Oleh: Arief Dermawan
(Ditulis berdasar berbagai sumber pustaka budaya)
Latar Belakang Sejarah Mataram Kuno
Prasasti Canggal yang berhuruf Palawa dan berbahasa Sansekerta (732) mengisahkan sebuah nukilan perjalanan pencarian jati diri umat manusia pada awal abad ke-7 silam. Di bawah kepemimpinan Raja Sanna, Mataram menjadi sebuah kerajaan adiluhung yang gemah ripah loh jinawi. Hasil bumi dan emas yang didulang dari tanah Mataram sangat dikenal di seantero Jawa Dwipa. Waktu terus bergulir hingga Raja Sanjaya menggantikan tahta kerajaan; ia adalah putra dari Sanaha, adik perempuan Raja Sanna. Raja Sanjaya meneruskan kearifan yang telah dicitrakan oleh pamannya sehingga Mataram semakin berkumandang dan semua kerajaan di sekitarnya takluk kepada Mataram, ia bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ibu kota kerajaan adalah Medang Kamolan yang memiliki sebuah legenda pertumpahan darah dua umat manusia di tanah Jawa yang dihiasi dengan pengabdian seekor anak manusia berwadag naga yang ditolak kehadirannya oleh sang bapa.
Prasasti Kalasan, lembaran lontar berbahasa Sansekerta dan bertatahkan huruf-huruf Pra-na-gari, menorehkan kisah baru Kerajaan Mataram mulai dari akhir abad ke-7 (778 M). Rakai Panangkaran yang beragama Hindu menggantikan tahta Raja Sanjaya. Pada waktu itu agama Budha mulai berkembang di Mataram. Perselisihan mulai muncul di setiap sudut kerajaan hingga akhirnya setelah pemerintahan raja yang bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran ini, keluarga Syailendra pecah menjadi dua. Sebagian memeluk agama Hindu dan sebagian lagi memeluk agama Budha. Kerajaan pun pecah menjadi dua, bagian Selatan dan bagian Utara. Keluarga Syailendra yang beragama Budha berkuasa di Jawa Tengah bagian Selatan, sedangkan yang beragama Hindu berkuasa di sekitar pegunungan Dieng dan Jawa Tengah bagian Utara. Raja-raja yang beragama Budha membangun candi-candi: Kalasan, Sewu, Sari, Pawon, Mendut dan Borobudur (Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, menyimbolkan sebuah kebersamaan hidup dan kerukunan antar umat beragama). Raja-raja yang beragama Hindu membangun candi-candi di pegunungan Dieng (Bima, Arjuna, dsb.). Sedangkan candi yang dibangun atas kerjasama pemeluk Hindu dan Budha adalah candi Ngawen di sebelah barat Muntilan. Candi tersebut bercirikan candi Budha.
Pecahnya Mataram tidak berlangsung lama. Pada jaman Rakai Pikatan, Mataram dipersatukan kembali. Hal itu disebabkan karena pada sekitar tahun 832 M Rakai Pikatan yang berasal dari Mataram Hindu menikah dengan Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga yang beragama Budha. Raja Samaratungga memiliki dua orang anak, yaitu Pramodawardhani dan Balaputradewa. Setelah Raja Samaratungga wafat terjadi perebutan kekuasaan antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa. Peperangan tersebut dimenangkan oleh Rakai Pikatan dan memaksa Balaputradewa menyingkir ke Swarnadwipa (Sumatra) dan akhirnya mendirikan kerajaan Sriwijaya.
Salah satu candi yang dibangun pada jaman perpecahan Mataram ini adalah candi Sambisari yang terletak di desa Sambisari, kelurahan Purwomartani, lebih kurang berjarak 12 km dari pusat kota Yogyakarta. Dari prasasti lempengan emas yang ditemukan dalam penggalian situs Candisari dapat diperkirakan bahwa candi tersebut dibangun pada tahun 812-838 M. Karena candi ini bercirikan candi Hindu Syiwais dan terletak di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan yang menjadi kekuasaan kerajaan Mataram Budha, kemungkinan besar candi tersebut dibangun setelah penyatuan kembali Mataram Hindu dan Budha (setelah tahun 832). Dalam sebuah sumber sejarah lain, disebutkan bahwa candi tersebut dibangun pada pemerintahan Mataram Hindu yang diperintah oleh Raja Rakai Garung dari dinasti Syailendra padahal sekitar tahun 812-838 M pemerintahan Syailendra yang berkuasa di Jawa Tengah bagian Selatan kemungkinan telah memeluk agama Budha (pasca Samaratungga) dan Raja yang memerintah saat itu adalah Raja Samaratungga, bukan Rakai Garung yang kemudian dilanjutkan oleh Rakai Pikatan, jadi keterangan tersebut perlu dipertanyakan.
Selain itu, candi Sambisari sendiri memiliki ciri bentuk bangunan khas candi Budha yang cenderung melebar dan terdiri dari beberapa tingkatan (meskipun tinggi sebenarnya diperkirakan hanya 7,5 m) namun demikian, relief dan simbolisme patung yang terdapat di dalamnya mencerminkan kisah yang tertera pada lontar-lontar Hindu Syiwais. Kemungkinannya, candi tersebut dibangun atas dasar toleransi umat beragama yang akhirnya terwujud setelah terjadi pernikahan antara penerus Mataram Hindu dan Budha pada tahun 832 M. Bentuk candi yang kecil juga menunjukkan bahwa bangunan tersebut bukan bangunan (kuil pemujaan) utama; mungkin sebagai hadiah persembahan saja.
Kemungkinan lain, candi Sambisari memang dibangun oleh Rakai Panangkaran (dan bukan oleh Rakai Garung; atau mungkin nama tersebut merupakan nama lain Rakai Panangkaran) sebelum kerajaan terpecah. Dugaan itu muncul karena tahun perkiraan pembangunan candi Sambisari adalah pada kurun 812-838 M (dan dalam literatur yang sama juga disebutkan perkiraan yang lebih baru, yaitu sekitar abad IX-X). Hal ini bisa saja terjadi karena pada awal abad kesembilan pemerintahan kemungkinan masih dipegang oleh Rakai Panangkaran yang beragama Hindu, namun ada satu hal yang telah jamak dipercayai oleh para ahli arkeologi yaitu bahwa candi Hindu tertua yang pertama kali dibangun di tanah Jawa adalah kelompok candi Dieng (abad VII-VIII) dan itu berarti bahwa generasi Mataram Hindu mulai membangun candi setelah mereka terpecah dari Mataram Budha dan pembangunan itu dimulai dari daerah utara Jawa Tengah. Jadi, kemungkinan besar, candi Sambisari memang dibangun setelah Mataram dipersatukan kembali oleh Rakai Pikatan pasca 832M yang juga berarti bahwa candi tersebut memang merupakan candi lambang penyatuan dan toleransi antar umat Budha dan Hindu.
Di bawah pemerintahan Rakai Pikatan Mataram diperluas dan dibangun. Wilayahnya meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia membangun candi-candi Budha dan Hindu di antaranya candi Plaosan. Raja Mataram Hindu yang terkenal adalah Balitung yang bergelar Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910 M). pada jamannya dibangun lah candi Prambanan yang selesai pada pemerintahan Raja Daksa, penggantinya. Setelah Raja Daksa terdapat beberapa raja pengganti yaitu Tulodong, Wawa, dan Mpu Sendok yang akhirnya memindahkan ibu kota Mataram ke Jawa Timur untuk mengantisipasi serangan kerajaan Sriwijaya (929). Mpu Sendok kemudian membangun wangsa baru yang disebut sebagai wangsa Isnaya.
Seri Candi Budha(1)
CANDI BOROBUDUR
Bagian Satu
Agama Budha masuk ke pulau Jawa kurang lebih pada abad keempat Masehi. Penyebarannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan panjang menuju kesempurnaan tersebut mulai membuahkan hasil pada sekitar abad kedelapan dengan dibangunnya candi Pawon dan Mendut yang hingga kini tetap menjadi bagian dari satu rangkaian prosesi besar hari raya Waisak yang puncaknya diadakan di candi Borobudur yang berada di kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Borobudur adalah puncak pencapaian kebudayaan wangsa Syailendra dan candi ini tidak hanya menjadi tempat untuk melakukan ritual peribadatan, tetapi sekaligus sebagai tempat untuk belajar dan mengikuti dharma Budha tahap demi tahap untuk mencapai penerangan sempurna.
Bentuknya yang detil menyiratkan ketakterbatasan ajaran Adi-Budha. Rancangan teras-terasnya, jumlah stupa dan pahatan relief menimbulkan fenomena yang hingga kini diupayakan untuk mengungkapkannya. Yang pasti, di balik kemegahan Borobudur tersembunyi fenomena yang luar biasa. Apa sajakah itu? Ikuti kisah menakjubkan yang belum pernah diungkapkan sebelumnya.
Tidak terdapat satu keterangan tertulis pun yang menyatakan dengan jelas kapan dan oleh siapa candi ini dibangun. Satu-satunya petunjuk yang diacu oleh para ahli purbakala adalah sebuah pesan singkat yang terukir di bagian dasar candi yang kini sebagian besar telah ditutup oleh lantai tambahan. Bhumisambharabhudira atau yang lebih dikenal sebagai Borobudur diperkirakan dibangun sekitar abad kedelapan pada masa pemerintahan Samaratungga, seorang raja wangsa Syailendra yang menganut aliran Budha Mahayana. Candi termegah di dunia ini diyakini sebagai persemayaman arwah wangsa Syailendra. Sebagai bukti kejayaan sebuah kerajaan yang mampu memberikan kemakmuran dan kedamaian terhadap rakyatnya, Borobudur dibangun dengan ketelitian luar biasa dan perenungan mendalam terhadap ajaran-ajaran Hinayana, Mahayana, dan Vajrayana. Pembangunannya diperkirakan memakan waktu lebih dari lima puluh tahun lamanya.
Borobudur dibangun berdasarkan gabungan dua konsep peletak dasar yang disebut mandala, yaitu garbhadhatu dan vajradhatu mandala. Garbhadhatu mandala adalah peletak dasar bangunan candi yang berbentuk teras-teras melingkar pada tingkat Arupadhatu yang melambangkan prinsip ajaran sang Budha. Sedangkan Vajradhatu mandala adalah peletak dasar bangunan candi yang berbentuk teras persegi pada tingkat Rupadhatu dan Kamadhatu yang melambangkan pengetahuan. Di bagian ini lah sejumlah 1460 panel relief tentang pengetahuan kebudhaan terpahat begitu indah.
Pada awal abad kedelapan, Amoghavajra, seorang guru aliran Mantrayana yang merancang kemegahan Borobudur kembali tiba di pulau Jawa setelah sekian lama mengembara di negeri China dan India demi tugas mulia untuk mengumpulkan dan menterjemahkan kitab-kitab suci agama Budha. Setelah melakukan perenungan mendalam terhadap ajaran yang termaktub dalam kitab Mahavairocana Sutra, Amoghavajra akhirnya berhasil menafsirkan konsep realitas yang disebut dharmadhatu yang terdiri atas dua mandala peletak dasar candi; Garbhadhatu mandala mewakili aspek relativitas dan Vajradhatu mandala mewakili aspek kepastian.
Garbhadhatu mandala terbentuk dari sebuah kotak persegi empat yang dibagi menjadi sembilan bujur sangkar. Setiap bujur sangkar kemudian dibagi lagi menjadi sembilan bujur sangkar yang lebih kecil. Dari lapis pertama hingga lapis ketiga dari luar, jumlah kotak yang terbentuk sama dengan jumlah stupa yang berada pada teras melingkar candi. Lapis keempat dan kelima melambangkan kerajaan sentral kebudhaan yang diwujudkan dengan stupa utama candi yang menjulang megah di pusat lingkaran. Vajradhatu mandala terbentuk dari bujur sangkar dan sebuah lingkaran besar yang disebut vajra. Di dalam lingkaran vajra terdapat lima buah lingkaran kecil yang masing-masing berdiameter sepertiga dari diameter lingkaran vajra. Bentuk bujur sangkar dipakai untuk menandakan batas-batas mandala sedangkan bentuk melingkar menandakan lingkaran vajra dan lima lingkaran Budha. Konsep bujur sangkar dan lingkaran ini lah yang kemudian melandasi bentuk teras persegi pada candi Borobudur.
Tidak diketahui secara pasti hingga kapan candi Borobudur menjalankan fungsinya sebagai simbol kemegahan wangsa Syailendra dan sebagai tempat suci agama Budha. Enam abad setelah pembangunannya baru terbersit sebuah kabar yang tercantum dalam kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca yang berangka tahun 1365 Masehi, itu pun hanya menyebut nama ‘Budur’ sebagai sebuah candi umat Budha. Bahkan, pada abad kedelapan belas, candi ini dikenal sebagai tempat keramat sumber malapetaka!
Menurut kitab Babad Tanah Jawi, pada tahun 1709 Masehi seorang tokoh bernama Ki Mas Dana memberontak kepada raja Amangkurat III yang bertahta di Kartasura. Namun pemberontakan itu gagal! Panglima kerajaan, Pangeran Pringgolaya, mengadakan pengejaran. Ki Mas Dana akhirnya tertangkap di candi Borobudur dan dibawa ke Kartasura untuk menerima hukuman mati!
Kitab Babad Mataram juga menceritakan sebuah kisah tentang kutukan yang ada pada candi Borobudur. Pada tahun 1757 Masehi putra mahkota kesultanan Yogyakarta yang bernama Pangeran Mancanegara bersikukuh melanggar pantangan untuk mengunjungi Borobudur dan melihat “seribu arca” yang ada di candi itu. Menurut kepercayaan, salah satu dari arca-arca tersebut melambangkan seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar, yaitu sang Kunto Bimo, namun sang pangeran justru ingin bertemu dengan sosok ksatria tersebut. Beberapa waktu setelah kunjungannya ke candi Borobudur sang Pangeran akhirnya jatuh sakit dan muntah darah sehingga menemui ajalnya.
Candi yang berada di ketinggian 265 meter di atas permukaan laut ini diapit oleh empat buah gunung berapi; Merapi dan Merbabu di sebelah Utara dan Timur-laut, Sindoro dan Sumbing di sebelah Barat-laut. Posisi tersebut membuat Borobudur sangat rawan terhadap bencana alam. Selain karena deraan panas surya dan hempasan hujan badai, letusan dahsyat gunung Merapi akhirnya memporak-porandakan Borobudur yang oleh para Syailendra dianggap memiliki kesucian setingkat dengan kuil Kunjarakunjadesa di India.
Selama hampir seribu tahun Borobudur terpendam dalam kegelapan hingga akhirnya kembali mendapatkan perhatian pada tahun 1814. Upaya restorasi beberapa kali dilakukan untuk memulihkan keagungan Sambharabudhira, namun pada tahun 1896 pemerintah yang berkuasa justru menghadiahkan batu-batu candi Borobudur kepada Raja Siam. Hadiah tersebut sebanyak delapan gerobag yang berisi sekitar tiga puluh buah batu relief, lima buah patung Budha, dua patung singa, satu pancuran makara, sejumlah kepala kala dari pangkal tangga dan gapura dan sebuah patung raksasa penjaga yang sangat istimewa dari bukit Dagi di sebelah barat-laut candi.
Pemugaran tahap pertama yang dilakukan oleh Van Erp, seorang insinyur kerajaan Belanda pada kurun 1907 hingga 1911 berhasil mewujudkan bentuk asli candi secara keseluruhan. Bahkan, ujung stupa utama candi berhasil direkonstruksi, namun karena Van Erp tidak yakin dengan bentuk asli dan jumlah payung yang melingkupi ujung stupa utama, bentuk rekonstruktif tersebut akhirnya dibongkar kembali, setelah dilakukan pemotretan. Setelah itu, beberapa upaya restorasi dilakukan pemerintah. Semua data penting tentang pelaksanaan proyek raksasa tersebut kini tersimpan rapi di gedung dinas arkeologi Borobudur ini.
Banyak yang dapat digali dari penggalan sejarah penting yang ada di candi ini. Arca-arca yang rusak atau bagian lain candi yang tidak utuh lagi sebagian disimpan di dalam gedung. Upaya pendokumentasian proses pemugaran tersebut tidak terbatas pada dokumentasi fotografi namun juga dalam bentuk film dokumenter.
Selama lebih dari dua belas abad, Borobudur tetap kokoh berdiri di bumi pertiwi. Kharismanya yang luar biasa seolah tidak terpengaruh oleh perjalanan panjang melawan ganasnya alam dan pekatnya waktu yang telah berhasil ditempuhnya. Selama itu pula, beribu kisah muncul dari bangunan kebanggaan umat Budha ini.
Matahari terbit dan kemudian tenggelam kembali. Hari berganti hari, tahun berganti tahun bahkan tak terasa dua belas abad telah terlampaui namun Borobudur tetap berdiri kokoh. Hanya upaya luar biasa lah yang mampu membuat bangunan bersejarah ini tetap dapat dinikmati kebesarannya hingga saat ini. Masih banyak fenomena yang harus diungkap kebenarannya.Lalu, kenapa Borobudur dibangun dalam bentuk seperti ini? Pelajaran apa yang terbersit dari relief yang terukir indah pada tembok candi? Dan Ritual apa sajakah yang diadakan di candi ini?
Jawabannya dapat Anda saksikan dalam episode candi Borobudur bagian kedua.
Seri Candi Budha
(2) CANDI BOROBUDUR
Bagian Dua
Pada episode kedua ini Anda akan kami bawa mengarungi candi Borobudur melalui sisi dunia penuh makna yang belum pernah diungkapkan sebelumnya. Kemegahan Borobudur telah dikenal luas di seluruh dunia, bahkan keberadaannya menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang diakui sebagai harta peninggalan sejarah umat manusia yang tak ternilai harganya. Selain ukurannya yang luar biasa, konsep penciptaan dan ajaran filosofis yang ada padanya membuat Borobudur dianggap sebagai sebuah monumen puncak pemikiran dan seni bangun pada masa wangsa Syailendra. Kisah apa sajakah yang terabadikan pada candi ini? Marilah kita telusuri jejaknya.
Secara keseluruhan, candi Borobudur adalah sebuah stupa yang dalam bahasa Sansekerta berarti gundukan tanah. Menurut legenda, sebelum meninggal dunia, sang Budha meminta kepada muridnya untuk membakar tubuhnya dan kemudian abunya agar ditutup dengan stupa. Untuk menunjukkan cara membangun stupa, sang Budha melipat jubahnya kemudian di atas jubah tersebut diletakkan mangkuk secara terbalik. Di atasnya kemudian diletakkan sebuah tongkat secara tegak. Dengan demikian, unsur-unsur dasar stupa meliputi dasar atau prasadha, belahan bola atau dagoba, dan puncak atau yati.
Secara garis besar, candi Borobudur dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu: kaki candi yang disebut Kamadhatu, badan candi yang disebut Rupadhatu, dan atap candi yang disebut Arupadhatu. Masing-masing dirancang dan dibangun dengan ketelitian luar biasa. Setiap sap melambangkan tingkatan dharma Budha yang disarikan dari berbagai kitab suci aliran Hinayana, Mahayana, dan Mantrayana. Masing-masing menyimpan kisah luar biasa yang hanya terpahatkan pada sosok megah ini.
Kamadhatu adalah lapisan paling bawah dari candi Borobudur. Bagian ini berukuran 123 x 123 meter dengan tebal 7 hingga 8 meter dan tinggi 4 meter. Susunan batu penyangga yang memiliki volume sekitar 11.600 m2 ini sebenarnya adalah kaki tambahan yang menutupi kaki aslinya. Kamadhatu merupakan perlambang nafsu dan keinginan makluk hidup. Pada bagian kaki candi yang sebenarnya, ajaran tersebut digambarkan dengan relief-relief Karmavibhanga yang berkisah tentang dunia samsara yang dijelaskan dengan hukum sebab-akibat; ketidakbajikan atau akusala akan menjadi sebab penderitaan yang disebut karma, kebajikan atau kusala adalah dasar untuk memahami ajaran yang lebih tinggi. Relief tersebut secara tidak sengaja diketemukan oleh Yzerman, seorang ahli dari Belanda pada tahun 1885. Menurut ajaran Budha, segala tindakan dan perwujudan saat ini merupakan buah perbuatan manusia itu sendiri dan lingkungan hidup sebelumnya. Semua makluk hidup akan mengalami reinkarnasi.
Secara keseluruhan, jumlah relief yang terpahat pada kaki candi berjumlah 160 buah. Jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan batin bernoda yang harus diatasi umat Budha guna meraih pencerahan. Namun, yang masih dapat disaksikan hingga saat ini hanya relief yang berada di kaki candi sudut tenggara yang sengaja dibiarkan terbuka sebagai bukti nyata keberadaan ajaran Karmavibhanga. Sebagian ahli memperkirakan penutupan kaki asli dengan lantai tambahan menunjukkan bahwa sebelum candi selesai dibangun pondasinya mengalami kerusakan sehingga harus ditopang dengan lantai tambahan. Sebagian lagi menganggap bahwa penutupan relief kisah Karmavibhanga tersebut sengaja dilakukan agar para peziarah pada jaman itu tidak melihat pahatan kisah samsara yang memang seharusnya tidak layak untuk diperlihatkan. Hingga kini bagian tersebut memang hanya disaksikan secara langsung oleh beberapa orang saja.
Rupadhatu merupakan tingkat kedua candi yang terdiri dari empat buah lorong yang dipenuhi relief indah. Pada tingkatan ini tersimpan berbagai ajaran mulia sang Budha yang memberikan tuntunan untuk memperoleh pembebasan sempurna dari segala penderitaan samsara. Tanpa berusaha membebaskan diri dari samsara, manusia tidak akan mungkin menghentikan berbagai penderitaan yang menerpanya. Pada dinding utama lorong pertama deret atas terdapat relief Lalitavistara yang berjumlah 120 panel. Relief tersebut menceritakan kisah hidup Budha di dunia.
Budha menitis ke dunia dalam diri Pangeran Siddharta yang terlahir di hutan Lumbini, Nepal. Tidak lama kemudian, ibunya yang bernama Maya meninggal. Sang ayah, Raja Suddhona, yang mengetahui kelak putranya akan menjadi seorang penguasa alam semesta atau Budha berusaha mencegah anaknya berhubungan dengan dunia luar yang penuh penderitaan. Meskipun begitu, Siddharta sempat tiga kali bertemu dengan kesengsaraan dunia dalam bentuk rasa sakit, usia lanjut, dan kematian. Untuk itulah kemudian Siddharta menyimpulkan bahwa bertapa bukanlah jalan menuju kesempurnaan, ia memutuskan untuk melakukan tafakur mistis.
Ketika Pangeran Siddharta sedang bersemadi di bawah pohon Bodhi, Mara beserta putri-putrinya datang mengganggu dan merayu sang pangeran agar gagal mencapai pencerahan sempurna. Namun sang Pangeran tidak menghiraukannya. Dalam tafakurnya Siddharta melihat seluruh alam semesta sebagai suatu sistem hukum yang terdiri dari berbagai bentuk kehidupan dan peran-perannya. Akhirnya Siddharta mencapai kearifan tertinggi yang disebut Bodhi atau pencerahan. Ia telah menjadi Budha dan mulai lah ia bersama kelima muridnya menyampaikan khotbah yang pertama di Taman Kijang Sarnath dekat Benares, India.
Relief di bagian bawah dinding utama berjumlah 120 panel, di bagian atas pagar langkan teras pertama berjumlah 372 panel dan di bagian bawahnya berjumlah 128 panel. Kesemuanya menggambarkan cerita kehidupan masa lampau Budha yang disebut Jataka dan cerita tentang kepahlawanan orang-orang suci yang disebut sebagai Awadana. Kedua kisah tersebut kemudian dilanjutkan pada lorong kedua sejumlah 100 panel relief.
Pada deret atas pagar langkan lorong pertama, terpahat indah sebuah kisah Jataka. Pada suatu hari, ketika berjalan bersama salah seorang muridnya di sebuah belantara, Bodhisattva melihat seekor macan betina muda yang baru saja melahirkan anak di dalam sebuah goa batu. Macan betina itu sangat letih dan lapar dan satu-satunya makanan yang tersedia adalah anaknya. Bodhisattva kemudian meminta muridnya untuk mencarikan makanan bagi sang macan, namun ketika si murid kembali dengan sekerat daging, ia mendapati gurunya telah mengorbankan diri menjadi santapan macan betina tersebut.
Pada dinding lorong utama deretan bawah terbersit kisah-kisah Awadana yang luar biasa. Panel satu sampai 20 menceritakan perjalanan asmara Pangeran Sudhana dan Peri Manohara. Konon, kerajaan Pancala Utara diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana sehingga wilayahnya disukai oleh Naga Janmacitraka yang memilih tinggal di sebuah telaga dekat ibu kota. Naga tersebut mampu memberikan hujan secara teratur sehingga penduduk kerajaan menjadi makmur oleh hasil pertaniannya. Kerajaan Pancala Selatan diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka sehingga para dewa tidak berkenan memberikan hujan. Penduduk yang menderita kemudian melarikan diri ke kerajaan Pancala Utara.
Raja kerajaan Pancala Selatan akhirnya menyadari kekeliruannya dan berjanji akan membawa Naga Janmacitraka ke wilayah Selatan dengan bantuan seorang ahli sihir. Sang naga yang mengetahui rencana ini meminta bantuan Halaka, seorang pemburu, untuk menggagalkan mantra si ahli sihir. Upaya tersebut berhasil dan atas saran seorang resi sang pemburu meminta imbalan tali laso yang biasa digunakan oleh kaum naga.
Suatu ketika Halaka mendapati seorang putri raja kerajaan peri Kinnara yang bernama Manohara sedang mandi di telaga bersama para dayangnya. Ia kemudian menangkap putri tersebut dan menyerahkannya kepada Pangeran Sudhana yang kebetulan sedang berburu di daerah itu. Pangeran Sudhana kemudian menikahi peri Manohara.
Ketika pangeran Sudhana berada di medan perang, pada suatu malam sang raja bermimpi buruk tentang putranya. Menurut penafsiran, Raja harus mengorbankan seorang peri untuk menyelamatkan sang Pangeran. Putri Manohara yang mendengar tentang hal ini kemudian melarikan diri terbang ke negeri asalnya. Ketika kembali sang pangeran didera kepedihan, ia akhirnya menyusul sang istri ke kerajaannya. Mereka akhirnya bertemu namun sang pangeran tidak betah berlama-lama di tempat istrinya sehingga pada suatu saat ia kembali ke Pancala dan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja.
Kisah Pangeran Sudhana dalam mencari jati diri dan kebenaran hakiki juga diceritakan pada dinding utama lorong kedua hingga keempat. Kisah tersebut terangkai dalam relief Gandawyuha dan Bhadracari yang cerita aslinya berasal dari India Selatan.
Pada lorong kedua di sisi atas pagar langkan terdapat sebuah kisah tentang penundukan raksasi Hariti oleh Siddharta. Raksasi yang dulu gemar memangsa anak manusia tersebut akhirnya bertobat dan kemudian mempunyai banyak anak. Oleh sebagian penduduk yang belum dikaruniai keturunan, tempat ini sering didatangi untuk meminta berkah dari Hariti, sang dewi Kesuburan.
Borobudur mengalami beberapa perubahan sewaktu relief-relief dipahatkan. Pada awalnya, para pencipta Borobudur hanya merancang 960 panel relief, yang terdiri dari 160 panel yang terukir di lapisan dasar dan 800 panel di lapisan-lapisan atas. 160 panel melambangkan jumlah batin bernoda dan 800 panel melambangkan jumlah suku kata suci yang dilafalkan saat menjalani delapan posisi semadi yang disebut mudra. Tetapi kemudian, karena adanya penutupan tingkat dasar dan penambahan pagar langkan pertama, relief kemudian ditambah sehingga secara keseluruhan berjumlah 1460 panel. Karena sejumlah 160 panel tertutup oleh lantai tambahan, relief yang dapat disaksikan hanya tinggal 1300 panel saja.
Selain relief, candi Borobudur juga dihiasi dengan 504 buah arca Budha. Hal ini sesuai dengan konsep aliran Mahayana yang mempercayai konsep banyak Budha dan Bodisattva. Arca-arca tersebut diletakkan dalam relung-relung di atas pagar langkan, di dalam stupa-stupa berlubang dan di dalam stupa induk candi.
Pada relung pagar langkan diletakkan 432 buah arca Budha yang secara simbolik mewakili kalpa atau ukuran waktu yang tidak terhitung yang harus dilalui para bodisattva untuk meraih kesempurnaan. Satu kalpa dapat disamakan dengan 432 juta tahun saat ini.
Arca Budha Akhsobya yang menghadap ke timur terletak di pagar langkan sebelah barat dari tingkat satu hingga empat. Sikap tangannya disebut bhumisparcamudra, dengan posisi tangan seolah menyentuh bumi dan merupakan gambaran episode ketika Budha meminta dewi bumi menjadi saksi atas kemenangannya terhadap Mara, yang berusaha menggagalkan usahanya menempuh jalan kebenaran.
Pada sisi selatan pagar langkan tingkat satu sampai empat ditempatkan arca Ratnasambhawa. Sikap tangannya varamudra yang mengisyaratkan kedermawanan dan pengabulan suatu permohonan.
Pada sisi Timur, menghadap ke barat, dari tingkat satu hingga empat ditempatkan arca Amittabha. Sikap tangannya dhyanamudra, mengisyaratkan ketika sang Budha bermeditasi di bawah pohon bodhi.
Pada sisi Utara menghadap ke selatan, dari tingkat satu hingga empat, ditempatkan arca Amoghasidhi dengan sikap tangan abhayumudra yang meminta seseorang agar jangan takut.
Sistem Dyani Budha di candi Borobudur terdiri dari lima Budha. Empat Dyani Budha menduduki empat penjuru mata angin, sedang Dyani Budha kelima menempati Zenith.
Pagar langkan kelima yang melambangkan zenith dihiasi dengan Dyani Budha Wairocana dengan sikap tangan vitarkamudra yang mengisyaratkan sikap berbincang-bincang atau memberi pengajaran.
Arupadhatu merupakan penggambaran tingkat pemahaman ajaran yang paling tinggi. Bentuk melingkar merupakan suatu gambaran kebenaran yang tiada berujung dan tiada pula berpangkal. Tingkatan ini menggambarkan keagungan para Dhyani-Budha atau yang juga disebut sebagai Budha meditatif. Mereka direpresentasikan sebagai 72 arca Budha yang bersemadi di dalam stupa dalam sikap tangan dharmacakramudra yang menggambarkan sang Budha waktu pertama kali memberikan khotbahnya. Di dalam stupa utama yang berdiameter 9,90 meter dan tinggi 7 meter bersemayamlah Budha pertama dan tertinggi yang disebut sebagai Adi-Budha. Budha tersebut memiliki sikap tangan bhumisparcamudra.
Konon, di bagian tengah stupa utama ini dulu terdapat lubang sedalam kurang lebih seratus meter yang fungsinya masih belum diketahui secara jelas. Sebagian ahli berpendapat bahwa lubang tersebut merupakan salah satu bagian dari sistem drainase candi, sebagian lainnya menganggapnya sebagai sebuah ruang ritual.
Salah satu arca Budha yang berada dalam stupa di sisi timur sebelah kanan tangga naik dipercayai dapat mengabulkan segala keinginan seseorang jika orang tersebut mampu menyentuhnya. Arca ini lebih dikenal sebagai Kunto Bimo, salah satu dari Pandawa Lima, tokoh satria dalam kisah Ramayana.
Perbukitan Menoreh yang membujur dari timur ke barat yang dapat dilihat di sebelah selatan candi jika diperhatikan dengan seksama akan nampak seperti seorang manusia raksasa yang sedang rebah dengan posisi mata memandang ke candi. Menurut kepercayaan warga Borobudur, bukit tersebut merupakan penjelmaan sosok Gunadharma, seorang ahli bangunan dari India yang dipercayai warga sebagai arsitek candi terbesar di dunia ini. Konon, setelah menyelesaikan pembangunan Borobudur, Gunadharma pergi dan berbaring di atas perbukitan Menoreh sambil menikmati keindahan bangunan hasil karyanya. Selain dari puncak candi, sosok tersebut juga dapat disaksikan dari simpang tiga bulatan Salaman bila cuaca sedang cerah.
Borobudur tidak sekedar indah dipandang mata tetapi juga mengandung ajaran-ajaran kemanusiaan yang dikemas apik dalam bingkai relief, stupa, dan perlambang lain yang belum terbaca. Kesakralannya semakin lengkap saat candi ini akhirnya diperbolehkan untuk dipergunakan sebagai tempat peringatan Waisak, sebuah prosesi besar agama Budha yang diadakan setahun sekali.
Borobudur telah beratus kali diabadikan dalam bentuk tulisan. Semua penelitian yang telah dilakukan hingga sekarang belum mampu mengungkapkan jati diri sebenarnya dari sosok megah ini. Sebagai bangsa yang memiliki warisan adiluhung kita harus selalu mengupayakan pelestariannya.
Seri Candi Budha
(3) Candi Mendut
Adalah salah satu candi peninggalan hegemoni kerajaan Mataram Budha (tepatnya kerajaan Bagelen) di kawasan Jawa Tengah bagian selatan. Meskipun bentuk bangunan candi cenderung bergaya Siwais namun candi Mendut sarat dengan nuansa religius Budha Gautama dalam meniupkan pencerahan bathin kepada para pengikutnya. Bahkan menurut Dr. de Casparis (dalam Meulen, 1988: 87), candi Mendut merupakan “Preparathory Bhumi” atau sebagai pusat awal mula berkembangnya agama Budha di tanah Jawa. Gentha, lonceng, dan payung suci menjadi lambang kebijakan sang Budha. Keheningan bathin dan kebajikan sang Gauthama (yang tertitis pada Sutasoma) mampu meruntuhkan angkara murka para raksasa-raksasi pemakan manusia. Tidak lah mudah menuju keteduhan pohon kalpataru; beribu rintangan nafsu angkara harus terlebih dahulu ditundukkan dan episode ini berusaha mengisahkan liku nestapa namun penuh cinta dari perjalanan panjang menuju nirwana tersebut.
Gendhing-gendhing Jawa memang terkenal kemistisannya. Kehalusan maknanya seolah mampu menembus relung hati kita yang paling dalam. Agar sempurna, para pande gamelan (undagi) pun harus mampu menyelaraskan harmoni tetabuhan tersebut. Selain sebagai penggetar jiwa, sebagian gamelan juga menjadi lambang suci bagi umat Budha pada jaman dahulu kala. Candi Mendut, yang berukirkan banyak genta, menjadi saksi bisu perjalanan titisan sang Budha Gautama dalam melakukan pencerahan umat manusia.
Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain tempat candi berada, desa Mendut telah cukup ramai oleh kemajuan jaman. Apalagi letaknya hanya sekitar sepuluh menit dari candi terbesar di Indonesia, Borobudur.
Candi Mendut dibangun pada abad VIII oleh wangsa Syailendra. Keberadannya menjadi salah satu simbol hegemoni kekuasaan Mataram Budha yang saat itu menguasai wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Setelah wangsa Sanjaya menyingkir ke Utara, para raja wangsa Syailendra yang beragama Budha mulai membangun candi. Candi Mendut merupakan titik tolak perjalanan pencerahan titisan sang Gauthama di Jawa Dwipa.
Seperti hal nya peninggalan-peninggalan kuno lain, candi Mendut juga terletak di bantaran subur pada jamannya. Bahkan candi ini diapit oleh dua buah sungai besar; sungai Elo dan sungai Progo. Tapi kenapa harus di sekitar sungai Progo? “Progo” berasal dari nama kota Prayaga atau Allahabad, yang terletak di tempat bertemunya “Tirtha” Sungai Gangga dan Yamuna. Kesucian Tirtha Prayaga ini disamakan dengan “600 juta ditambah 10.000 tirtha biasa,” sehingga dalam ketiga dunia tidak ada hal yang mampu melebihi kesuciannya, ia mengatasi segala tirtha lain. Sangat wajar bila akhirnya sang Sotasoma memilih tempat tersebut sebagai percandiannya.
Candi setinggi duapuluh enam meter ini secara keseluruhan terbuat dari batu Andesit. Sebagian candi Mendut pernah dipugar pada tahun 1905. Seperti halnya konsep percandian Budha, candi Mendut terdiri dari tiga bagian; bagian kaki, tubuh, dan atap candi. Hampir semua relief terlihat jelas, kecuali yang terdapat di bagian atas candi. Di berbagai penjuru terdapat banyak ukiran genta. Genta dan lonceng merupakan benda-benda suci sebagaimana halnya payung pada stupa Budha. Hal ini pula lah yang mengukuhkan candi Mendut sebagai peninggalan kerajaan Budha.
Lalu, bagaimanakah pangeran Sotasoma, titisan Sang Budha Gauthama menebarkan syair-syair pencerahannya?
Nguuni Dvaapaara ring Treta-Krtayuga
sirang sar(vva) dharmmaanggaraksa
Tan len Hyang Brahma-Visnv-Icvara
sira matemah bhuupatiing marttyaloka
Mangken praaptaang Kali Cri-Jinapati
manurun maatyana ng Kaala muurkka
(Dahulu pada masa permulaan jaman,
Menjelma lah sang pelindung Ketertiban Dunia,
Ia yang tak lain adalah dewa Brahma-Visnu-Icvara,
Menjelma kedalam wujud para raja di tanah Jawa.
Kini, setelah jaman menjadi rusak
Turun lah Ia untuk membunuh Kaala)
Pangeran Sotasoma mengemban tugas mulia di tanah Jawa. Liku perjalanannya diiringi upaya memasung angkara murka yang selalu merajalela. Perjalanan yang dipenuhi onak dan duri itu tidak lah mudah. Hal ini terbersit dalam sebuah kisah perjalanan tiga makluk dunia fana yang terukir indah pada percandian ini.Tersebutlah seekor kura-kura yang diterbangkan oleh dua ekor angsa menuju nirwana. Perjalanan tersebut sangat lah berat, sang kura-kura harus menggigit sebuah tongkat yang kedua ujungnya dicengkeram angsa. Saat kura-kura dan kedua ekor angsa tersebut melintasi segerombolan orang yang sedang berjalan, sebagian di antaranya menegur dan mengolok-olok mereka. Kura-kura marah dan menjawab olokan tersebut, akibatnya gigitannya pada tongkat terlepas sehingga ia terjatuh dan celaka karena ketidaksabarannya. Kisah tersebut menggambarkan bahwa selain ketekunan dan kekuatan, agar dapat mencapai nirwana, para penganut Budha harus mampu mengekang Kaala yang bersemayam di dalam dada mereka.
Ajaran Budha hanya lah membantu mencerahkan hati penganutnya yang sedang dilanda kegetiran hidup. Hanya pengorbanan dan kepasrahan lah yang dapat mengantarkan ruh menuju pencapaian akhir sang Budha Gauthama. Adapun pangeran Sotasoma, tidak hanya mengemban amanat untuk dirinya sendiri. Ia adalah titisan sang Gauthama, yang harus mampu menundukkan Kaala yang bersemayam di dada semua umat manusia. Dengan kelembutan hatinya, Ia menundukkan raksasi Hariti, sang pemakan anak manusia, sehingga patuh kepada dharma Budha.
Ngkaa tekang japa yoga siddhi regepen pangalaha
ri kacaktin ing Musuh; Tatva Cri vara-Bajrapaani
sira baayu pegengen I kadhiiran ing manah
mvang Lokecvara-cabda Caakyamuni-citta
gavayaken I tungtung ing hidep; byaktaavaas matemah
Bhataara paramaartha Jina kita divaangca bhasvara
(Berpeganglah pada mantra dan pada Yoga yang memberikan kesaktian agar dapat mengalahkan kejahatan. Tahan lah nafas, hakekat sang Bodhisattva Vajrapaani, dengan segenap keteguhan bathinmu; dan biarlah sabda suci sang Brahma menjadi pusat pengheninganmu. Pastilah pada suatu saat nanti Engkau akan menjadi Budha yang sesungguhnya, wujud penjelmaan yang lebih gilang-gemilang daripada cahaya)
Alunan mantra kebajikan yang ia lantunkan bahkan mampu meluluhkan hati sang Yaksa Atavaka, sosok raksasa pemakan manusia yang kini terkenal dengan sebutan Kuvera atau Jambhala, sang dewa kekayaan. Setelah pencerahan merasuki sukma dan mantra-mantra Budha menghapus dosa, maka terukir lah hiasan kahyangan yang menandakan penghargaan bagi siapa saja yang bertobat dan mampu mengekang hawa Kaala dalam dirinya. Perjalanan pun akan tiba di gerbang Kalpataru, pohon hayat sebagai lambang kesuburan dan keabadian.
Begitulah, sebuah perjalanan relijius pasti akan menemui rintangan. Namun jika kita membulatkan tekad dan memasrahkan segala upaya kepada Yang Maha Kuasa, segalanya akan terasa lebih ringan. Begitulah setidaknya yang diajarkan Sotasoma, titisan Sang Budha Gautama yang terpahat pada candi ini.
Seri Candi Budha
(4) Candi Pawon
Dilihat dari ciri-ciri ritus yang terukir padanya, candi Pawon adalah candi Hindu namun saat ini sebagian orang menganggapnya sebagai candi Budha dengan asumsi bahwa yang membangun adalah raja wangsa Syailendra dan merupakan satu kesatuan dengan candi Mendut dan Borobudur yang jelas merupakan percandian Budha. Candi Pawon memang merupakan salah satu candi yang tidak banyak diekspos dan diketahui datanya. Bangunan fisiknya pun tidak sebesar candi-candi lain di sekitarnya. Meskipun begitu terdapat sebuah fenomena luar biasa yang jika kita kaji mendalam dan penuh ketelitian akan menunjukkan sebuah pertanda besar tentang awal mula didirikan percandian di telatah tersebut. Jika candi Mendut merupakan candi penanda permulaan penyebaran agama Budha di tanah Jawa, candi Pawon justru kemungkinan usianya lebih tua dari itu; tepatnya ketika penguasa kerajaan yang membangunnya masih memegang teguh kepercayaan Civa. Candi Pawon secara umum diperkirakan dibangun pada sekitar akhir abad VIII sehingga ditengarai sebagai candi Budha, namun data lain menyebutkan candi tersebut dibangun pada akhir abad ke VII yang cenderung dikuasai oleh para pemeluk Hindu. Raja yang membangun candi tersebut masih dalam pertanyaan besar hingga saat ini. Di sekitar daerah tersebut memang ditemukan dua buah pusat kerajaan yang diduga salah satunya telah membangun candi Pawon.
Candi Pawon juga disebut sebagai candi Brajanalon (Bharajas – anala) yang memiliki kemiripan dengan nama raja kerajaan Mananggul (hegemoni Mataram kuno) yang bernama Mpu Anala yang juga ditengarai sebagai nenek moyang wangsa Syailendra. Selain itu, bahasa Sansekerta dari candi Pawon adalah candi Banon dan nama ini sesuai dengan nama seorang raja lain yang kerajaannya juga berada di sekitar candi Pawon dan kisahnya diceritakan dalam prasasti Plumpungan (752), yaitu raja Bhanu yang berarti matahari. Raja Bhanu merupakan keturunan Mpu Anala yang pertama kali memakai gelar Syailendra. Meskipun telah bergelar Syailendra namun raja Bhanu belum lah sepenuhnya beragama Budha sehingga percandiannya (Pawon) masih bercirikan Hindu. Sebuah kemungkinan lain adalah bahwa nama Banon itu merujuk pada bahan yang dipergunakan untuk membangun candi Pawon, yaitu batu bata.
Candi yang direstorasi pada tahun 1903 ini ditujukan untuk memuja dewa api/ matahari dan sebagian ahli berpendapat bahwa candi tersebut juga ditujukan untuk memuja dewa kuvera (dewa kekayaan menurut adat Hindu; dalam Budha disebut sebagai dewa Jambhala). Pada candi memang terdapat relief dewa kuvera/ kubera dan juga relief yang menceritakan tentang pemujaan terhadap api. Yang paling istimewa di sini adalah bahwa terdapat relief arca “Kereta Matahari” yang berukuran khusus dan diberi bentuk yang jarang didapati.
Meskipun terdapat banyak pendapat dan data yang tidak singkron, candi Pawon pada jamannya merupakan sebuah bangunan non Budha atau setidaknya merupakan bangunan transisi dari Hindu menuju Budha yang paling gemilang. Posisinya yang segaris lurus dengan candi Mendut dan Borobudur yang memposisikan Pawon sebagai sumbu utama tentu bukan lah sebuah ketidaksengajaan pembangunan umat manusia, hingga kini candi Pawon tetap terlingkupi fenomena yang sangat misterius.
Bagi sebagian orang api merupakan lambang keangkaramurkaan, namun bagi sebagian lainnya api adalah dewa yang menyelamatkan mereka dari nafsu-nafsu angkara dan memberi beribu manfaat dalam menjalani kehidupan fana.
Kali ini kita akan menelisik sebuah candi yang hingga kini latar belakang sejarahnya masih menjadi perdebatan para ahli purbakala; sebuah candi yang relief-reliefnya menceritakan tentang pemujaan terhadap sang api, sang surya, dan Kubera, dewa kekayaan. Candi tersebut terkenal dengan nama candi Pawon. Pawon, merupakan perlambang abu dan api yang menyala membakar nafsu angkara di relung hati umat manusia. Begitulah setidaknya yang terbersit dari salah satu arti percandian ini. Candi Pawon yang terletak di desa Brajanalon, kecamatan Mungkid memiliki satu keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan candi-candi lain di sekitarnya.
Candi Pawon adalah sebuah fenomena sejarah umat manusia yang meskipun kecil sangat lah sukar untuk diukur kedalaman maknanya. Candi Pawon juga memiliki nama lain yang sesuai dengan nama desa tempat bangunan tersebut didirikan; Brajanalon, dari kata Bharajas – anala yang artinya Kilau Sang Api.
Terdapat perbedaan pendapat tentang jenis percandian yang pernah dipugar pada tahun 1903 ini. Sebagian ahli menganggapnya sebagai candi peninggalan kerajaan Mataram Budha. Hal ini didasarkan pada dugaan bahwa candi tersebut dibangun oleh raja Bhanu, yang menurut Prasasti Plumpungan adalah seorang raja dari wangsa Syailendra yang namanya juga menjadi nama lain dari percandian ini, yaitu candi Bhanon. Selain itu, letak candi Pawon yang sangat sinergis dengan dua buah candi Budha lainnya, yaitu Borobudur dan Mendhut, membuat keyakinan tersebut seolah menemukan pembenarannya. Relief yang terukir pada dindingnya juga menceritakan sebuah kisah tentang pemujaan umat manusia kepada Kubera, sang dewa kekayaan. Dalam kepercayaan Budha dewa ini disebut sebagai Jambhala, sesosok dewa yang dipuja karena dipercaya membawa berkah kekayaan nirwana. Sebelum bertobat Jambhala adalah sesosok raksasa yang gemar memakan manusia, namun atas kebesaran hati pangeran Sotasoma, yang juga merupakan titisan sang Budha Gauthama, raksasa tersebut akhirnya diampuni dan mendapatkan penghormatan atas pertobatannya.
Pangeran Sotasoma sejak muda telah membaktikan dirinya kepada kebajikan, ilmu pengetahuan, dan kesenian. Beliau mencintai seloka-seloka kesusilaan dan seringkali memberikan hadiah-hadiah mewah kepada penyair-penyair sajak yang demikian. Suatu ketika, saat sang pangeran sedang bersenang-senang dengan pengiringnya dalam sebuah taman dekat kota, datang lah seorang penyair Brahmana. Ia adalah pencipta seloka-seloka yang masyur. Pangeran menerimanya dengan ramah-tamah dan dengan penghormatan layaknya seorang brahmana. Beliau bersedia mendengarkan lantunan seloka yang dibawa sang penyair kebajikan.
Namun sebelum sang Brahmana mulai bertutur laksana, tiba-tiba datanglah Kalmaasapaada, putra Saudaasa, si pemakan manusia. Konon, raksasa tersebut adalah anak Saudasa dari persenggamaannya dengan seekor singa betina saat ia berburu di sebuah belantara. Ketika ia menjadi raja, rakyatnya memberontak dan raksasa pemakan manusia itu pun meminta bantuan kepada para hantu neraka dan berjanji bahwa ia akan mempersembahkan seratus orang pangeran kepada mereka. Segera si anak singa mengangkat sang Sotasoma di atas bahunya yang kekar dan berlari kembali ke bentengnya. Lolongan serigala yang kelaparan, derak gagak yang menyeruak tidak menggetarkan hati titisan sang Gauthama.
Tibalah mereka di tempat sang Kalmaasapaada namun karena sang pangeran teringat penebar seloka yang belum sempat diberinya emas permata, tersedu-sedan lah ia. Putra Saudasa mengira hati besar sang pangeran telah jirih melihat pancang-pancang pemanggang yang seolah menjemput kematiannya namun sang pangeran mengingkarinya, ia kemudian meminta ijin kepada putra singa untuk sekedar kembali sejenak memberikan hadiah kepada brahmana yang kecewa.
Putra Saudasa pun menyetujuinya. Setelah memberikan emas permata sekedarnya kepada sang brahmana, sang Sotasoma kembali kepada si pemakan manusia. Heran lah Kalmaasapaada, ia akhirnya memohon kepada pangeran Sotasoma agar melantunkan seloka-selokanya yang mulia.
Ngkaa tekang japa yoga siddhi regepen pangalaha
ri kacaktin ing Musuh; Tatva Cri vara-Bajrapaani
sira baayu pegengen I kadhiiran ing manah
mvang Lokecvara-cabda Caakyamuni-citta
gavayaken I tungtung ing hidep; byaktaavaas matemah
Bhataara paramaartha Jina kita divaangca bhasvara
(Berpeganglah pada mantra dan pada Yoga yang memberikan kesaktian agar dapat mengalahkan kejahatan. Tahan lah nafas, hakekat sang Bodhisattva Vajrapaani, dengan segenap keteguhan bathinmu; dan biarlah sabda suci sang Brahma menjadi pusat pengheninganmu. Pastilah pada suatu saat nanti Engkau akan menjadi Budha yang sesungguhnya, wujud penjelmaan yang lebih gilang-gemilang daripada cahaya)
Setelah merasakan indahnya syair pencerahan, tertunduk lah nafsu angkara yang selama ini membara di dalam dada si anak singa. Ia pun bertobat dan akhirnya mendapatkan ketinggian akhlaknya sebagai sang Kubera/ Jambhala.
Meskipun raja Bhanu merupakan raja pertama yang menggunakan nama Syailendra, namun sebagian ahli purbakala berpendapat bahwa raja tersebut bukan lah seorang penganut Budha sepenuhnya. Untuk itu lah oleh pemujanya, percandian yang dibangunkan untuknya tetap menggunakan simbol-simbol agama Hindu. Disamping itu, pada masa tersebut, Hindu dan Budha mulai tersimbolkan sebagai sebuah makna; sebuah sikap toleransi antar pemeluk agama yang luar biasa.
Sebagian ahli lain menduga bahwa candi Pawon tidak dibangun oleh Raja Bhanu. Di sepanjang bantaran subur sungai Progo ini dahulu terdapat beberapa kerajaan yang menjadi nafas Mataram kuno. Bharajas – anala diduga kuat merupakan nama penghormatan yang dipersembahkan kepada Mpu Anala, sang raja Mananggul. Mpu Anala juga diduga sebagai cikal-bakal para raja wangsa Syailendra. Kata Bhanon sendiri juga berarti Batu Bata. Apakah arti nama candi ini hanya merujuk pada bahan bangunan candi Pawon yang memang terbuat dari batu bata? Tentu saja tidak; keberadaan dua nama raja yang dahulu pernah mendirikan pemerintahannya di sekitar candi Pawon tidak lah bisa dipandang dengan sebelah mata.
Kata Bhanon lebih condong diartikan sebagai Matahari, sebuah sosok lain api yang kesakralannya sangat dipuja di candi ini. Matahari adalah lambang dari sang Civa yang menerangi kegelapan hati pemujanya. Untuk itu lah, pada dinding candi ini dipahatkan sebuah arca “Kereta Matahari” yang istimewa besarnya dan diberi bentuk yang jarang didapati. Ini lah penghormatan tertinggi kepada Syiwa yang melebihi dewa Trimurti lainnya.
Bhinneka Tunggal Ika,
Tan Hana Dharmma Mangrwa
(Berbeda namun satu jua, tak ada ajaran kebenaran yang berbeda)
Keberadaan candi Pawon menjadi salah satu lambang awal mula pembauran pemeluk Hindu dan Budha. Meskipun diawali pertentangan, kebenaran tetap menemukan penyatuannya.
Meskipun tidak seberapa megah, namun candi Pawon ternyata memiliki kisah yang justru belum diketahui kejelasannya. Candi Pawon merupakan bagian dari sejarah peralihan kekuasaan Hindu ke Budha dan menjadi sumbu bagi keberadaan dua candi Budha di sekitarnya.
Seri Candi Budha
(5) Candi Sewu
Bagi para ahli purbakala candi Sewu merupakan kelompok percandian Budha yang keindahannya mampu menyaingi kemegahan candi Hindu Roro Jonggrang. Kali ini kita akan menelusuri jejak kemegahan candi Sewu yang menyimpan begitu banyak fenomena yang masih terselubungi oleh pekatnya jaman.
Candi Sewu letaknya kurang lebih satu kilometer dari candi Roro Jonggrang. Kedua gugusan candi yang berdekatan tersebut seolah melambangkan dua kekuatan besar yang masing-masing berusaha merebut lebih banyak perhatian. Namun sayang, kelompok candi Sewu belum sepenuhnya direkonstruksi ulang. Kelompok candi Sewu terdiri dari beberapa gugusan candi yang mengelilingi kelompok bangunan utamanya. Candi-candi tersebut adalah candi Lumbung, Bubrah, Kulon, Lor, dan Asu. Semuanya dalam keadaan yang menyedihkan.
Candi Lumbung
Dinamai Lumbung karena candi utamanya mirip dengan bentuk bangunan lumbung padi pada umumnya. Candi Lumbung terdiri atas sebuah candi induk yang dikelilingi enam belas candi perwara atau candi pendamping yang membentuk bujur sangkar. Dahulu, di sekeliling kelompok candi Lumbung terdapat sebuah tembok memanjang yang membatasi kompleks bangunan suci umat Budha ini. Namun karena pusat pemerintahan kerajaan Mataram kuno pada saat itu diperkirakan telah dipindahkan ke daerah Jawa Timur, candi ini kemudian terabaikan sehingga lapuk ditelan jaman. Selain dilingkupi oleh tembok keliling, kelompok candi ini dulunya juga dijaga oleh dua buah arca raksasa besar yang kini tidak lagi ditemukan di bagian ini.
Dinding luar candi utama dihiasi dengan arca-arca relief yang tidak lagi terlihat dengan jelas. Di bagian dalam candi utama terlihat bilik utama yang telah kosong. Di dalamnya dahulu diperkirakan terdapat arca Budha yang diapit oleh para Boddhisatva yang ditempatkan di dalam tiga buah relung di dinding belakang arca utama. Semua sisi tembok memiliki jumlah relung yang sama. Relung tersebut dulunya ditempati oleh Budha dan kedelapan Boddhisatvanya. Relung di bagian kiri dan kanan pintu masuk kemungkinan merupakan tempat Kuvera dan Hariti sang dewa kekayaan dan dewi kesuburan. Keenam belas candi perwara menghadap ke arah candi induk sebagai pusatnya. Di dalam setiap candi perwara dulu juga dipastikan terdapat arca-arca. Jumlah arca berbeda-beda pada setiap candi; kadang satu dan terkadang tiga. Seperti halnya pada candi induk, arca-arca tersebut sekarang telah pula lenyap karena kerakusan umat manusia.
Di dekat candi induk terdapat sebuah lempengan batu besar yang berpahatkan sebuah arca relief, tidak diketahui secara jelas tempat batu ini berasal namun yang jelas, lempengan ini dulunya pasti berada di dalam salah satu candi ini.
Candi Bubrah
Gugusan lain dari kelompok candi Sewu adalah candi Bubrah. Letaknya hanya beberapa meter di sebelah utara candi Lumbung. Seperti namanya yang berarti “terbongkar”, kelompok candi ini benar-benar rusak tak terawat. Kompleks ini terdiri atas sebuah reruntuk bangunan candi yang berdiri di atas landasan yang luas. Pada masa keemasannya candi Bubrah pastilah sangat megah. Hal ini dapat terlihat dari pahatan relief bermutu tinggi yang masih dapat dijumpai di bagian dinding candi yang masih utuh. Selain itu, hasil seni pahatnya yang saat ini kebanyakan berada di museum juga tidak dapat dipandang dengan sebelah mata. Seni arca tersebut berupa sejumlah makara istimewa yang belalainya adalah kepala ular atau kepala singa berparuh burung, serta arca-arca Dyani Budha yang duduk di atas singgasana berukirkan bunga seroja. Selain candi Lumbung dan candi Bubrah, masih terdapat beberapa gugusan candi lain yang mengelilingi kelompok utama candi Sewu.
Gugusan candi lain
Di sebelah barat kelompok utama candi Sewu terdapat sekelompok bangunan yang dinamai candi Kulon yang berarti Barat. Keadaannya tidak terpaut jauh dari gugusan candi Bubrah. Yang tersisa hanyalah reruntuk kemegahan sebuah tempat suci umat Budha.
Di sebelah utara terdapat gugusan candi Lor yang pula tidak jauh berbeda dengan candi lain di sekitarnya. Nama Lor berarti Utara, tepat seperti posisi candi dalam kelompok candi Sewu seutuhnya.
Di sebelah timur adalah kelompok candi Asu yang memiliki peninggalan paling utuh di antara kelompok percandian lainnya. Candi ini juga menjadi gerbang menuju kelompok utama candi Sewu. Di dalam candi Asu masih dapat ditemui sejumlah besar arca Kuvera yang terbuat dari perunggu dan beberapa arca lainnya. Penempatan arca Kuvera pada bagian gerbang utama sebuah candi telah lazim didapati di percandian Budha.
Meskipun kelompok candi yang melingkupi kompleks utama candi Sewu terkesan tidak beraturan namun sebenarnya candi-candi tersebut mengawali jalan masuk ke gugusan utama candi Sewu. Pintu masuknya berada di sebelah Timur. Melalui gerbang ini perjalanan ritual umat Budha akan memasuki halaman persegi empat yang berukuran 185 x 165 m yang di tengahnya berdiri kokoh gugusan utama candi yang terdiri atas sebuah candi induk yang dikelilingi oleh empat baris candi perwara.
Setiap baris candi perwara ini terdiri dari 88, 80, 44, dan 28 buah bangunan. Pintu masuknya kesemuanya menghadap ke arah luar kecuali yang ada pada baris kedua yang menghadap ke arah candi induk. Setiap candi perwara pada sisi tembok luarnya terpahatkan sejumlah 13 buah arca relief. Tidak semua candi perwara dalam kondisi utuh, hanya pada deretan tengah saja yang terlihat paling teratur.
Bagian dalam setiap candi perwara juga berbeda-beda. Perbedaan tersebut terletak pada jumlah alas dan relung yang menjadi tempat arca-arca; ada yang hanya memiliki satu alas dan ada pula yang lebih. Hingga kini hanya tersisa sejumlah 31 buah arca Budha dan sebuah arca Boddhisatva.
Di antara baris kedua dan ketiga terdapat sebuah halaman yang sangat lebar dan di sini ditemui sisa-sisa setidaknya lima buah candi apit. Candi yang terdapat pada kompleks candi Sewu berjumlah 249 buah. Meskipun jauh dari angka seribu namun jumlah yang sedemikian kiranya dapat terwakili oleh kata sewu yang berarti seribu.
Kelompok candi Sewu sisi-sisinya menghadap ke arah mata angin utama. Empat pasang arca penjaga yang memiliki tinggi 2,5 meter berdiri kokoh di pusat-pusat halaman di tempat gapura asli berada. Meskipun mereka membawa senjata gadha, golok dan ular, arca-arca tersebut tetap memiliki ciri khas arca Budha yang ada di tanah Jawa. Wajah mereka begitu bersahabat.
Di sudut Timur Laut terdapat salah satu candi apit yang telah direkonstruksi. Puncak stupanya melambangkan sifat azali sang Adi-Budha. Susunan stupa yang melingkupi atap candi begitu luar biasa. Terdapat hiasan relief yang penuh makna terukir indah di atas pintu-pintu masuk candi apit. Salah satunya adalah sekelompok penari wanita yang diarahkan dan diberi irama oleh pendeta-pendeta berjanggut. Relief ini secara tersirat menceritakan penyelarasan nafsu dunia dengan ajaran Budha. Para pendeta bertugas memberikan arahan dan pencerahan kepada manusia yang dipenuhi keinginan duniawi.
Bagian dalam candi utama memiliki sebuah bilik tengah dan empat buah bilik samping. Dari keempat bilik samping tersebut keindahan detil bangunan candi utama dapat tertangkap imajinasi dengan indahnya.
Selain sebagai jendela yang menghantarkan seribu doa ke nirwana, bentuk relung pada bilik-bilik samping candi utama juga memiliki keunikan daya cipta umat manusia yang luar biasa; desain yang dipahatkan sungguh serupa dengan karya arsitektur peradaban Islam yang lebih menonjolkan lengkungan khas pada ujung-ujung relungnya. Selain itu, ketelitian cita rasa peradaban Budha juga terlihat di pahatan jambangan bunga yang dahulu dipakai sebagai tempat arca utama.
Pada pintu sisi timur, terukir indah makara-makara yang luar biasa. Pada beberapa bilik samping masih dapat dilihat dengan jelas relief singa-singa beserta para pengendaranya.
Bilik tengah seharusnya ditempati oleh arca Budha Tertinggi dan keempat bilik sampingnya mungkin ditempati oleh keempat Dyani Budha beserta para istrinya dan empat Wajraboddhisatva yang mewakili aliran Vajradhatu.
Berdasarkan bentuk huruf yang ditemukan dalam prasasti batu tertulis yang ditemukan di sekitar candi perwara, dapat diduga bahwa kelompok candi Sewu ini dibangun pada sekitar pertengahan abad kesembilan, waktu yang cukup lama untuk sebuah bangunan peninggalan nenek moyang.
Meskipun sebagian besar kelompok candi Sewu masih belum direkonstruksi ulang, tetap saja keindahannya dapat dirasakan oleh siapa pun yang pernah mengunjunginya. Tatanan letak candi perwara dan utamanya sangat melambangkan konfigurasi konsep ajaran Budha. Seribu candi mengantarkan seribu doa umat ke nirwana.
Seri Candi Budha
(6) Candi Sambisari
Salah satu candi yang menjadi saksi bisu sebuah penyatuan Hindu-Budha setelah terjadinya perang saudara yang membuat Mataram kuno terpecah menjadi dua adalah candi Sambisari. Candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan dan ratu Pramodawardhani. Ini adalah sebuah lambang persaudaraan dan penyatuan.
Pada pemerintahan Raja Sanna bumi Mataram bak lautan emas yang mampu menyilaukan mata para dewa yang menyaksikan pendarnya dari nirwana. Kemegahan ini pun berlanjut ketika tahta kerajaan dikendalikan oleh Raja Sanjaya, yang juga keponakan dari Raja Sanna. Rakyat Mataram hidup makmur, aman, dan tenteram.
Seluruh kerajaan di sekitarnya takluk atas kearifan sang Raja. Ketika Rakai Panangkaran naik tahta, agama Budha mulai berkembang di Jawa Dwipa. Benih-benih perseteruan pun menjadi bara dalam sekam. Setelah pemerintahan Rakai Panangkaran, keluarga Syailendra pecah menjadi dua. Sebagian memeluk Hindu dan sebagian menganut Budha. Kerajaan pun pecah! Keluarga Syailendra yang beragama Budha berkuasa di wilayah Jawa Dwipa bagian Selatan; Sedangkan yang beragama Hindu menguasai bagian Utara.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Rakai Pikatan dari Utara telah meluluhkan bara dendam dua saudara. Sang raja mempersunting Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga. Kemudian, dibangun lah banyak candi Hindu dan Budha. Agung, sakral dan penuh makna. Sebagai salah satu persembahan cinta.
Sesuai dengan namanya, candi penyatuan ini terletak di desa Sambisari, kelurahan Purwomartani, lebih kurang 12 km ke arah timur dari kota Yogyakarta. Perjalanan dari kota Yogyakarta dapat ditempuh dengan bus jurusan Yogya-Solo dan berhenti di kilometer 10, tepat pada sebuah papan petunjuk menuju candi. Dari sini, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan alat transportasi lokal semisal ojek dan dokar. Jarak dua kilo seolah menjadi sebuah perjalanan panjang yang ditempuh para ksatria Mataram saat berpacu melawan dendam.
Candi Sambisari diketemukan sekitar tahun 1966 oleh Karyoinangun, seorang petani yang secara tidak sengaja membenturkan mata cangkulnya pada pucuk candi yang terbenam di tanah peladangannya. Berdasarkan penelitian geologis terhadap batuan candi dan tanah yang telah menimbunnya selama ini, candi setinggi tujuh setengah meter tersebut telah terbenam oleh material gunung merapi dalam letusan hebat yang terjadi pada tahun 1006 M.
Kompleks candi Sambisari memiliki empat buah bangunan candi yang dikelilingi oleh sebuah tembok penyatu dengan total luas 50x48 m. Bangunan utama memiliki ketinggian tujuh setengah meter dan berbentuk bujur sangkar yang berukuran 13,65 x 13,65 m pada bagian bawah dan 5 x 5 m pada badan candinya. Candi yang diperkirakan dibangun pada sekitar abad kesembilan dan kesepuluh ini merupakan lambang penyatuan antara kerajaan Mataram Hindu dan Mataram Budha. Pada candi utama, pintu masuk menghadap ke barat dan terdapat tangga dengan bentuk sayap pada sisi kanan-kirinya.Tepat di ujungnya, terdapat Makara yang disangga oleh dua buah tangan makluk kate.
Pada relungnya, terdapat patung Syiwa Mahaguru dan Lingga-Yoni yang menyimpan fenomena umat manusia dan jagad raya. Di bagian luar, Durga menjaga sisi utara; Agastya di sisi selatan; dan Ganesya di sisi timur. Diperkirakan terdapat dua patung penjaga pintu, Mahakala dan Nadisywara yang saat ini telah lenyap ditelan keserakahan umat manusia.
Tiga buah candi kecil lain di depan candi induk mengisyaratkan sebuah perlambang sejati yang belum terungkap secara keseluruhan. Mungkin merupakan jalan yang harus ditempuh umat manusia saat berbulat hati menyibak perjalanan sakral menuju nirwana. Namun sebagian besar kisah candi ini masih menjadi sekelumit bagian dari fenomena candi yang ada di tanah air kita. Candi ternyata tidak hanya bangunan semata. Perjalanan menuju nirwana seringkali justru menjadi filosofi utama yang harus kita pahami pemaknaannya.
Seri Candi Budha
(7) SITUS RATU BOKO
Dataran tinggi Ratu Boko merupakan sebuah peninggalan purba yang dipercaya merupakan petilasan keraton prabu Boko, seorang raja beragama Budha yang memiliki seorang putri yang kemasyurannya hingga saat ini masih terdengar, yaitu Roro Jonggrang. Kisah putri itu sendiri lebih melegenda pada latar belakang kisah yang ada di candi Prambanan atau candi Ciwa. Sebagian ahli menganggap prabu Boko sebenarnya adalah nama lain dari raja Samaratungga dan Roro Jonggrang adalah putri Pramodhawardhani.
Para seniman jaman Hindu memiliki gaya penceritaan yang luar biasa sehingga kisah yang mereka susun melegenda hingga sekarang. Jika ditilik dari jenis candi Prambanan yang tergolong candi Hindu, dugaan tersebut mungkin sekali benar. Para seniman menggambarkan kisah pernikahan Pramodawardhani yang beragama Budha dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu sebagai kisah Raden Bandung dan Roro Jonggrang. Secara implisit digambarkan bahwa sebenarnya Pramodawardhani yang beragama Budha tidak berkenan menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu namun karena sesuatu hal sang putri akhirnya menyetujui pernikahan tersebut. Setelah Samaratungga wafat, Rakai Pikatan kemudian menyingkirkan Balaputradewa, saudara lelaki Pramodhawardhani, dan kemudian membangun candi Hindu-Budha Plaosan yang ia persembahkan kepada permaisurinya yang beragama Budha. Sang putri pun dalam hati kecilnya menolak dan kemudian penolakan itu oleh para seniman Hindu yang memihak Balaputradewa digambarkan, dalam kisah yang ada pada candi Prambanan, menyebabkan kemurkaan Raden Bandung (Rakai Pikatan) yang kemudian mengutuk Roro Jonggrang (Pramodhawardhani) menjadi patung. Dalam kenyataannya, Pramodhawardhani memang harus hidup bagaikan patung, tidak berdaya melawan kekuasaan Rakai Pikatan. Sungguh sebuah seni ironi yang luar biasa!
Prambanan merupakan daerah yang menyimpan banyak sekali peninggalan purbakala. Beberapa bangunan luar biasa berada di tempat ini dan salah satunya adalah sisa kerajaan Ratu Boko, seorang raja Mataram Budha yang kisahnya memunculkan banyak legenda pada candi-candi yang berada di sekitarnya. Kisah apa yang berada di balik keindahan dan kemegahan reruntuk keraton tersebut? Mari kita telusuri bersama.
Untuk mengunjungi kawasan keraton Ratu Boko, dari pasar Prambanan kita harus mengambil jalan yang menuju ke arah Selatan. Jalan tersebut mengarah ke kaki sebuah bukit dan setelah menyusur ke arah Barat kita akan menemui jalan yang membelah bukit menuju puncak dataran tinggi Ratu Boko.
Dinamai Situs Ratu Boko karena diyakini keraton ini dulu diperintah oleh seorang raja Mataram Budha yang bernama Ratu Boko. Beliau adalah ayahanda Roro Jonggrang yang kisahnya melegenda pada candi Prambanan. Lalu, apa hubungan antara keraton Ratu Boko dan candi Prambanan dan siapakah sebenarnya Ratu Boko dan Roro Jonggrang itu sendiri? Mari kita ikuti fenomena Keraton Ratu Boko berikut ini.
Napak tilas penelusuran fenomena keraton Ratu Boko dimulai dari jalan landai yang membelah sebuah halaman mengarah ke tiga buah tangga yang menuju ke gapura berganda tiga. Di belakangnya terdapat gapura lain yang berganda lima dengan lima buah tangga dan sebuah beranda di depannya. Atap pada pintu tengah dari gapura berganda lima yang lebarnya lebih dari tiga meter ini belum diketemukan. Kelompok gapura yang serba besar ini memiliki susunan desain yang kecermatannya tidak tertandingi oleh gapura keraton lain atau candi manapun juga pada masa Jawa kuno.
Di antara kedua gapura ini terlihat tanda adanya sebuah halaman berukuran 170 x 20m yang dulunya dibatasi oleh gapura-gapura kecil pada setiap dinding sisinya. Lantainya terdiri atas lima jalur yang difungsikan untuk tujuan tertentu. Di ujung halaman sisi utara terdapat sebuah bangunan menjulang yang terbuat dari batu yang dulunya diperkirakan dipergunakan sebagai tempat pembakaran jenazah. Pada waktu itu pastilah terdapat sebuah tangga kayu yang digunakan untuk mencapai bagian atas bangunan ini.
Di balik gapura berganda lima, terdapat sebuah halaman lebar yang berukuran sekitar 160 x 160 meter. Di bagian ini dapat dijumpai berbagai macam sisa peninggalan kemegahan sebuah kerajaan.
Alun-alun ini dikelilingi oleh parit selebar 1,5 meter dan di atasnya terbentang kokoh tembok batu yang ditujukan untuk melindungi wilayah keraton. Pada sisi utara dan timur lahan dibatasi oleh tebing padas yang menjulang.
Di pojok timur laut alun-alun terdapat sebuah bangunan yang mirip dengan yang ada pada halaman sebelumnya. Namun, pada bangunan ini masih terdapat sebuah tangga yang memungkinkan kita melihat bagian atas bangunan. Sisa-sisa pembakaran yang ada di dalam perigi menggiring ke dugaan bahwa tempat ini dulunya memang digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah; namun pendapat ini belum sepenuhnya terbukti.
Diperkirakan tepat di sebelah bangunan tinggi tersebut dulunya terdapat sebuah kolam penampungan air. Di bagian tengah halaman ditemukan beberapa umpak dan pondamen yang diperkirakan dulunya berfungsi sebagai landasan penyangga sebuah bangunan besar yang terbuat dari kayu, yaitu istana utama Ratu Boko.
Konon, keraton Ratu Boko adalah sebuah keraton yang terkenal memiliki keindahan bak taman kahyangan. Para putri kedhaton nan jelita senantiasa menikmati taburan seribu bunga di pertamanan kaki nirwana tersebut. Keindahan keraton ini begitu termasyur pada jamannya. Banyak raja dan pejabat tinggi kerajaan lain menyempatkan diri menyambangi keraton ratu Boko untuk menikmati panorama keduniawian yang tersemat kepadanya. Pada suatu hari, salah seorang pangeran yang bernama Raden Bandung bersua dengan seorang putri nan jelita di sebuah taman saat ia berkunjung menikmati keindahan panorama keraton kahyangan tersebut. Sang pangeran pun terpana dalam keindahan cinta. Putri tersebut tak lain adalah Roro Jonggrang, salah seorang calon pewaris tahta keraton Ratu Boko.
Konon, Raden Bandung yang telah jatuh hati kepada Roro Jonggrang kemudian meminang putri Kahyangan tersebut. Dengan penuh keyakinan ia menemui sang Prabu Boko, ayahanda Roro Jonggrang. Karena tekanan dari Raden Bandung yang memiliki kekuatan pasukan perang yang besar, Ratu Boko akhirnya tidak berdaya menolak pinangan Raden Bandung. Sang putri yang mengetahui nasibnya telah ditentukan berusaha menemukan cara agar pernikahan tersebut tidak terjadi. Roro Jonggrang berusaha menggagalkan pernikahannya dengan Raden Bandung namun upayanya justru membuatnya menanggung kutukan yang legendanya sangat terkenal di candi Prambanan.
Sementara itu, sang Prabu Boko yang merasakan kepedihan atas takdir yang menimpanya bersikukuh untuk mengasingkan diri dari keramaian dunia fana ini. Beliau kemudian mengasingkan diri kedalam bilik persemadian yang sengaja ia pahatkan pada dinding padas di bagian belakang keratonnya yang megah.
Sebagian ahli menganggap ratu Boko sebenarnya adalah raja Samaratungga, Roro Jonggrang adalah Pramodhawardhani, dan Raden Bandung adalah Rakai Pikatan. Kisah tragis mereka digambarkan secara indah oleh para seniman Mataram Hindu yang memang terkenal pandai dalam membuat perumpamaan dan kiasan.
Jika ditilik dari jenis candi Prambanan yang tergolong candi Hindu, dugaan tersebut mungkin sekali benar. Para seniman menggambarkan kisah pernikahan Pramodawardhani yang beragama Budha dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu sebagai kisah Raden Bandung dan Roro Jonggrang. Secara samar digambarkan bahwa sebenarnya Pramodawardhani yang beragama Budha tidak berkenan menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu namun karena sesuatu hal sang putri akhirnya menyetujui pernikahan tersebut. Setelah Samaratungga wafat, Rakai Pikatan kemudian menyingkirkan Balaputradewa, saudara lelaki Pramodhawardhani, dan kemudian membangun beberapa candi Hindu-Budha semisal Plaosan dan Ngawen.
Setelah waktu berlalu, pengganti Rakai Pikatan kemudian membangun candi Prambanan dan oleh para seniman yang bersimpati kepada Pramodhawardhani dan Balaputradewa percandian tersebut digunakan sebagai media kisah ironi mereka.
Untuk melihat kelompok situs lainnya kita harus menyusuri tembok gapura berganda lima menuju selatan lalu membelok ke timur. Kita kemudian akan tiba di desa Dawung.
Dari sisi selatan desa, terlihat dengan jelas sosok Landasan Pendopo yang besar. Landasan yang dulu di atasnya berdiri sebuah pendopo megah ini berukuran kurang lebih dua puluh meter per segi. Di sekitar tempat ini terlihat batu-batu pondamen berserakan, bahkan sebagian telah tertutup ilalang dan tertimbun tanah pertanian.
Di sebelah Timur Laut tampak sebuah dinding batu yang dipahat berlobang-lobang. Fenomena apakah yang tersembunyi di balik relung tersebut? Di sisi timur landasan pendopo, terdapat sebuah gugusan peninggalan lain yang berupa reruntuk gapura, tembok, dan kolam.
Lebih jauh ke sisi timur, semakin banyak ditemukan peninggalan purbakala yang luar biasa indah. Para penduduk sekitar menyebut tempat ini sebagai keputren, tempat para putri kedhaton memanjakan diri.
Di tempat ini ditemukan pahatan batu yang berbentuk seperti genderang yang berjumlah enam belas buah. Genderang tersebut dihiasi dengan ukiran binatang yang berjajar. Setiap batu memiliki ukiran yang berbeda. Apakah ukiran tersebut menafsirkan perlambang kehidupan dan ilmu pengetahuan? Hingga kini para ahli purbakala belum mampu menjawab pertanyaan ini.
Pada dinding batu karang yang menjulang terdapat relung-relung bilik. Relung tersebut sengaja dipahatkan untuk tujuan tertentu. Ruangan-ruangan tersebut menurut cerita merupakan tempat sang raja mengundurkan diri saat mengheningkan cipta memohon petunjuk kepada para dewata.
Dari tebing yang dipenuhi relung persemadian tersebut, perjalanan masih dapat diteruskan menuju puncak dataran tinggi yang juga merupakan kaki nirwana kahyangan. Dari sini kita dapat menikmati pemandangan indah sekitar Prambanan yang menghampar luas di bawah dengan gugusan megah candi Roro Jonggrang sebagai sumbunya.
Kepedihan tidak hanya milik rakyat jelata. Para raja dan keluarganya juga seringkali harus menahan rasa perih yang mendera. Terlepas dari itu semua, keraton Ratu Boko merupakan sebuah peninggalan kemegahan pada jamannya. Letaknya yang berada di puncak bukit seolah melambangkan jembatan menuju nirwana.