interpreter memiliki kekuasaan untuk memaksakan interpretasinya itu dan membuat interpretasi-interpretasi lain terbungkam. Di lingkungan civitas akademika sendiri sering terjadi kasus serupa. Banyak pendidik yang seharusnya membuka frame (wawasan dan pola pikir) siswa justru malah mematikan daya kritis anak didiknya dengan alasan bahwa mereka belum pernah mendengar teori-teori yang dikemukakan siswanya, padahal siswa mendapatkan teori dan pemikiran tersebut dari buku dan internet. Sehingga muncul pertanyaan, dimanakah letak tentatifitas ilmu itu?, di “perpustakaan” pengajar yang tidak punya banyak waktu untuk membaca atau kah di buku-buku baru yang memuat pemikiran baru pula?

Kondisi pemahaman dan pemikiran yang sedemiakian tentu saja akan sangat mempengaruhi pola apresiasi masyarakat terhadap sebuah karya dan dalam hal ini adalah The Da Vinci Code dan karya lain yang sejenis. Latar belakang publik paresiator sangat menentukan penilaian yang mereka kemukakan dan tentu saja jika penilaian tersebut didukung oleh kelompok besar dan berpengaruh maka jelas sudah nasib sebuah karya fiksi yang dikerjakan berdasarkan proses produksi-konsumsi seni itu; pemboikotan atau bahkan pembredelan dan pemasungan terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan sang kreator. Tampaknya publik Indonesia sebagian besar belum siap menerima pemikiran baru dan karya fiksi yang cenderung berbeda dari kredo yang selama ini mereka yakini. Inilah budaya Timur, kesantunan dan adat-istiadat harus dipertahankan, sekalipun dengan pertumpahan darah.

Friday, June 09, 2006

The Man who Sold The World

Name: CJ_Areef
Title: Director and screenplay writer
Well, I would like to tell my best friends latter on...
The best 3D animator : TOMI BUDIANTO
The best Editor : Bon-bon APIMerah
The Best Still Photograph : Mr. EDI
The Best Cameraman : Cool Edo
We are in a project to expose beautiful but dangerous culture of Javanese into widescreen movie. Please wait for our work and you won't regret it, I swear...

Thursday, May 04, 2006

NYANYIAN MERAH JINGGA



NyAnYiaN MERAH JINGGAarief

Hei, pernah ngebayangin seorang cewek cosmo bener-bener jatoh cinta ngga? Well, kamu-kamu akan segera tau gimana, tapi ini bukan cuman sekedar kisah klise yang ngga ada bagusnya buat dibaca! Lebih dari itu Guys, gue cuman pengen berbagi rasa ama kamu-kamu yang emang serius memaknai keindahan cinta and pedihnya penghianatan!
***

Minggu ini Arla berangkat ke Semarang, tumben cewek itu mau ke sana. Alesannya sih pengen ngunjungin sepupu jauhnya, Shinta. Padahal jauuuuh di lubuk hati cewek yang bernama Arla itu ngga peduli ama makluk yang namanya Shinta, malah - sebel kali! Sebenernya senin besok kuliah udah aktif tapi seperti biasa, dosen-dosen paling masih pada males ngajar di minggu pertama semester baru ini.

Dari Sukarno Hatta Arla berangkat menggunakan penerbangan Sabtu pagi and tiba di Ahmad Yani sekitar satu jam kemudian. Cewek itu sengaja datang awal; sekali-kali ingin juga ia keliling kota Semarang, toh ngga ada salahnya menghilang sesaat dari hiruk-pikuk Jakarta yang panas. Rencananya sih Arla akan stay di rumah paman Suryo sampe rabu pagi yang artinya ia masih punya waktu cukup lama buat hangout.

Dalam perjalanan menggunakan taksi menuju rumah paman Suryo di daerah Tembalang, pikiran Arla begitu sibuk merencanakan waktu tiga harinya di kota perbukitan itu. Ntar ia akan minta Doni nganter muter-muter ke mall, café, nonton di Twenty-one, (sekali-kali pengen liat tempat semacam itu di Semarang; pasti ngga serame di Jakarta! Lagian kabarnya cuman itu aja theater yang tersisa di Semarang) and... “La la la la... don’t funk with my heart...” suara Black-eyed Pies dari ponsel membuyarkan lamunan Arla. Segera saja ia mengangkat telfon. Dari seberang terdengar suara cempreng yang ngga ada duanya di dunia ini; siapa lagi kalau bukan Devi, sohib kentalnya,
“Hei hei hei... where r u now gal? ntar siang gue ke rumah Lo ya - ada berita baru neeh?”
“Sorry Dev, gue lagi di Semarang, baru pulang rabo kali?”
“Haaah? Lo di Semarang? Ngapain lagi?”
“Ada aja!” sahut Arla, “kan masih ada Lolita”.
“Yaaaah, rugii Lo, denger neh, si Ratih dapet gebetan baru, gillleeee kreeen Bo! Ntar malem kita-kita mo jalan bareng, biasaaa, siape tau temen-temen doi juga pantes buat digebet kite-kite, he he he...! eh beneran Lo ada di kota antah berantah itu?”
“Yup! Udah deh, ntar pulsa Lo selangit lagi! Tapi, eh sisain satu buat gue ye, awas jangan yang kampungan!”
“Bereeeees..., ntar si keren pasti telfon Lo deh, bye Arla mmmuuuaaaaccchh!”
“Bye Dev...” percakapan kemudian berakhir setelah 42 detik!

Ngga seberapa lama setelah Arla memasukkan ponsel ke dalam packing bag-nya taksi yang nganterin tuh cewek udah ngebelok ke jalan utama menuju kampus UNDIP Tembalang. Baru dua kali Arla ngelewatin tempat ini and sampai sekarang pun ia masih belum bisa ngertiin kenapa ada sebuah patung kuda and seorang pahlawan perjuangan dibangun di tengah jalan utama yang sempit itu. Namun seperti biasa, hal sekecil itu tidak begitu lama mengganggunya, pikiran cewek itu segera melayang kembali ke Jakarta and seolah menyaksikan wajah Ratih, Devi, and Lolita yang lagi tersenyum luueeebaaaar kaya Mupet di acara Sesame Street! Nyesel juga kenapa ia buru-buru berangkat ke Semarang! Padahal kalo ditunda sehari saja juga ngga ada ruginya kan? Sekarang ia musti ketinggalan skor ama sohib-sohibnya. “Seharusnya gue bisa mamerin gebetan baru gue ke mantan!” ratap hati kecil cewek itu.

Nggak pake nunggu lama, setibanya di rumah paman Suryo Arla telah bediri bak Lucy Liu di depan kamar Doni. Hanya dengan mengandalkan mimik wajah penuh arti tuh cewek udah mampu membuat si Doni ngeh ama maksud hatinya, “Iya, iya... aku mandi dulu ya?” respon Doni sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi. Sebel juga si Arla, hari gini pukul delapan seperempat seang masih ada makluk yang namanya manusia belum ngelakuin ritual manusiawinya? “Tapi ntar mampir bentar ke rektorat ya?” teriak cowok tengil itu dari kamar mandi. Arla tidak menanggapinya, ia tahu kalo Doni ngga mungkin keberatan nganterin dia liat-liat kota Semarang, soalnya banyak temen Doni yang muji tuh cowok yang menurut pikiran mereka berhasil ngegebet bidadari cantik dari surga! Hi hi... jayus amir!

“Sebel banget! Baru nemu cewek cakep yang ngga mo pergi pake BMW! Tega amat sih nyakitin kulit mulusnya!” batin Doni heran karena Arla tidak mau diajak jalan pake mobil keren! Tuh cewek malah milih diboncengin pake motor; biar bisa keterpa angin sejuk katanya, apa ngga salah, di Semarang ada angin jenis satu itu? Tapi toh sekeras apa pun Doni merajuk, tuh cewek tetep pada pendiriannya yang sekokoh batu karang; lima menit kemudian keduanya tampak melaju dengan mantapnya menuju rektorat kampus Undip Tembalang. Sebenernya Doni ngga langsung mengarahkan laju kendaraannya ke tujuan, cowok itu malah mengambil jalan memutar menyusuri jalur angkot kompleks kampus. Dalam hati sih pengen pamer juga ke semua kenalannya yang tersebar di semua fakultas; mumpung ada makluk istimewa yang saat ini sedang berada di jog motornya yang selalu mengkilat, meski ia cukup kecewa karena tampaknya Arla duduknya masih menjaga jarak dari punggungnya, dasar Buaya but jangan salah, Arla tahu trik murahan seperti itu!

***

Hampir semua orang yang berjalan gegas di koridor menuju Basket court seolah tidak mempedulikan sosok Aswa yang mungkin bagi mereka memang terlalu freak untuk diperhatikan, hanya sekelompok cewek cantik di ujung lorong yang tampak mencuri-curi pandang ke arahnya. Cowok itu sendiri sebenarnya juga ngga ambil pusing dengan keadaan itu. Ia telah terbiasa dianggap freak, nerd, atau apa lah di kampusnya. Dengan rasa antipati mendalam dilangkahkannya kaki melawan arus orang-orang yang antusias ingin menyaksikan pertandingan final three-on-three yang diadakan universitas. Kedua sorot matanya begitu nanar, saat ini hatinya sedang mengumandangkan gejolak Gate of Wrath William Wordsworth yang menemani kemarahannya pada seseorang yang sangat tidak bertanggung jawab! Ia merasa dipecundangi, ditelanjangi habis-habisan! Tas punggungnya serasa semakin kuat mendorongnya untuk segera enyah dari tempat itu, ia begitu ingin meluapkan kekesalannya pada lembaran-lembaran A3 yang penuh dengan coretan tangannya namun akhirnya dengan sedikit menyalahkan ketololannya, cowok itu segera mencoba meredam emosi and mulai menata langkah meninggalkan bayangan seseorang! Betapa bodohnya ia, pada jaman yang serba hedonistis ini mana ada cewek yang serius mau membaca tulisan tentang inovasi sistem pendidikan di negeri ini!!! Pada saat itu lah, dari sudut mata Aswa, sesosok gadis berambut sepunggung berjalan berbaur dengan orang-orang menuju Basket court. Langkahnya begitu bersahaja. Namun cowok itu telah memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, kali ini dengan helaan nafas penuh kebimbangan and penyesalan yang entah ia tujukan kepada apa. Ia begitu kesal ama Bargas yang telah menjebaknya dalam situasi itu; Yah, kenapa kemarin ia dengarkan omong kosong itu?!!

Sekarang pukul 08:17 and ruang loker Fakultas Sastra masih lengang. Semua orang tahu kalo pada awal perkuliahan seperti ini emang masih sepi, cuman ada beberapa event yang hanya dihadiri oleh mahasiswa yang emang hobi banget kumpul-kumpul. Aswa sendiri datang awal ke kampus cuman untuk ngambil salah satu dokumen yang ia perluin buat ngurus sesuatu di rektorat ntar senen and selembar kertas itu tertinggal di loker kampusnya. Sebenernya, ada alesan lain selain untuk keperluan yang satu itu, Aswa udah janjian ama seorang cewek yang kata Bargas tertarik banget ama konsep pemikiran tuh cowok. Katanya sih Rora, nama cewek itu, pernah ngebaca pemikiran Aswa di sebuah harian nasional minggu lalu. Aswa belum pernah ketemuan langsung ama Rora; ia tahu sosok gadis itu dari foto yang ditunjukin Bargas yang memperkenalkan Rora sebagai sepupu jauhnya dari Bandung. Ia datang ke Semarang khusus untuk cari bahan skripsinya yang membahas sistem pendidikan di negeri ini. Suasana menjadi sedemikian aneh, untuk beberapa saat cowok itu tercenung, setelah memasukkan dokumen yang ia cari ke dalam tas punggungnya then ngunci loker ia kemudian berbalik and di hadapannya kini ternyata telah berdiri seorang gadis cantik bermata indah plus berhidung mancung dengan rambut hitam sepunggung. Tak urung cowok tersebut sedikit kaget namun seper sepuluh detik kemudian ia segera dapat menguasai diri. Aswa menatap lekat cewek kuning langsat di depannya, begitu cantik namun ia bukan lah seorang cowok yang mudah terpesona, lalu tanyanya, “Aurora?”
Cewek itu tersenyum, tampak sekali sorot matanya mencuri-curi pandang, menikmati sosok Aswa yang emang keren, ada sesuatu yang membuatnya unik.
“Panggil aja Rora, sorry, aku telat” ujarnya kemudian.
“Ehm..., sebenernya aku udah ke basket court sih tapi kayaknya Aswa emang disiplin waktu ya? Untung aja Bargas udah ngajak aku keliling kampus Pleburan maren jadi.., yach, Rora pikir Aswa pasti ke Sastra”

Cowok itu akhirnya tersenyum, hatinya emang mudah meledak tapi juga cepet adem; pada dasarnya Aswa emang ngga suka konfrontasi ato apa lah namanya.
“Aku lebih suka Aurora”
“Maksudnya?”
“So sexy...” jawab cowok itu datar. Sunyi sesaat, terlihat mata Rora sedikit melebar mengekspresikan sesuatu.
“Baru Aswa yang mo susah payah nyebut nick yang agak belipet di lidah”
“Ayuk...” katanya sambil melangkah melewati Rora, seper sekian detik, saat bersimpangan, cowok itu masih sempat menatap mata sipit tapi belok di depannya; ada sesuatu yang harus ia akui tentang sosok Rora, khas cewek Sunda.
“Eeh tunggu... mo ke mana!?” Tanya Rora sambil melangkah cepat menyusul Aswa yang telah berada beberapa meter di depannya menyusuri koridor Sastra menuju basket court di sebelah fakultas hukum.
“Liat final three-on-three dulu, Aurora suka banget ama basket kan? Ngga ada ruginya nunda diskusi satu dua jam lagi”
“Really? Thanks buaanggeet!”
Tampak sekali kegembiraan meluap di wajah cewek itu. Rora emang cinta mati ama basket, di kampusnya ia menjadi senior klub basket cewek n setiap kali ngeliat pertandingan basket seolah dunia ini cuman milik dia sorangan!

***

Waktu telah menunjukkan pukul 09:47 and di sebuah sudut lantai dasar rektorat Undip Tembalang Bargas terlihat menghampiri motornya. Tampak sekali raut wajah tuh cowok memerah and itu berarti ia sedang kesal! Bargas menggeser paksa sebuah motor laen yang menghalangi parkirnya. Ia kemudian menarik motornya ke belakang dengan sedikit terburu and saat itulah ia merasakan bagian belakang motornya menabrak sesuatu. Rasa kesal yang telah nyampe ke ubun-ubun hampir saja meledak seandainya cowok itu tidak melihat senyum nyengir Doni and terutama sekali seorang bidadari kece banget yang ngebonceng makluk alien itu! Hilang seketika setan api di dadanya, sedetik kemudian raut muka Bargas berubah kilat bak bunglon; senyum ramah menghiasi wajah bulatnya tetapi tetap saja tuh cowok masih terlihat bagai kepiting rebus.
“Eh, Kamu Don, tumben pagi-pagi pada hari gini udah nyampe rektorat?” sambut Bargas sok ramah sambil mata tipu muslihatnya mencuri pandang ke arah Arla. Tapi cewek itu cuek bebek, membiarkan imajinasinya menyusuri kompleks kampus Undip Tembalang.
“Yeee, Kamu tuh yang tumben! Seumur-umur aku baru liat kepiting rebus gemuk nongkrong di rektorat!” balas Doni sedikit kesal.
“Biasa..., ngurus skripsi, kan ntar lagi kelar!”
Sampai mati pun Doni ngga bakal percaya kalo si Bargas serajin itu, pasti ada udang di balik batu!
“Eh, sodara Doni ya?” sapa Bargas ke Arla dengan pe-de.
“Sialan tuh anak, dari mana dia tahu Arla sodara aku?” batin Doni kesal, padahal sih anak kecil aja pasti tahu kalo Doni ngga bakal mungkin mampu ngegebet cewek cakep! Abisnya tuh cowok beraninya cuman No Action Talk Only! Semua cewek yang ia sukain seperti si Betty, Dina, Rani, and beberapa target laen udah kabur duluan begitu melihat tingkah konyol Doni saat ngedeketin mereka, masa manggil cewek yang ditaksir ‘Embak’? Emangnya silsilah keluarga?
“He-eh” jawab Arla singkat. Acuh, Ia kemudian mengambil ponsel and jari lentiknya menekan satu tombol shortcut, sebentar kemudian terdengar nada panggil dari seberang. Delapan detik ngga diangkat, dua kali cewek itu me-redial nomor tujuan namun tetap aja ngga diangkat.
“Masuk bentar yuk La!” suara Doni tiba-tiba menyadarkannya.
“Ngga deh, aku pengen liat seputar rektorat dulu, jarang-jarang ada kampus di tengah ladang” jawab Arla sekenanya. Masih terlihat sekilas kekecewaan membayang di wajah cewek itu. Ia kemudian kembali memasukkan ponsel ke handy bag.
“Yeee, daripada kampus Lo, swasta lagi!” Doni menjawab dengan sedikit kesal, jelek-jelek gitu tuh cowok punya tekad bela kampus tercinta.
“Eh, mo anterin Arla keliling kompleks ngga?” sambung Arla cuek ke Bargas and tentu saja tanpa perlu ada replay tuh cowok segera menganggukkan kepala dengan tegasnya! Sementara itu Doni udah ngeloyor tak bersemangat menuju sayap kanan rektorat diiringi tawa kemenangan Bargas, “Rasain, masa cuman aku yang lupa kalo sabtu administrasi rektorat tutup!”

***

“Yeee.... yeee..... yeeee....., Go.... go.... go.....!” Rora bener-bener lupa kalo saat itu ia sedang berada di negeri orang. Tuh cewek sibuk banget kasih support ke tim fakultas teknik yang lumayan jaoh ninggalin tim sastra! Sesaat kemudian cewek itu tersadar, dengan sedikit engga enak hati Rora memandang Aswa.
“Soorry, bukannya ngga ngedukung tim fakultas kamu...” Aswa hanya tersenyum tipis, sebentar kemudian ia merasakan M75 di sakunya bergetar sekali; SMS. Dibacanya cepat pesan yang barusan ia terima and setelah menulis balasan secukupnya ia kembali memasukkan ponsel ke saku jeans. Sekali lagi dilihatnya pandangan aneh Rora ketika kepergok nyuport tim teknik. Tak urung tuh cowok ketawa ngeliat mimik lucu cewek Sunda itu. Padahal seumur-umur ia ngga peduli ama basket ato olah raga apa pun juga! So..., jika tim fakultasnya ngedrop ngga bakalan ngefek sama sekali.

Sekitar lima belas menit kemudian pertandingan usai and ngga diraguin lagi, tim teknik unggul jauh di atas sastra. Sepanjang koridor Rora tak henti-hentinya mengomentari permainan bagus anak-anak teknik and Aswa hanya mendengarkan dengan kedua tangannya memegang handle rucksack di kiri-kanan bahunya.
“Aku ada tempat bagus buat diskusi” sela Aswa. Kembali Rora tersadar and kemudian, seolah ngga denger tawaran Aswa, ia berkata, “Gimana kalo kita ke McD dulu, Rora belon sempet sarapan neeh?”
“Gimana kalo ke warung tradisional aja? Anggap aja makan nasi timbel”
“Ehm, boleh juga tuh, lagian Rora belon pernah ngerasain yang bener-bener khas Jawa, emang menu apaan sih?”
“Ada deh...” jawab Aswa singkat seraya bergegas melangkah. Rora dengan segera menyusulnya. Seumur-umur ia baru ngejumpain cowok yang ngga ngebarengin langkahnya saat jalan, freak tapi bikin penasaran, Rora suka banget itu!

Selama sarapan ato lebih tepatnya brunch, Rora cuman sempet ngejelasin minatnya pada materi skripsi yang pengen ia garap secara selintas. Aswa juga tahu kalo diskusi ngga mungkin bisa dilanjutin hari itu; Rora dapet telfon yang mengharuskannya balik ke rumah keluarga Bargas namun sebelum berpisah Aswa memberikan sebuah kopi makalah yang barusan ia tulis. Tepat pukul 11:30 a.m. sebuah taksi membawa sosok Rora melaju menuju daerah Candi and tiga menit kemudian Aswa menghentikan sebuah taksi lain; sebelum masuk, sekilas dibacanya tulisan yang tertera pada kartu nama yang ditinggalkan Rora, “CHLOE ARIELLE AURORA - 081 320 64 62 79.”

***

“Hai hai hai... mbak Arla pa kabaaar? Aduuuh nyesel deh Shinta baru pulang dari acara kampus jadi ngga bisa nganterin Mbak jalan-jalan! Tapi mas Doni pasti udah dengan senang hati nganterin mbak kan?”
Ini nih tipikal orang yang seumur-umur ngga bakal bisa disukain Arla namun meskipun begitu tuh cewek tetep senyum ramah and ngelontar basa-basi, “Iya neh, Doni baek banget loh,” jawabnya singkat. Sementara itu Doni terlihat sedikit menegakkan tubuh (biasa kalo cowok lagi ada maunya) berpura-pura ngeliat berita di sebuah stasiun teve swasta, padahal sebenernya tuh telinga udah molor and lobang idungnya membesar (kata orang sih gitu kalo cowok lagi ge-er).
“Ngurus KRS juga Tha?” lanjut Arla sedikit aneh.
“Ngga sih, cuman barusan liat final three-on-three di kampus trus seang mpe sore rapat buat acara ospek ntar September, ehm... gimana cowok-cowok Semarang?”
“Not bad! Tapi belon ada yang sreg” jawab Arla sambil ngelirik Doni yang keliatan sekali melibas rasa dongkol di dadanya.
“Aku tadi ketemu cowok keren abis tapi belon pernah liat sebelumnya di fakultas hukum ato fisip!?”
“Makluk planet kali Tha?” sahut Arla sekenanya, “Paling rata-rata cowok kota kecil” bathin tuh cewek kemudian sambil berlalu ke kamarnya. Namun Shinta yang terlanjur antusias segera memburu Arla ke kamar (tuh anak emang berstamina tinggi saat ngomongin cowok) and di depan pintu ia berhasil menghentikan langkah Arla.
“Aduuuh mbak Arla ntar dolooo... mumpung masih anget neeh...” rajuk Shinta dengan wajah sok memelas. “Fiuuh” emang SSH BGT Susah Buangeeeet ngurus tuh makluk yang namanya Shinta; kolokannya minta ampun! Tapi tetep aza Arla ngeladenin sodara jaohnya itu. Tapi kadang emang si Shinta ngingetin Arla ama Devi; cerewet abis! Kembali ia ngebayangin Mupet di Sesame Street, “Sebel banget, kacian deh Gue, mati garing di Semarang!”
“Anaknya tinggi, face-nya charming banget gitu loh”
“Hah?” (tulalit ngga nyambung)
“Iyaa... sueeer dech Mbak! Kalo mbak liat sendiri wow pasti ikutan crushed juga tuh, ehm tapi Shinta ngga bakal kasih liat tentunya... tuh cowok kan gebetan aku hi hi hi...”
“Iya, iya... Lo tenang aja Tha, gue ngga bakal ngeganggu gugat cowok Lo” jawab Arla cepat and di dalam hatinya tuh cewek ngedumel abis, “Huh, jayus deh! Siape lagi yang mo ama cowok Semarang, ngga level deh... kecuali ma si secret!”
“... tapi, dia tadi ngga datang sendiri... ama cewek... but ga pa-pa kok, sebelom janur melengkung Euy!!!” Arla hanya menjawabnya dengan senyum tipis.
“Gue mo istirahat dulu ya Tha?” sambung Arla segera sambil masuk ke kamar and ngunci pintu secepat kilat, terpaksa deh Shinta manyun kaya supporter sastra tadi pagi.

Sekarang pukul 17:40 and Arla ngerasa lumayan capek setelah muter-muter seharian ma Doni but it’s okay, pikirannya lumayan bisa menyisihkan rutinitas Jakarta. Arla melepas sweater merah-putih kesayangannya lalu satu per satu menyusul T-shirt and jeans. Sebentar kemudian tuh cewek udah berada di depan cermin gede yang terpasang di sudut ruangan. Dengan senyum mengembang Arla mengagumi keindahan tubuhnya yang emang di atas rata-rata. Rambut hight-light merah ikal sepunggung membuat penampilan cewek metropolis itu semakin sexy. Sesekali matanya mengerling sambil membayangkan cowok-cowok keren yang berhasil ia taklukkan and sekaligus ia campakkan. Life is Beautiful and I deserve to have the right man!
“Tuut” suara nada sms tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Masih dengan hanya mengenakan underwear Arla menyambar ponsel and menghambur ke pembaringan.
“Kecuali yang satu ini!”
Segera senyumnya mengembang setelah membaca pesan cukup singkat di layar ponselnya, “besok aku tunggu di Pizza Hut at 11 a.m.”
“Yessss!” Kali ini Arla ngga bisa lagi nyembunyiin perasaan senengnya. Akhirnya si secret mo ngajak ketemuan. Tanpa sadar tuh cewek melompat dari tempat tidur and menari-nari di seputar ruangan kamar. Seumur-umur Arla ngga bakal ngebayangin bertingkah kaya gini. Kalo si Devi ato Ratih ato Cerryl ato Lolita tau tujuan sebenernya Arla ke Semarang, pasti reputasi ruling metropolice gal dia bakal jatoh and ini berarti no pride any more! Masa Arla kalah ma cowo? But, she’s in the city right now and she’s alone in a strange surrounding! Sepuluh menit kemudian cewek sexy itu kembali merebahkan tubuhnya ke pembaringan and kemudian dengan senyum lepas tetap menghiasi bibirnya ia menatap langit-langit kamar, pikirannya melayang kembali ke sebuah peristiwa kecil yang secara ngga langsung membuatnya berada di kota Lunpia sekarang ini.

***

Di sebuah sore, dua bulan lalu, matahari terlihat redup dari observation deck Batavia building. Dari ujung utara Jakarta terlihat sayup kawanan burung liar yang udah jarang banget dijumpai di kota metropolis itu. Di balkon terbuka sisi barat gedung Arla sedang memandang warna merah jingga yang ditorehkan mentari yang mulai menyusuri cakrawala malam. Entah mengapa senja itu ia begitu terbawa suasana yang belon pernah ada sebelumnya. Udah beberapa hari tuh cewek emang demen banget mandangin sunset dari puncak gedung pencakar langit itu. Udah tiga bulan ia ngadain riset and sekaligus magang kerja di sebuah kantor yang berada di lantai dua puluh. Sambil menunggu jam macet lewat, cewek itu suka banget ngehabisin waktu memandang semburat merah jingga yang seolah menyanyikan sebuah simfoni perasaan, tapi ia belon tahu pasti seperti apa hasil akhir dari komposisi alam tersebut.
Sore itu, perasaan Arla sedang ngga enak. Ada sedikit masalah ama pekerjaan freelance-nya sebagai seorang desainer di sebuah butik cukup terkenal di Jakarta. Tadi pagi manajer butik nelfon tuh cewek and ngungkapin keberatannya karena dua bulan terakhir Arla ngga begitu produktif lage and semua itu berawal dari kerjaan baru Arla yang mengharuskannya menghabiskan waktu hampir setengah ari per day di kantor International shipping tempatnya magang saat ini. Arla cinta banget ama creative work tapi dia juga ngga bisa ninggalin kesempatan bagus riset and sekaligus magang di perusahaan internasional itu! Lagian, major management yang ia ambil mensyaratkan sebuah riset yang outstanding buat bisa ngelulusin tuh cewek dengan predikat cumlaude. Lagian lagi, di butik, dia kan cuman desainer freelance yang jika ngga produktif juga no problem, but bagi sang manajer, keadaan itu ngga bisa ditolerir karena banyak pelanggannya yang suka banget ama hasil rancangan Arla but so what gitu loh! Payahnya lagi, Bobby juga protes karena dua bulan terakhir ini mereka jarang banget bisa pergi bareng karena kerjaan and kuliah Arla emang telah membuat cewek itu begitu exhausted, ujung-ujungnya pagi-pagi sebelom berangkat ke kantor mereka berantem and akhirnya putus begitu aja lewat telfon. Sebenernya Bobby tuh cowok yang lumayan charming but Arla ga suka cowok irrasional yang susah ngertiin situasi dia saat itu!
Dengan sedikit jengah Arla seperti biasa menatap lekat ke mentari senja yang tak lagi menyilaukan mata. Di saat itulah tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah SMS! Sesaat lamunannya buyar but beberapa detik kemudian pandangannya kembali menerawang ke cakrawala yang saat itu mulai meredup; ia tidak berminat membuka pesan singkat itu. Entah apa yang selanjutnya terlintas di pikirannya; ia sendiri tidak mengetahuinya dan tidak ingin mengingatnya. Satu hal, ingin sekali ia melontarkan kepenatan jauuuh ke batas pandang dan menerbangkan mimpi buruknya bersama angin malam yang mulai berhembus dingin dari selat Sunda. Waktu berjalan cukup cepat dan ketika matahari telah benar-benar menghilang, pandangan cewek itu kemudian menyusuri belahan lain langit yang mulai dihiasi kerlip bintang dan cahaya malam metropolitan. Setengah tujuh petang and seandainya perut cewek itu tidak berteriak lapar kedua kakinya pasti ngga bakalan melangkah meninggalkan observasion deck. Ketika berada di dalam lift Devi menelfonnya and kebetulan sekali ngajakin ketemuan di Hard Rock café, meski lelah n belon mandi, Arla mengiyakan ajakan itu. Segera setelah Devi menutup percakapan ia memasukkan ponsel ke tas namun secepat kilat cewek itu kembali menyambar ponselnya ketika teringat SMS yang belom sempat dibukanya tadi.

Menurut Kamu, ada ngga cinta sejati di dunia ini? Sorry, aku ngga kenal kamu and jika Kamu ngga mo jawab it’s okay, thanks.

Sender: +6281325859620

Message centre:
+6281100000

Sent:
04-June-2005
18:16:58

Sesaat Arla tercenung and kemudian dengan senyum dingin ditulisnya balasan singkat; Andaikan aja ada, gue yang pertama ingin ngedapetinnya. Tanpa menunggu delivery report cewek itu segera memasukkan ponsel ke tas and sibuk dengan pikirannya sendiri. Seolah yang tertinggal hanya beberapa orang di lift dan angka penunjuk yang berhenti di hampir setiap lantai yang dilalui peralatan modern itu.

***

Tiba-tiba udah jam 6 page n Arla ternyata tertidur hanya dengan mengenakan underwear!! Untung semalam ia belon sempet nyalain AC jadi ngga bikin mules tuh cewek. Terdengar Christina Aguilera nyanyiin You’re beautiful dari sebuah radio di atas meja sebelah bantalnya. Ternyata lage Arla terbangun ama alarm radio yang entah diset secara sengaja ato tidak oleh Shinta. Cewek itu melalui malamnya tanpa sebuah mimpi pun and it means that ia emang capek banget! Kemudian dengan sedikit malas dilangkahkannya kaki ke bathroom n ngga nyampe lima menit Arla dah selesai and kembali sibuk memandangi dirinya di cermin. Sekarang pukul 06:16 and dari radio terdengar suara cempreng penyiar yang keliatan banget ngos-ngosan.

“Ten-twelve RCT FM A Cool Station, Hi Coolsetters Gud Mornin, with me again Cool Jockey Areef on Sundae Workout and as usual I am late, late, and forever late!!! It’s hard to be on time recently right? Well, nevertheless I don’t want to apologize coz I’ll accompany you from now on until ten a.m, you should join me to 7474204 or your cooling sms to 08552661012... We’ll back to the next coolsong before you gemme your cooling call, only on Ten-twelve RCT FM A Cool Station”

BERSAMBUNG
Untuk istriku, satu-satunya kekasih yang mencintaiku dan yang aku cintai seumur hidupku.